Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 113


__ADS_3

Setelah melihat kepergian Andi yang di bawa oleh anak buahnya, ia membuka pintu mobil belakang.


“Nona, apa Nona baik-baik saja?” tanya Toni begitu khawatir melihat Nisa yang sudah sadar.


“Aku baik-baik saja.”


Melepaskan diri dari dekapan Erwin, Toni membantunya untuk keluar dari mobil.


“Kau tidak tanya bagaimana dengan keadaan ku?” ketus Erwin.


“Anda pasti baik-baik saja Tuan!” sahut Toni dingin.


“Astaga es balok!” gerutu Erwin yang keluar dari mobil menyusul Nisa.


“Dimana putraku?” tanya Nisa mulai panik, melihat sekelilingnya.


“Dia aman dirumah, bersama istriku,” sahut Ayahnya Erwin.


Nisa bernapas lega.


“Mari masuk ke mobil kita nona, kita akan ke rumah sakit. Sepertinya luka Nona cukup parah.”


Melihat kedua pergelangan tangan Nisa yang memerah akibat tali yang terikat kuat, di sudut bibirnya pun terlihat membiru.


“Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin bertemu dengan putraku!” ucap Nisa.


“Ikut pulang bersama ku. Reyhan bersama mami dirumah, saat ini Reyhan sudah tidur,” sela Erwin yang memegang kepalanya.


Nisa melihat kepala Erwin yang keluar darah.


“Kepalamu berdarah,” ucap Nisa panik.


“Ini hanya luka kecil, kita akan obati di rumah.”


Nisa mengangguk, meninggalkan Toni dan beberapa orang di area tersebut.


“Toni, beritahu nenek jika aku baik-baik saja. Aku akan menjemput putraku terlebih dahulu,” ucap Toni yang masih mematung di tempat.


Toni mengangguk.


Melihat Nisa masuk ke dalam mobil milik Erwin, Toni juga bersama anak buahnya pergi ke kantor polisi untuk menemui Andi yang sudah lebih dulu pergi, bersama anak buahnya yang lain.


Di dalam mobil, Erwin tampak memejamkan kepalanya menahan rasa sakit di kepalanya akibat pukulan benda tumpul.


Nisa hendak bertanya. Namun, ia sangat malu karena Erwin saat ini tidak memakai baju.


Dion melirik dari kaca, langsung berinisiatif memberinya jaket yang ia kenakan.


“Ini pakai lah!” ucap Dion melepaskan jaketnya. Sebelum itu ia menepikan mobil terlebih dahulu.


Erwin segera memakai jaket tersebut.


“Apa ini sangat sakit?” tanya Erwin memegang dagu Nisa.


“Aw... sakit!” jerit Nisa karena Erwin memegang dagunya terlalu kuat.


“Eh... maaf. Kita akan ke rumah sakit sekarang,” ucap Erwin terlihat begitu cemas.


Dengan cepat Nisa menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak mau, aku hanya ingin bertemu dengan putraku!” ketus Nisa bersikukuh.


Erwin menghela napas pasrah.


“Baiklah.”

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, mereka tiba kediaman Erwin.


Nisa tercengang melihat rumah yang begitu besar dan sangat mewah.


“Ayo cepat masuk, kita akan obati lukamu,” perintah Erwin memegang tangan Nisa untuk keluar mobil.


Nisa mengikuti Erwin masuk, dengan kakinya yang masih pincang.


“Apa perlu ku gendong?” tanya Erwin.


“Tidak, aku masih bisa jalan sendiri,” tolak Nisa.


Erwin masih setia memegang tangan Nisa, untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


Ayahnya lebih dulu masuk, untuk memanggil istrinya dan beberapa Art lainnya, ayahnya Erwin datang membawa kotak p3k, di ikuti oleh istrinya di belakang.


Art nya pun datang dengan membawa air hangat, untuk membersihkan luka Erwin dan Nisa.


“Permisi Nona, kita obati dulu lukanya,” ucap salah satu Art di rumah tersebut.


Nisa mengangguk pasrah, karena memang ia merasakan sakit yang luar biasa di sudut bibirnya.


Maminya dan Dion juga sibuk membersihkan luka Erwin. Sedangkan ayahnya sibuk menghubungi dokter, agar segera datang ke rumahnya.


“Kenapa tidak ke rumah sakit saja? Lukamu ini cukup parah!” ujar Dion sambil membersihkan darah yang sudah mulai mengering di rambutnya.


“Tidak. Aku tidak mau!” ketus Erwin.


“Huft... kau ini, Keras kepala!” gerutu Dion.


Tidak lama Dokter pun datang, Erwin meminta agar dokter lebih dulu memeriksa keadaan Nisa.


Setelah selesai memeriksa keadaan Nisa, dokter pun memeriksa keadaan Erwin. Ada luka di kepala Erwin, yang harus segera di tangani. Namun, Erwin bersikeras untuk menolak, jika dirinya tidak ingin ke rumah sakit.


“Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil!” sahut Erwin.


“Kau itu takut jarum suntik, benar kan?!” ejek Dion.


Erwin hanya mengangkat kedua bahunya, tanda tidak peduli.


Karena Erwin tidak ingin ke rumah sakit, akhirnya dokter hanya memberikan mereka obat untuk perda nyeri beserta obat lainnya.


Setelah selesai dokter pun berpamitan untuk pulang, begitupun dengan Nisa, ia juga berpamitan pulang dengan membawa putranya untuk pulang. Tapi, orang tua Erwin tidak memperbolehkan untuk pulang.


Nisa akhirnya pasrah, mengingat hari juga sudah sangat malam.


Nisa masuk ke kamar Erwin, untuk menemui putranya yang terlelap di kamar tersebut.


Setiba di dalam kamar, Nisa tak henti-hentinya mencium wajah putranya.


“Maafkan Mama sayang,” lirih Nisa.


“Mama tidak bisa membayangkan, jika pria itu benar-benar menculikmu...”


Saat tengah sibuk berbicara dengan putranya yang terlelap, terdengar suara ketukan dari luar kamar.


Tok! Tok! Tok!


Nisa melangkah pelan karena kakinya masih terasa sakit. Saat membuka pintu, Erwin memasang wajah senyum lebar.


“Ku pikir siapa! Ada apa?” tanya Nisa.


“Makan dulu, setelah itu minum obatnya,” ucap Erwin langsung masuk tanpa menunggu persetujuan Nisa.


Nisa tidak bisa melarang, karena yang ia tempati adalah kamar Erwin.

__ADS_1


“Tapi aku tidak lapar,” sahut Nisa berusaha menolak.


“Aku tahu kau sangat lapar, cepat makanlah! Aku bersusah payah membawanya kesini dari dapur,” ucap Erwin yang sudah duduk di sofa miliknya.


“Tapi...”


“Jangan karena perdebatan kita membuat Reyhan bangun! Aku memintamu makan nasi, bukan makan racun rumput!” sela Erwin.


Nisa terdiam sejenak menatap Erwin, lalu mengangguk pasrah.


Nisa menghampiri Erwin dan duduk di sampingnya.


“Aku bisa makan sendiri,” tolak Nisa ketika melihat Erwin hendak menyuapinya.


“Cepat buka mulutmu!” tatap Erwin dengan serius.


Terpaksa Nisa harus membuka mulutnya dengan patuh.


“Nah begitukan cantik,” goda Erwin setelah berhasil memasukkan makanan ke dalam mulut Nisa.


“Apa kau sudah makan?” tanya Nisa.


Erwin menggelengkan kepalanya.


“Makanlah bersama.”


Erwin tersenyum, lalu mengangguk, tak dapat di pungkiri, jika dirinya juga sangat lapar.


“Apa tanganmu masih sakit?” tanya Erwin melihat tangan Nisa yang merah.


“Hanya sedikit,” sahut Nisa.


Erwin kembali menyuapi Nisa, dan juga dirinya berulang kali, hingga makanan yang ada di piring habis tak tersisa.


“Minum obatmu, setelah itu istirahat. Kejadian yang tadi lupakanlah, jangan membuatmu stres.”


Nisa mengangguk.


Erwin memastikan Nisa minum obat terlebih dahulu, lalu melangkah menuju tempat tidur untuk mencium wajah Reyhan terlebih dahulu. Saat hendak melangkah ke arah pintu, ia melihat Nisa yang menatapnya.


“Ada apa? Apa kau ingin ku cium juga? Seperti Reyhan,” goda Erwin.


Nisa membulatkan matanya, lalu menggeleng dengan cepat. Erwin terkekeh melihat reaksi Nisa.


“Baiklah. Istirahat dulu, besok pagi kita akan ke kantor polisi,” ucap Erwin lembut.


“Iya. Kau tidur dimana?” tanya Nisa.


Karena Nisa merasa tidak enak, yang Reyhan dan dirinya tidur adalah kamar miliknya.


“Aku tidur di kamar tamu. Kalau kau ingin aku tidur disini juga tidak masalah sih, tapi kamu harus berhati-hati,” ucap Erwin mengangkat kedua alis.


“Hah?... tidak!” ucap Nisa sedikit berteriak.


“Ssshh... pelankan suara mu kau akan membangun Reyhan. Aku tadi hanya bercanda,” ucap Erwin terkekeh.


“Selamat malam,” pamit Erwin.


Nisa tidak menjawab, ia hanya mengangguk setelah melihat kepergian Erwin.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2