
Pagi itu, tampak matahari masih enggan keluar, betah bersembunyi di balik awan hitam.
Terdengar suara burung berkicau, seakan menyambut akan turunnya hujan.
Nisa menggeliat dari dalam selimut, menyipitkan kelopak matanya melihat jam di nakas.
“Astaga sudah jam enam! huft... aku kesiangan,” gumam Nisa.
Nisa mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai, sehabis aktivitas mereka semalam ia langsung tidur.
Tok! Tok! Tok!
“Mama bangun Ma,” panggil Reyhan sambil mengetuk pintu.
Setelah memakai pakaian lengkap, Nisa membuka pintu.
“Sayang, anak Mama sudah bangun ternyata.”
“Ma, Papa dimana? Papa kerja lagi,” tanya Reyhan dengan polosnya.
Ia berpikir jika Erwin pergi lagi, tanpa memberitahunya.
Nisa tersenyum.
“Masuk sayang. Papa masih tidur!”
Nisa menggandeng tangan putranya masuk ke kamar, lalu menutup pintu kembali.
“Lihatlah, Papa masih dalam selimut,” ujar Nisa.
Reyhan mendekatinya, lalu ikut masuk ke dalam selimut bergabung dengan Erwin.
“Hhmm...!” gumam Erwin.
Ia menggosokkan kedua matanya, melihat ke sampingnya ada Reyhan yang tersenyum melihatnya.
“Sayang, anak Papa disini ternyata.”
Erwin membalikkan badannya, menghadap Reyhan lalu memeluknya.
“Kenapa Bangun sepagi ini, sayang?” tanya Erwin masih dengan suara serak.
“Reyhan mencari Papa,” sahut dengan polosnya.
Nisa tersenyum mendengar percakapan dua pria di atas tempat tidur tersebut, ia melangkah membuka tirai yang mengarahkan ke balkon.
Tampak Erwin menyipitkan keduanya matanya karena silau akibat cahaya matahari. Walaupun matahari tak sepenuh keluar dari tempat persembunyiannya.
Nisa mencuci wajahnya di kamar mandi, lalu kembali keluar.
Ia meninggalkan putra dan suaminya yang sedang asyik berbincang, entah apa yang mereka bicarakan.
Nisa turun ke dapur, membuatkan teh hangat untuk suaminya dan juga Neneknya.
Sebelum itu, ia meminta tolong kepada Art nya Mala membuatkan sarapan untuk semua orang.
Nisa kembali melangkah menuju kamar, dengan membawa nampan yang berisi tiga gelas teh hangat.
Sebelum masuk ke kamarnya, Nisa lebih dulu mengantar teh hijau hangat untuk neneknya, lalu kembali ke kamarnya.
“Dimana Papa sayang?” tanya Nisa melihat Erwin tidak ada di tempat tidur.
“Di kamar mandi Ma,” sahut Reyhan tanpa melihat Nisa.
Ia fokus dengan layar ponsel milik Erwin dan mencari beberapa film kartun kesukaannya.
“Sayang, kau sudah kembali?” tanya Erwin dari dalam kamar mandi.
“Iya.”
“Tolong ambilkan handuk, aku lupa membawanya,” ucap Erwin setengah berteriak.
Nisa mengambil handuknya dan menyerahkan kepada Erwin.
“Makasih sayang,” ucap Erwin kembali menutup pintunya setelah mendapatkan handuk tersebut.
Nisa membuka koper milik suaminya dan mencari pakaian yang cocok untuk suaminya pergi bekerja.
“Ini sepertinya bagus,” gumam Nisa.
Ia meletakkan pakaian tersebut di kasur.
“Sayang, Reyhan mandi dulu. Nanti terlambat sayang, ini sudah hampir siang,” ujar Nisa.
“Iya,” sahutnya.
Bukan ke kamarnya, Reyhan malah mengetuk pintu kamar mandi.
“Loh, sayang. Mandi di kamar Reyhan sayang.”
“Mau mandi sama Papa, Ma.”
“Pa, Reyhan mau mandi.”
Mendengar ketukan pintu tersebut, Erwin langsung membuka pintu. Terlihat ia sudah selesai mandi dengan handuk yang melilit di pinggang.
“Ayo, masuk.”
Erwin menggandeng tangan putranya masuk, hingga membuat Nisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Nisa keluar kamarnya untuk mengambil pakaian putranya yang ada di lemari kamar Reyhan. Lalu kembali lagi masuk ke kamarnya.
“Ma, Reyhan sudah mandi.”
Ia tersenyum melihat putranya pagi ini sangat ceria.
“Uh... tampannya anak Mama,” goda Nisa.
“Papanya juga tampan kan?” goda Erwin juga.
“Hmm!” deham Nisa.
“Iya, Papa tampan kok, sama seperti Reyhan. Iya kan Ma?”
“Iya sayang, hanya Eyang putri dan Mama yang cantik,” gurau Nisa.
Lalu mereka tertawa bersama.
Setelah membantu putranya mengenakan pakaiannya. Nisa mengajak mereka untuk sarapan di balkon, Nisa dengan telaten menyuapi Reyhan, karena sebelumnya Nisa meminta untuk membawa sarapan mereka ke kamar.
“Sayang, apa hari ini gak ke kantor?” tanya Erwin.
“Sepertinya tidak. Entahlah badanku terasa sangat lelah,” sahut Nisa.
“Baiklah, istirahat di rumah saja.”
“Aku harus ke kantor, karena Dion juga belum datang. Jadi, aku harus mengurus semuanya.”
“Iya,” sahut Nisa lembut.
Nisa mencium tangan suaminya, begitu sebaliknya Erwin mencium kening istrinya.
“Anak Papa yang rajin sekolah ya, Papa mau berangkat kerja dulu.”
Reyhan mengangguk, ia tidak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan.
Reyhan mencium tangan Papanya, sama hal yang dilakukan kepada istrinya ia lakukan kepada putranya juga, mencium keseluruhan wajah putranya.
“Hati-hati sayang,” ujar Nisa tanpa sadar memanggil Erwin dengan panggilan sayang.
“Iya sayang,” sahutnya hendak memeluk istrinya.
Namun, Nisa menahannya.
“Ada Reyhan,” ucap Nisa pelan.
Erwin tersenyum.
“Baiklah, aku berangkat dulu.”
Nisa mengangguk.
Reyhan melambaikan tangannya kepada Erwin.
“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke teras.”
“Tidak apa-apa sayang. Dadah anak Papa,” ujar Erwin melambaikan tangannya kepada kedua orang yang sangat ia cintai.
Setelah melihat kepergian suaminya dari balkon, Nisa kembali menyuapi putranya.
Selesai itu, ia mengantar putranya ke teras. Reyhan di antar oleh sopir yang ada di rumah, karena Toni sudah pergi berangkat bekerja.
Ia berpesan kepada sopir tersebut, agar tidak meninggalkan putranya dari tempatnya bersekolah.
Karena pikiran Nisa tidak tenang, saat mendengar percakapan dengan suaminya semalam, tentang Miranda yang datang ke sekolahan putranya.
Ia kembali masuk ke dalam rumah, sebelum masuk ke kamarnya, ia melewati kamar neneknya yang setengah terbuka.
“Aku belum bertemu Nenek pagi ini,” gumamnya.
“Nek. Nenek sedang apa?” tanya Nisa yang masuk ke dalam kamar neneknya.
“Aku hanya melihat foto lama Nenek. Lihatlah, Nenek sangat cantik, bukan?”
“Iya Nek.”
Nisa memeluk neneknya dari samping.
“Lihat, ini ibumu waktu masih seusia mu.”
“Mama sangat cantik ya nek, seperti Nenek.”
“Hm, tentu saja. Siapa dulu ibunya,” gurau nenek.
Nisa tertawa kecil.
“Nenek mencium aroma yang kurang sedap disini,” Ujar nenek mengendus hidungnya, begitupun dengan Nisa.
“Aku tidak mencium aroma apapun Nek.”
“Tapi Nenek mencium aromanya.”
“Aroma apa Nek?” tanya Nisa penasaran.
“Aroma seperti orang yang belum mandi,” ejek nenek.
“Ah Nenek. Itu Nisa yang belum mandi,” ucap Nisa cemberut.
“Hahaha... Nenek sudah menduga, jika kau itu belum mandi.”
__ADS_1
“Cepat mandi sana,” perintah nenek sambil menutup album foto tersebut.
“Hm, iya Nenek ku yang cantik.”
Nisa beranjak dari duduknya, sebelum ia keluar, Nisa terlebih dahulu mencium kedua pipi Neneknya.
***
Menjelang siang hari, Nisa berkutak di dapur untuk membuatkan bekal siang untuk suaminya.
Setelah selesai, ia meletakkan makanan tersebut di kotak makan dan meminta orang rumah mengantarnya ke kantor suaminya.
Setelah selesai, ia duduk di sofa yang ada di rumah tamu. Karena hari ini cukup melelahkan baginya, tadi pagi ia menyisihkan sebagai pakaiannya yang ada di lemari dan menyusun rapi pakaian suaminya.
Di lanjut lagi, ia memasak makanan untuk makan siang suaminya.
Ting, tong!
Suara bel berbunyi, Nisa beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Ia sudah menduga, yang datang adalah putranya yang baru pulang sekolah.
Ceklek!
“Anak Mama sudah pulang ternyata. Sekarang ganti bajunya, cuci kaki lalu kita makan siang bersama.”
“Iya Ma,” sahut Reyhan patuh.
Nisa kembali menutup pintu rumah, ia tersenyum melihat Reyhan yang menaiki tangga.
Ting, tong!
Suara bel kembali berbunyi, Nisa mengernyit kening heran.
“Siapa yang datang?” gumam Nisa dalam hati.
Ia kembali melangkah untuk membuka pintu.
Ceklek!
Nisa kembali mengernyit keningnya, wanita cantik berdiri di depan pintu rumahnya dengan memakai kaca mata hitamnya.
“Maaf, anda siapa? Kenapa anda bisa masuk ke rumah saya?” tanya Nisa menatapnya.
Pasalnya, jika seorang yang tidak di kenal masuk, ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada satpam rumahnya.
“Penjaga rumahmu tidak ada. Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas aku adalah kekasih Erwin,” ketusnya langsung masuk tanpa menunggu persetujuan Nisa.
Nisa menatapnya bingung, ia baru mengingat ucapan suaminya semalam.
“Apa dia yang bernama Miranda?” tanya Nisa dalam hati.
“Oh, sepetinya wanita ini yang ada di rekaman video semalam,” tambahnya lagi.
“Kekasih Erwin?” tanya Nisa berpura-pura.
“Iya.”
“Bukannya suamiku tidak mempunyai kekasih? Lalu kenapa kau tiba-tiba datang mengaku sebagai kekasihnya? Apa anda punya bukti?” tanya Nisa menatapnya.
Nisa melangkah dan duduk di hadapan Miranda.
“Kalau aku punya bukti! Apa kau akan meninggalkan Erwin?”
“Tergantung,” sahut Nisa tak mau kalah.
Miranda membuka ponselnya dan memperlihatkan foto Erwin dan dirinya sedang berpelukan mesra di atas tempat tidur, ada juga Erwin yang mencium mesra bibir Miranda.
Melihat foto tersebut, Nisa menghela nafas kasar. Ia mengambil ponsel milik Miranda dan melihat foto dalam ponsel tersebut dengan teliti.
Terlihat lengan pria yang ada di dalam ponsel tersebut sedikit kurus, sedangkan ia sangat tahu jika lengan suaminya berisi dan berotot.
“Sepertinya ini editan!” gumam Nisa dalam hati.
Bahkan ia mengingat ucapan suaminya, jika Erwin tidak pernah menyentuh Miranda dan jangan percaya ucapan orang tidak ia kenal.
“Apa kau percaya?” tanya Miranda melepaskan kacamatanya dan meletakkannya sedikit kasar di meja.
Nisa mengangguk, berpura-pura percaya.
“Jadi... bagaimana?” tanya Miranda.
“Aku akan menjawabnya, setelah suamiku mengakuinya kepadaku.”
Menatap Miranda dengan tajam.
“Baiklah, aku akan buat suamimu itu mengaku!” ketus Miranda.
“Aku sangat haus. Cepat ambilkan aku minum!” perintah Miranda.
Sebenarnya Nisa tidak Sudi untuk mengambil air. Akan tetapi ia harus menjalankannya demi memuluskan rencananya.
Di dapur Nisa mengirim sebuah pesan kepada suaminya melalui ponselnya. Nisa tersenyum melihat balasan suaminya tersenyum, dengan menambahkan emoji Love.
Saat hendak kembali ke ruang tamu, langkahnya terhenti ketika melihat putranya sedang berbicara dengan Miranda.
.
.
.
__ADS_1