Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 69


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi, Bara duduk di kursi untuk menunggu panggilan.


“Pak Bara,” panggil petugas kepolisian.


“Iya.”


“Mari ke ruangan saya.”


Bara mengangguk, lalu mengekor Polisi tersebut.


“Silahkan duduk Pak Bara.”


“Iya terima kasih.”


“Kita langsung saja Pak. Apa Pak Bara pernah mempunyai musuh sebelumnya?”


“Seingat saya, saya tidak pernah mempunyai musuh.”


“Dari pantauan CCTV jalanan, istri anda diikuti oleh mobil sejak keluar dari rumah dan kecelakaan ini murni disengaja,” Ucap Polisi memperlihatkan rekaman CCTV dari layar komputer.


“Saat ini masih dalam pengejaran pelaku. Pelaku sudah kami lacak keberadaannya, masih sedikit kesulitan karena pelaku melarikan diri ke luar daerah yang terpencil.”


“Saya menyerahkan semuanya kepada pihak kepolisian Pak. Sebelum itu, saya juga mendapat pesan ancaman, dari nomor yang tidak saya kenal.”


Bara memperlihatkan pesan kepada Polisi, melalui ponselnya. Alangkah terkejutnya, saat polisi memperlihat pesan dari ponsel istrinya, Bara juga melihat nomor yang sama mengirim pesan kepada istrinya.


“Ini nomor yang sama? Berarti pelakunya orang yang sama juga! Saya heran, apa motif pelaku hingga ingin menghilangkan nyawa istri saya?!”


“Saat ini masih dalam penyidikan, ketika pelaku sudah tertangkap semua akan terungkap Pak. Kami juga sudah melacak nomor tersebut. Namun, nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.”


“Apa anda mempunyai masalah sebelumnya?”


Bara terdiam sejenak, lalu menggeleng kepalanya.


“Apa ini ulah Paman dan Reyhan?!” batin Bara. Namun, ia mencoba menepis pikirannya.


“Jika benar itu pembunuhan berencana, pelaku akan dikenakan pasal 340 KUHP.”


“Semuanya saya serahkan kepada pihak yang berwajib Pak.”


“Baik Pak Bara Terimakasih atas waktunya, kami akan memberikan kabar selanjutnya.”


Bara mengangguk lalu mengulurkan tangannya.


“Terimakasih banyak Pak, sudah membantu saya,” ucap Bara dengan ramah.


“Sama-sama Pak Bara. Ini sudah jadi kewajiban kami untuk melayani masyarakat.”


Bara tersenyum mendengar tutur Pak Polisi tersebut, lalu ia berpamitan keluar dari kantor tersebut.

__ADS_1


Didalam mobil, Bara mencoba menghubungi Pamannya. Berulang kali ia menghubungi nomor Pamannya, tapi tetap sama hanya operator yang menjawab.


“Kenapa nomornya tidak aktif?” gumamnya.


“Jika benar ini ulah Paman, aku tidak akan mengampuni mu Paman!” geram Bara.


Bara menginjak gas mobilnya, melaju kearah apartemen milik pamannya.


Sesampainya di apartemen milik Pamannya, ia tidak mendapati Pamannya disana.


“Bi. Apa Bibi tahu kemana perginya paman? Aku sudah menghubungi nomor telepon kantor, katanya Paman hari ini tidak masuk kantor.”


“Pak Ridwan dan Reyhan ke luar negeri Tuan, kata Tuan Reyhan dia akan menikah besok,” sahut asisten rumah tangga Pak Ridwan.


“Menikah?” tanya Bara heran.


“Dengan siapa Bi?”


“Saya kurang tahu Tuan.”


“Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak Bi, saya permisi,” pamit Bara.


Sepanjang perjalanan menuju lift, ia merasakan ada yang aneh dengan pernikahan Reyhan yang mendadak. Bahkan Paman atau Reyhan tidak memberitahunya.


Bara kembali mengemudikan mobilnya, menuju tempat tinggalnya. Karena sejak kemarin ia belum mandi dan menggantikan pakaian yang ia kenakan.


Sesampainya di rumah, Bara langsung naik ke kamarnya di lantai atas. Ia masuk ke mandi, karena merasakan sangat gerah ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, setelah itu baru ke rumah sakit menemui istrinya.


Di negeri singapura, Dion yang baru saja menyelesaikan sarapannya. Ia mendapatkan kabar dari anak buahnya, jika Nisa baru saja mengalami kecelakaan.


Dengan tergesa-gesa ia lari ke kamar, menemui Erwin yang baru selesai mandi.


Ceklek ! Suara pintu terbuka cukup keras.


“Buset! Ngapain sih? Kau tidak lihat aku sedang berpakaian! Apa kau ingin mengintipku?!” celetuk Erwin yang menutup bagian dadanya, karena ia belum memakai baju.


“Siapa juga yang mau mengintip!” gerutu Dion.


“Terus ngapain buka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu?!”


Dion terdiam sejenak, bukan memikirkan perkataan sahabatnya. Melainkan bagaimana cara memberitahu Erwin jika saat ini Nisa sedang berada di rumah sakit. Biar bagaimana pun, Nisa adalah wanita yang sangat Erwin cintai walaupun tidak bisa memilikinya.


“Kenapa diam? Aku benarkan, kau ingin mengintipku?!” tanya Erwin penuh selidik.


“Tidak ada yang benar. Aku hanya memastikan kau masih bernapas, kau lama sekali mandi!” sahutnya.


“Dasar tidak waras!” gerutu Erwin.


Ia kembali mengenakan pakaiannya.

__ADS_1


“Kau ngapain masih disini?! Mau menyusui denganku?!” tanya Erwin terkekeh.


“Hah! Tidak. Kau ini semakin hari semakin aneh!” gerutu Dion keluar dari kamar Erwin dengan sedikit membanting pintu.


Terdengar suara gelak tawa Erwin dari dalam kamar.


Dion kembali duduk di ruang tamu, sambil berselonjor kedua tangannya menjadi bantalan. Erwin yang baru datang juga ikuti duduk di kursi tersebut.


“Huft! Aku malas sekali ke rumah Paman,” ucap Erwin bernada malas.


Karena pekerjaan mereka sudah selesai, ia akan bersantai dan ingin berjalan-jalan pikirnya. Namun, ternyata itu hanya khayalan belaka.


“Kenapa sih, Paman tiba-tiba menyuruhku datang ke rumah? Aku sungguh malas sekali.”


Rasanya Dion ingin menceritakan niatan Pamannya menyuruhnya untuk datang ke rumah. Tapi, ia sudah berjanji kepada Nadia untuk tidak mengatakan kepada Erwin, karena sebuah kejutan. Jika Erwin akan di kenalkan dengan gadis yang cantik, setara dengannya lebih tepatnya.


“Aku tidak tahu. Mungkin saja Paman merindukanmu, kau akan sudah lama tidak bertemu dengannya.”


“Iya juga sih.”


“Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Erwin berdiri dari tempat duduknya.


“Kenapa kau diam?” tanya Erwin melihat sahabatnya masih duduk di posisinya.


“Kau mengajakku?”


“Bukan! Aku mengajak rohmu!” celetuk Erwin kesal.


“Kau ini.”


“Ya tentu saja aku mengajakmu, bodoh! Memang siapa lagi ada di rumah ini, selain kita berdua!”


“Kau ini selalu saja marah-marah! Aku hanya ingin bertanya, kau yakin mengajakku. Sedangkan kau tahu sendiri jika Pamanmu tidak menyukaiku!”


“Berisik sekali! Aku tidak peduli, bagiku kau sudah ku anggap saudaraku dan juga kau adalah alasanku untuk cepat pergi dari rumah Paman!”


Dengan senyum yang mengambang sambil memainkan kedua alisnya.


“Jadi aku hanya dijadikan kambing putih!”


“Kambing hitam, bodoh! Ayo Cepat lah.”


“Iya, berisik sekali!”


Dion mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja, lalu menyusul Erwin yang sudah lebih dulu pergi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2