
“Apa Dion itu saudaramu?” tanya Shamila, setelah kepergian Dion.
“Kurang lebihnya begitu. Dia yang mengurus bisnis ku jika aku tidak ada, dia sudah ku anggap seperti saudara dan sahabatku. Dion yang selalu ada di sampingku.”
Shamila tersenyum mengangguk.
“Iya. Terlihat jelas, kalau dia pria yang sangat baik dan ramah sekali, juga sangat tampan.” pujian itu tanpa sadar dilontarkan dari mulut Shamila.
Erwin mengerutkan keningnya.
“Kamu seperti sangat mengaguminya?”
“Hah, tidak! eh maaf. Aku tidak bermaksud...”
“Kamu tidak perlu meminta maaf,” sela Erwin.
Hening sejenak.
“Apa kamu sudah mempunyai kekasih? Maaf aku banyak bertanya, lupakan pertanyaanku barusan!” ucap Shamila merasa bersalah.
“Iya tidak apa-apa,” sahut Erwin singkat.
“Shamila. Aku tidak mau kamu berharap lebih dengan hubungan kita. Aku takut, jika kita sudah menikah nanti, malah akan menyakitimu.”
Shamila menatap Erwin yang duduk di sebelahnya.
“Maafkan aku Shamila,” tambahnya lagi.
Shamila menghela napas.
“Kamu tidak perlu meminta maaf. Ini kemauan orang tua kita, jadi jangan menjadi beban. Apalagi karena terpaksa,” ucap Shamila lembut.
Perkataan Shamila membuat Erwin merasa bersalah, Shamila begitu dewasa.
“Kita bisa berteman,” tambahnya lagi.
“Maaf,” lirih Erwin.
“Kenapa kamu minta maaf? Aku tahu ini berat untukmu, orang tua kita menjodohkan Kitakan. Tapi, jika kita sama-sama menolak, mereka bisa apa.”
Shamila mengatakan itu dengan tersenyum paksa, ia tahu jika Erwin tidak menginginkannya.
“Iya Shamila maafkan aku untuk ini. Aku belum bisa membuka hatiku.”
“Itu tidak jadi masalah, kita bisa berteman.”
Melihat Shamila mengulurkan tangannya, Erwin menyambutnya tersenyum. Merasa lega jika Shamila juga menolak perjodohan ini.
“Terimakasih,” ucap Erwin.
Mereka saling melepas jabatan tangannya.
Cukup lama mereka berbincang, Erwin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Shamila, maaf. Aku ada janji dengan Klien sore ini. Aku janji, jika aku sudah di Jakarta nanti aku akan menghubungimu dan mengajakmu jalan-jalan,” ucap Erwin.
“Iya boleh. Aku tunggu janjimu, jangan lupa ajak juga Dion bersamamu ya,” sahut Shamila.
Erwin terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Ayo kita turun,” ajak Erwin.
Shamila mengangguk, lalu mereka beranjak dari duduknya. Sambil menuruni tangga sesekali mereka bercanda dan tertawa kecil, tanpa mereka sadari jika Paman dan Nyonya Sharma menatap mereka dari ruang tamu dengan tersenyum bahagia.
“Kalian sudah kembali?” tanya Paman.
“Iya Paman. Aku ada janji dengan klienku, maaf aku tidak bisa lama mengobrol.”
“Iya. Kalian bisa bertemu kembali, ketika sudah sama-sama di Jakarta nanti.”
“Iya Paman,” sahut Erwin.
Ia berpamitan kepada semua orang. Namun, ia tidak menemukan sahabatnya duduk di kursi ruang tamu.
“Kemana cunguk ini?” ucap Erwin dalam hati.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Erwin langsung keluar menuju mobilnya. Ia merogoh ponsel yang ada di saku celananya, untuk menghubungi sahabatnya.
“Kau mencariku?” tanya Dion yang muncul secara tiba-tiba di belakangnya.
“Astaga!” ucap Erwin sambil mengelus dadanya karena begitu terkejut, ponselnya yang ia pegang hampir terjatuh karena ulah Dion.
“Sialan kau!” kesal Erwin meninju bahu sahabatnya. Akan tetapi, tidak membuatnya sakit.
“Hahaha...! kau ini, apa yang sedang kau pikirkan? Hingga tidak melihatku duduk di taman,” ucap Dion sambil tertawa melihat sahabatnya yang terkejut.
“Sialan!” umpat Erwin.
Mereka memasuki mobil, Dion mulai menghidupkan mobilnya dan meninggalkan rumah besar Pak Wijaya.
Saat mereka sudah keluar pagar, terlihat Nadia yang sedang menatap mereka dari arah balkon miliknya.
“Nadia sedang menatap kita. Apa kau belum berpamitan dengannya?” ucap Erwin.
“Belum. Biarkan saja!” sahut Dion singkat ia menambah kecepatan mobilnya.
Erwin mengerutkan keningnya heran, ada yang aneh dengan sikap sahabatnya ini. Ia sangat tahu jika Dion cinta mati kepada adik sepupunya itu. Namun, hari ini ada yang berbeda dari sikap Dion.
“Kau kenapa?”
“Hah, Kenapa apanya?” tanya Dion kembali.
“Apa kau punya masalah dengan Nadia? Sikapmu tidak seperti biasanya.”
“Tidak ada masalah di antara kami!”
“Aku tahu jika ini ada hubungannya dengan Paman. Iya kan?”
Hening sejenak.
“Sepertinya mulai saat ini aku akan berhenti mengejar Nadia,” ucap Dion.
Mendengar ucapan Dion, Erwin menoleh ke arahnya menatapnya penuh selidik.
“Kenapa? Apa kau sudah mempunyai kekasih lain?”
“Paman memang sangat keras. Namun, menyangkut masalah kebahagiaan anaknya, aku yakin suatu saat nanti Paman pasti akan luluh.”
“Berjuanglah, aku akan membantumu.”
“Ck! Aku tidak yakin,” celetuk Dion.
“Tidak yakin bagaimana?”
“Tidak yakin jika Nadia juga menginginkan ku.”
“Kau ini! Hanya segitu keberanian mu, ckck! Lemah..!” ejek Erwin.
“Sialan kau!”
Hahaha...! Erwin tertawa lepas, melihat wajah Dion yang cemberut.
“Aku yakin, jika Nadia juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Terlihat dari wajahnya,” ucap Erwin.
“Sepertinya profesinya beralih, lebih cocok menjadi peramal saja,” ucap Dion terkekeh.
“Kau kira aku dukun!” celetuk Erwin.
Membuat Dion terkekeh kembali.
***
Beberapa menit kemudian, mereka ini sudah tiba di apartemen. Saat di depan pintu, langkah Erwin terhenti ketika membaca pesan dari salah satu temannya yang berada di Jakarta.
“Astaga! Apa benar ini?” ucapnya membaca berulang kali pesan yang dikirim oleh temannya tersebut.
“Dion!!” teriak Erwin.
Dengan setengah berlari, Dion mendatangi Erwin yang masih di ambang pintu.
“Ada apa sih? Kenapa harus berteriak?!”
__ADS_1
“Kau pasti tahu hal ini kan? Jawab!” bentak Erwin murka memperlihatkan ponselnya tepat di depan wajah Dion.
Dengan cepat Dion mengambil ponsel di tangan Erwin.
“Jawab?!” bentaknya lagi.
Setelah membaca pesan tersebut, Dion mengangguk pasrah.
“Kau ini bodoh sekali! Kenapa kau tidak memberitahuku? Hah!”
Dengan amarah memuncak, Erwin menarik kerah baju Dion.
“Dengarkan dulu penjelasan ku,” ucap Dion dengan tenang.
“Omong kosong!”
Melepaskan kerah baju Dion dengan kasar, membuat tubuh Dion sedikit mundur.
“Masuk dulu, aku akan menjelaskannya di dalam,” ajak Dion mencoba memegang bahu Erwin. Namun, Erwin lebih dulu menepis tangan Dion.
“Jangan menyentuhku!” geram Erwin meninggalkan Dion yang masih mematung di ambang pintu.
Erwin duduk dengan kasar di sofa.
“Apa lagi yang tunggu?! Kau sudah mengetahui Nisa kecelakaan, kenapa kau tidak memberitahu, Bodoh!” bentaknya lagi.
“Bukannya tidak ingin memberitahumu. Aku hanya menundanya, karena kau hari ini ke rumah Pamanmu. Bagaimana jika kau tidak bisa mengontrol emosimu disana?! Aku hanya melindungi mu saja.”
“Aku hanya tidak ingin jika Pamanmu mengetahui, kalau kau mencintai wanita yang sudah bersuami!”
“Omong kosong!” ketus Erwin.
“Terserah kau saja! Yang penting aku sudah melakukan tugasku untuk melindungi mu.”
Setelah mengatakan itu, Dion beranjak dari duduknya. Namun, langkahnya terhenti ketika Erwin memanggilnya.
“Dion, maafkan aku. Terima kasih sudah melindungi ku,” ucap Erwin merasa bersalah.
Dion kembali duduk ke tempat sebelumnya.
“Huft...! lupakan!”
“Bagaimana keadaan Nisa sekarang?” tanyanya sangat cemas.
“Sekarang Nisa berada di rumah sakit, Nisa sudah melewati masa kritisnya. Pelakunya masih dalam pengejaran polisi.”
“Ini kecelakaan disengaja?” tanya Erwin.
Dion mengangguk.
“Belum diketahui pasti motifnya.”
“Kurang ajar! Aku tidak akan mengampuninya!” geram Erwin.
“Tahan emosimu, serahkan semua kepada pihak yang berwajib. Aku tidak mempermasalahkan jika kau mau bertindak, bahkan aku akan membantumu, jika Nisa masih status belum bersuami. Namun, ini berbeda!”
“Iya aku mengerti!” ketus Erwin.
“Bagus. Aku hanya menjaga nama baikmu saja.”
Ting, suara pesan masuk dari ponsel milik Dion. Ia mengerutkan keningnya melihat pesan yang masuk.
“Ada apa?” tanya Erwin.
“Dari mana Shamila mendapatkan nomorku?” tanya Dion kepada Erwin sambil memicingkan matanya.
Erwin terkekeh langsung beranjak dari duduknya.
“Sepertinya Shamila menyukaimu dari pada diriku,” teriak Erwin sambil tertawa ketika sudah di ambang pintu kamarnya.
“Sialan kau! Ternyata kau benar-benar menjadikan ku kambing hitam!” umpat Dion.
.
.
__ADS_1
.