Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 12


__ADS_3

“Apa yang kalian ributkan?” Sorotan mata menatap mereka.


Bara dan Nisa menoleh ke sumber suara.


“Tidak ada ayah, kami hanya berbicara saja!” ucap Bara membela diri.


“Jangan berbohong, ayah melihat kamu mendorong Nisa,” bentak ayahnya.


“Aku tidak sengaja ayah,” ucap Bara melirik Nisa untuk menjelaskannya.


“Hah, eh iya ayah. Mas Bara benar, mas Bara memang sedang marah.


Bara mencengkeram erat tangan Nisa, hingga sedikit meringis.


Pak Burhan menatap Bara dengan tajam.


“Tapi, itu karena Nisa tidak mau di antar. Nisa ingin mampir ke rumah ibu sebentar,” ucap nya lembut.


“Benarkah itu?” tanya nya kepada Bara.


“Iya ayah.”


“Baiklah, kau ikut ke kamar ku,” perintah nya kepada Bara dan berlalu pergi meninggalkan pasang suami istri.


“Urusan kita belum selesai!” menatap Nisa.


Nisa hanya menurunkan pandangan nya, tidak mau melihat Bara. Bara mendahului Nisa berjalan menuruni tangga.


Di dalam kamar, Bara dan ayah nya tampak berbicara serius.


“Karena kamu sudah menikah, ayah ingin kamu melanjutkan bisnis ayah,” ucap nya menyerahkan map.


“Apa ini?”


“Buka saja!” Bara membukanya dan membaca nya dengan teliti.


“Aku tidak mau ayah,” tolaknya


“Kenapa? Beri aku alasan!” tanya ayahnya.


“Ya karena itu bukan bidang ku, Aku tidak mengerti apapun tentang perusahaan Ayah,” Ucapnya berbohong.


"Bukankah Ayah sejak dulu tidak mau aku masuk ke kantor. Bahkan Ayah lebih percaya Reyhan dari pada aku, tanpa mendengar penjelasanku."


"Iya, sekarangkan kau sudah menikah. Ayah ingin kamu yang mengurusnya!"


"Aku kurang mengerti Ayah. Apa Ayah yakin, jika aku melakukan kesalahan tidak mengusirku seperti dulu?" ujar Bara mengingatkan Ayah.


“Kalau tidak belajar, tidak akan pernah mengerti! ada Reyhan yang mengajarimu.” bentak pak Burhan.


"Contohi Reyhan, dia sangat bijaksana dalam mengambil sikap. Bahkan perusahaan maju karena dirinya," puji Ayahnya.


Reyhan adalah, anak dari adiknya, lebih tepatnya Reyhan adalah keponakan.


“Kau selalu menghamburkan uang tidak jelas, bergonta ganti perempuan, mabuk-mabukan! Apa kamu pikir ayah tidak tahu selama ini perbuatan mu!” tambahnya lagi.


“Ayah memang tidak pernah mengerti!” lirih nya.


“Oh ya! Apa yang ayah tidak mengerti, katakan?” bentaknya.


“Justru ayah memikirkan masa depan mu, maka dari itu ayah menikah kan mu dengan perempuan yang baik hati seperti Nisa! Yang mau menerima mu apa adanya.”


“Maka dari itu ayah menukarkan nya dengan surat sertifikat rumah nya! Iya kan?” pungkas Bara.


“Jaga bicara mu,” bentak ayah nya.

__ADS_1


“Ini semua ayah lakukan, hanya untuk masa depanmu!”


“seharusnya ayah tak perlu repot memikirkan masa depan ku,” sela Bara.


“Dasar anak tidak tahu malu, plak...!” tamparan keras di pipinya, terlihat darah keluar dari sudut bibir nya.


“Ayah selalu ingin aku menuruti kemauan ayah,” geram Bara.


"Kenapa tidak Reyhan saja? Bukankah, ayah lebih mempercayainya," tambahnya lagi.


“Itu karena kau darah daging ku, bodoh! Aku hanya ingin melihat mu jadi orang sukses, itu saja!” bentak ayahnya.


“Huff, baiklah! Kalau kamu tidak mau, dan tetap kekeh dengan keinginan mu! Perusahaan ini akan ayah alihkan atas nama Nisa, usia ku sudah tua! Dan tidak bisa lagi mengurus perusahaan ini,” ancam nya.


“Ayah baru mengenal wanita itu! Tapi, sudah mempercayainya begitu saja!”


“Ayah sudah mengenalnya sangat lama, dan dia gadis baik-baik! Dan dia istri mu, kau paham!”


“Kau pilih saja, semua keputusan ada di tangan mu.”


Pak Burhan keluar dari kamar nya.


Terlihat asistennya sudah menunggu nya di luar kamar.


Bara juga menyusul keluar, lalu mengambil kunci mobilnya.


“Mau ke mana kau?”


“Ke kantor, aku sudah menentukan pilihan nya. Tapi, Jangan salahkan aku jika ada kesalahan nanti.”


Terlihat senyum tipis di bibir pak Burhan, ancaman nya mampu meluluhkan nya.


“Baik, ada asisten yang selalu bersama mu!”


“Sebelum ke kantor, kau antarkan Nisa terlebih dahulu.”


“Iya,” sahutnya dengan malas.


Nisa mengikuti belakang Bara, dengan kode dari pak Burhan bahwa dirinya akan di antar oleh suaminya, Nisa mengangguk mengerti.


“Aku belum bisa menceritakan perihal ibu mu, aku takut kamu akan membenci ku! Anak yang malang.”


Pak Burhan memandang kepergian mobil Bara dengan penuh rasa bersalah.


Sebelum pernikahan terjadi, ada kerja sama antara ibu sambung nya dengan dirinya.


Ia menginginkan Nisa menjadi menantu nya, karena menurutnya Nisa gadis yang baik dan akan mampu merubah sifat anaknya.


Dan ibu Dewi rela menikahkan Nisa dengan anaknya asalkan sertifikat rumahnya kembali kepadanya dan Pak Burhan menyetujuinya.


Di tengah perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka. Bara membawa mobil dengan kecepatan penuh, Nisa berpegangan erat sambil menutup mata karena takut.


Tiba-tiba saja Bara menghentikan mobil nya di tempat sepi, hingga terdengar suara rem mobil.


Ciiiitt..., hingga membuat kepala terbentur kaca.


“Aw..., sakit!” lirihnya.


“Kenapa mendadak berhenti?” mengelus kepalanya.


“Terserah saya, ini kan mobilku! Kau kan hanya menumpang!” menatap Nisa tajam.


“Kau sekarang menjadi besar kepala ya, baru beberapa hari menjadi menantu di rumah.”


“Mak—maksudnya?” Nisa terbata.

__ADS_1


“Jangan pura-pura bodoh! Kau dan ibumu itu sama liciknya.”


“Jangan menuduh ibuku seperti itu, ibuku tak seperti itu,” celetuk nya.


“Oh ya! Ckckck..,” ejek Bara.


“Kau akan melihat sendiri kelicikan ibumu itu, keluar kau dari mobilku!!”


“Tapi ini kan masih jauh, bukan kan Tuan akan mengantar ku ke rumah ibu ku?”


“Jangan mimpi!!”


Nisa masih belum bergerak dari duduknya, dengan cepat tangan Bara melepaskan seat belt.


Tanpa sengaja mata mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain. Dengan cepat Bara mengalihkan pandangan nya lalu membuka pintu mobilnya, mendorong paksa tubuh Nisa keluar.


“Huh..., menyusahkan saja!” Gumam nya. Nisa hanya memandang sedih, mobil Bara sudah pergi menjauh dan meninggalkan nya di tepi jalan.


“Jahat sekali,” lirih nya sambil menghapus air matanya. Bahkan saat ini ponsel dan dompet nya tertinggal di mobil itu.


Nisa hanya pasrah berjalan menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai.


“Ma, Nisa sudah gak kuat mah!” menangis tanpa air mata.


Tin..., tin..! klakson motor dari arah belakangnya, motor tersebut berhenti tepat di sampingnya.


Nisa mengerutkan keningnya, karena tidak mengenali orang tersebut karena memakai helm.


“Kamu mau kemana? Kenapa jalan kaki?” pria tersebut membuka helmnya.


“Erwin!” lirih Nisa.


“Iya, ini aku.”


Erwin adalah, teman Nisa dari masa sekolah hingga sekarang dan bekerja di tempat yang sama. Erwin menyukai Nisa, namun takut akan di tolak dan hubungan pertemanan mereka jadi renggang, Maka dari itu hanya mencintai Nisa dalam diam.


“Ak—aku..!” jawabnya gugup.


“Ayo naik, ini pakai helmnya!”


“Aku jalan aja, nanti kamu terlambat pergi bekerja!”


“Cepat naik..” perintah Erwin. Akhirnya Nisa mengikuti kemauan Erwin.


“Kamu mau kemana sih?” tanya Erwin sambil mengendarai motornya.


“Mau ke rumah ibuku."


“Kenapa jalan kaki? Kemana suamimu?” Erwin menghujani nya dengan pertanyaan.


“Suamiku sangat sibuk! Dan aku ingin olah raga saja jalan kaki.”


“Alasan tidak masuk akal,” gumam Erwin.


“Apa? Aku tidak mendengar mu berbicara?”


“Tidak! Aku bilang pegangan lah, aku takut kamu jatuh!”


Nisa menurutinya dan berpegangan di bahu Nisa, terlihat senyum tipis Erwin dari bibir.


“Pasti ada yang tidak beres! Aku akan mencari tahu!” batin Erwin.


“Nisa, kenapa pernikahan mu mendadak? Bukan kah sebelumnya kau belum mau menikah?”


“Panjang cerita nya!”

__ADS_1


“Ceritakan yang pendeknya saja!” Erwin terkekeh, ketika Nisa mencubit perutnya.


__ADS_2