Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 97


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu, Nisa sangat cemas. Sudah seminggu suhu badan putranya naik turun dan sudah seminggu juga Reyhan tidak masuk sekolah.


Begitupun dengan Erwin, biasanya setiap pagi jam sekolahnya Reyhan, ia pergi ke sekolahannya untuk melihat Reyhan dari jarak jauh, itu sudah cukup pikirnya.


Namun, seminggu sudah ia tak melihat kedatangan Reyhan ke sekolah.


Ia ingin sekali menghubungi nomor telepon Nisa, akan tetapi di urungkan. Karena mengingat perkataan Nisa untuk menjauhi Reyhan, waktu itu.


“Kemana Reyhan? Sudah seminggu tidak masuk sekolah. Apa Nisa mengetahuinya jika aku sering mengikuti mereka? apa mungkin Reyhan pindah sekolah?” gumam Erwin.


“Ck ..., aku sangat merindukan Reyhan?” gumamnya melihat foto Reyhan yang ia jadikan wallpaper di layar ponselnya.


Di kediaman Nenek Dira, Nisa sangat cemas melihat keadaan Reyhan. Matanya tertutup, namun mulutnya tidak berhenti untuk memanggil Papanya.


“Papa. Papa dimana?”


“Papa ...!”


“Apa kamu sudah menghubungi dokter?” tanya nenek yang tidak kalah cemas melihat Reyhan.


“Sudah Nek, sebentar lagi datang.”


Ting, tong.


Suara bel berbunyi.


“Itu mereka datang,” tutur Nisa.


Dokter masuk ke kamar mereka, dan mulai memeriksanya keadaan Reyhan.


“Sudah pernah periksa darah sebelumnya?” tanya Dokter sambil menempelkan stetoskop di perut Reyhan.


“Sudah Dok. Beberapa hari yang lalu, sudah periksa darah di rumah sakit dan hasil nya negatif.”

__ADS_1


“Suhu badannya juga naik turun sejak semalam, dan terus mengigau.”


Dokter kembali memeriksa suhu tubuh Reyhan dengan menggunakan termometer dan meletakkan nya di mulut Reyhan, selang satu menit alat tersebut berbunyi.


Tit, tit. Suara termometer tersebut, menandakan waktunya sudah habis.


“36.6. menurut saya ini hanya demam biasa, saya akan memberikan resep obatnya.”


“Ada apa dengan anak saya Dok? Ia terus mengigau, apa ini tanda gejala penyakit bahaya Dok?” tanya Nisa khawatir.


Ia teringat gejala yang hampir sama dengan penyakit yang di derita oleh mendiang suaminya, yaitu Ayah kandung Reyhan.


“Tidak Nona. Kalian sudah melakukan tes darah, bukan? Jika hasilnya negatif, tidak perlu di khawatirkan.”


“Papa,” lirih Reyhan kembali mengigau.


Dokter pun mendengar jelas, jika Reyhan memanggil Papanya.


“Mungkin saja ia merindukan seseorang. Hingga membuatnya kepikiran dan nafsu makannya menurun. Jadi imun di tubuh juga ikut menurun dan membuatnya jatuh sakit.”


“Iya Dok. Mungkin aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, hingga tidak ada waktu untuk bersama anakku.”


“Iya Nona. Ini resep obatnya, jika butuh bantuan saya, jangan sungkan untuk menghubungi saya lagi,” ucap Dokter.


“Iya Dok, Terimakasih.”


Nisa mengantar Dokter tersebut keluar, sementara Nenek Dira duduk di sebelah Reyhan yang masih terlelap.


“Eyang tahu, Reyhan pasti merindukan Papa ya?” tutur Nenek sambil mengusap kepala Reyhan lembut.


“Sudah sebulan Erwin tidak datang ke rumah. Apa yang terjadi? Pasti ini ada hubungannya dengan Nisa. Toni juga mengatakan, jika Erwin masih berada di Jakarta.”


Nenek merasa curiga, karena tidak seperti biasanya. Erwin seminggu sekali pasti ke rumah untuk bertemu dengan Reyhan. Namun, sudah sebulan lebih ia tidak datang. Nenek Dira memerintahkan Toni untuk menyelidiki, apakah Erwin berada di kota tersebut atau ke luar kota?.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Nisa tentunya, dan nenek mendapatkan kabar jika Erwin tidak ke luar kota selama beberapa Minggu terakhir.


“Nek,” panggil Nisa.


“Iya.”


“Apa nenek sudah minum obat?” tanya Nisa yang baru saja masuk, setelah mengantar Dokter tadi.


“Sudah. Siang ini, obat terakhir nenek Minum.”


“Aku akan membelikannya di apotek dan juga obat untuk Reyhan.”


“Kenapa tidak Toni saja.”


“Toni banyak kerjaan Nek. Aku hanya membeli di apotek terdekat,” tutur Nisa.


“Iya, kamu hati-hati di jalan.”


“Iya nek, aku titip Reyhan sebentar.”


Nenek Dira mengangguk.


Nisa mengambil Dompetnya, lalu mengambil kunci mobil yang terletak di tempatnya.


Nisa masuk ke dalam mobil, mengendarai mobil dengan pelan. Karena ia baru saja di izinkan oleh Neneknya untuk menyetir sendiri.


Sesampainya di apotek, Nisa tak sengaja melihat orang yang sangat tidak asing sedang duduk bersama wanita cantik di sampingnya di sebuah restoran yang tidak terlalu besar, yang berada di persis di samping apotek tersebut. Tampak mereka tertawa dan bergurau bersama.


Meskipun Nisa tidak mendengar percakapan mereka, tapi sangat jelas dari wajah mereka jika saat ini mereka sedang bahagia.


“Huft ... kenapa ada dia disini? Dunia ini terasa sangat sempit!” kesal Nisa, melepas kasar seatbel yang masih melekat di tubuhnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2