Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 129


__ADS_3

“Huft ... pulanglah. Aku akan berbicara kepada Nenek tentang ini,” sahut Erwin.


“Terimakasih.”


“Pulanglah sekarang, pasti Reyhan mencarimu!”


“Kau mengusirku?” tanya Nisa menatap Erwin.


Erwin membuang napas kasar.


“Aku tidak mengusirmu. Tapi... aku memintamu untuk pulang,” protes Erwin yang mulai kesal.


“Nisa pulanglah. Jangan membuatku kesal! Aku sudah berusaha selama tiga Minggu ini untuk...”


Grep...!


Nisa memeluk tubuh Erwin. Erwin terpaku melihat Nisa yang langsung memeluknya, ada perasaan sedih, senang dan kesal pada Nisa.


“Jangan tinggalkan aku,” lirih Nisa masih memeluk erat Erwin.


Tangan Erwin masih menggantung, tidak membalas pelukan tersebut. Baju Erwin sedikit basah karena air mata Nisa yang menempel di bajunya tersebut.


“Jangan memberi harapan kepadaku, Nisa! Kita pilih jalan hidup kita masing-masing, aku tidak ingin kau terpaksa karena sesuatu.”


“Maafkan aku,” lirih Nisa.


“Pulanglah. Ini sudah sore!”


Mencoba melepaskan tangan Nisa yang melingkar di perutnya. Namun, Nisa semakin mempererat dekapannya.


“Apa mau mu?!” kesal Erwin.


“Aku mencintai mu,” ucap Nisa dengan lantang.


Mereka saling bertatapan sejenak, lalu Erwin melepas tangan Nisa dengan kasar.


“Aku sudah katakan tadi, jangan memberi harapan kepadaku!”


“Aku tahu, pasti kau tidak mempercayai ini. Beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki ini, sungguh! Aku sangat menyesal dengan sikap ku kepadamu dulu,” ucap Nisa.


“Please... beri aku satu kesempatan,” ucap Nisa menyatukan kedua tangannya.


Erwin menatap wajah Nisa dengan sesama, ia tidak melihat ada kebohongan dari mata wanita yang sangat ia cintai.


“Benarkah?” tanya Erwin memastikan.


Nisa mengangguk, air matanya lolos begitu saja hingga mengalir ke pipi mulusnya.


Erwin langsung menarik Nisa ke dalam pelukannya, ia memeluknya sangat erat hingga membuat Nisa kesulitan bernapas.


Nisa tidak protes, ia membiarkan Erwin memeluknya. Bahkan berulang kali mencium pucuk kepala Nisa, mereka saling mengeratkan pelukannya. Cukup lama mereka saling berpelukan, suara seseorang membuka pintu membuat mereka langsung tersadar dan melepaskan pelukan mereka.


“Eh... maaf Tuan,” ucap perempuan tersebut.


Nisa langsung membelakangi perempuan tersebut, sambil mengusap sisa air matanya.


“Apa kau tidak mempunyai sopan santun?! Kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,” bentak Erwin.


“Maaf Tuan! Sungguh, saya tidak tahu jika masih ada orang di dalam. Hari sudah sore, saya ingin membersihkan ruangan ini. Maafkan saya,” ucapnya merasa bersalah.


Erwin membuang napas pelan.


“Hm...!”


Erwin mengernyit keningnya heran, wanita tersebut masih berdiri tanpa berniat ingin keluar.


“Apa lagi yang kau tunggu? Cepat keluar !”


“Hah... eh iya Tuan,” ucapnya bergegas keluar ruangan tersebut.


Membuat Nisa terkekeh.


“Ck... mengganggu saja!” umpatnya.


“Apa ada yang lucu Nona?” tanya Erwin melihat Nisa yang terkekeh.


Nisa langsung terdiam, Erwin menarik Nisa untuk duduk di sofa empuk yang ada di ruangan tersebut.


Mereka duduk berdampingan, Erwin kembali menatap wanita yang ada di hadapannya. Ia tidak menyangka, jika kepergiannya ini akan membuat mereka kembali bersatu.


“Kenapa gak dari dulu?” Gumamnya.


“Hah... kau bicara apa? Aku tidak mengerti,” tanya Nisa heran dengan ucapan Erwin barusan.


“Oh... tidak!”


“Kau terlihat sangat kurus. Matamu seperti tidak tidur beberapa hari, apa yang terjadi?” tanya Erwin sambil merapikan rambut Nisa yang sedikit berantakan.


“Apa kau sudah makan?”


Belum sempat Nisa menjawab pertanyaan Erwin yang tadi, kini ia kembali bertanya lagi.


Nisa menggeleng kepalanya pelan.


“Astaga! Ini sudah sore, apa kau belum makan apa pun?”


Erwin mengambil kotak makan yang ada di meja tersebut.


“Ayo makanlah,” ucapnya sambil membuka kotak makan tersebut.


Mengambil sendok yang ada di meja lalu menyendokkan nasi tersebut beserta lauknya dan menyodorkan ke mulut Nisa.


“Apa yang kau lihat? Cepat, buka mulutmu,” perintah Erwin.


Dengan patuh membuka mulutnya, Erwin dengan lembut memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


“Apa kau sudah makan?” tanya Nisa.


Erwin tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


“Makanlah bersama ku.”


Nisa mengambil sendok yang ada di tangan Erwin, lalu mengambil makanan tersebut dan menyuapi Erwin. Terjadilah sore itu adegan saling suap menyuap.


Selesai makan, Erwin dan Nisa masih di tempat duduk yang sama. Tidak ada percakapan di antara mereka, Erwin sibuk dengan laptopnya sedangkan Nisa sibuk dengan pikirannya.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Erwin menutup laptopnya dan meletakkan kembali di meja.


Nisa menggelengkan kepalanya. Erwin menarik Nisa ke dalam pelukannya.


“Aku ingin kau mengulang perkataan mu yang tadi,” bisik Erwin, membuat Nisa sedikit merinding.


“Yang mama?” tanya Nisa mencoba melepaskan diri, akan tetapi di tahan oleh Erwin.


“Biarkan seperti ini. Aku sangat merindukan mu, sungguh! Oh iya... aku ingin kau mengulang ucapanmu, kalau kau mencintaiku.”


“Ayo cepat katakan!” ucap Erwin sedikit memaksa.


“Aku malu,” lirih Nisa menyembunyikan wajahnya.


“Erwin, aku ingin pulang, sekarang.”

__ADS_1


“Pulang?”


“Iya.”


“Hari sebentar lagi malam, kau akan pulang besok!”


“Aku berani! Bukankah, tadi kau menyuruhku pulang?”


“Tadi memang iya. Tapi, sekarang tidak!”


Erwin semakin mempererat pelukannya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu, Nisa melepas paksa dekapan Erwin. Ia sangat malu jika, ada yang melihat mereka lagi dalam keadaan berpelukan.


“Masuk,” sahut Erwin.


Dion membuka pintu, sambil tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.


“Ada apa? Kenapa kau jelek sekali, saat tersenyum seperti itu?” ejek Erwin.


Dion langsung memasang wajah cemberut.


“Aku hanya ingin memberitahu. Jika hari sudah hampir malam, apa kalian tidak ingin pulang? Semua orang sudah pulang bekerja. Tapi, jika kalian ingin uji nyali di kantor ini sih, gak apa-apa!”


Erwin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Cepat sekali!” gerutu Erwin.


“Hai Nisa. Kau mau pulang besok atau hari ini? Jika kau ingin pulang sekarang, aku bisa memesankan mu tiket pesawat,” tanya Dion dengan sengaja.


Dion sangat tahu, jika Erwin tidak mengizinkannya pulang dan benar saja, Erwin menatap Dion dengan tajam.


“Iya, aku ingin pula...”


“Tidak. Kau harus pulang besok!” sela Erwin.


“Erwin, aku harus pulang!”


“Aku tidak terima penolakan!” tegas Erwin.


Dion hanya tersenyum melihat perdebatan mereka, ia bernapas lega. Akhirnya, Erwin kembali ceria setelah beberapa Minggu ini tidak bersemangat.


“Aku pulang duluan. Istriku sedang menantiku di rumah, sampai jumpa besok!” ucapnya berpamitan kedua dua sejoli itu.


Setelah Dion keluar dari ruangan tersebut, Erwin juga mengajak Nisa untuk pulang.


Ia menggandeng tangan Nisa, hingga tiba di parkiran. Erwin sama sekali tidak melepas genggaman tangannya.


“Ayo cepat masuk,” ucap Erwin.


“Masuk? Masuk kemana?” tanya Nisa bingung.


“Ke mobil dong. Memangnya masuk ke kantor lagi?”


“Iya. Tapi tanganku,” tutur Nisa memperlihatkan tangannya tidak di lepas olehnya.


“Astaga! Maaf...”


Langsung melepaskan tangannya, membuat Nisa menggelengkan kepalanya.


Setalah memastikan Nisa duduk dengan benar, Erwin mengendarai mobilnya menuju apartemen yang ia sewa untuk beberapa bulan.


Tidak ada percakapan di antara mereka, hingga tiba di apartemen tersebut.


“Aku akan menginap di hotel saja,” tolak Nisa melihat Erwin yang mengajaknya ke apartemen miliknya.


“Tapi...”


“Sudah jangan banyak bicara!”


Erwin menarik tangan Nisa, agar mengikutinya untuk naik ke lantai atas tempat kamarnya berada. Nisa mengikutinya dengan pasrah.


“Sekarang kau mandi lah, aku akan meminjam pakaian istri Dion untuk kau pakai malam ini.”


Nisa hanya mengangguk, memang benar dirinya saat ini sedang merasa sangat gerah.


Melihat Nisa masuk ke kamar mandi, Erwin keluar menuju kamar sebelah tempat Dion dan istrinya.


Ting, tong.


Ceklek, Dion membuka pintu.


“Ada apa lagi? Ini sudah lewat jam kerja!”


Dion menatap Erwin dengan sinis.


“Minggir!” ketus Erwin mendorong pelan tubuh Dion.


“Sialan!” umpatnya.


“Nadia...” panggil Erwin.


“Ada urusan apa kau memanggil istriku? Aku ada disini, suaminya!” ucapnya penuh penekanan.


“Oh ya... baiklah. Aku mau pinjam pakaian perempuanmu, yang pernah kau pakai sebelum menikah dengan adik sepupuku,” teriak Erwin dengan sengaja agar istrinya mendengarnya.


“Astaga!”


Dion langsung membungkam mulut Erwin menggunakan tangannya.


“Kau ini bicara apa? Jangan memfitnah, kalau istriku percaya bagaimana?!”


“Makanya, jangan banyak bertanya?” ketus Erwin meledek.


“Awas saja kau meminta bantuan ku!” ancam Dion.


“Iya kak. Ada apa?” tanya Nadia yang baru saja tiba dari dapur.


“Apa boleh aku meminjam pakaianmu?”


Nadia mengernyit keningnya.


“Kak Erwin mau pakai pakaianku?” tanyanya bingung.


Dion yang mendengarnya tidak bisa menahan tawanya, membuat Erwin menajamkan matanya menatap Dion.


“Bukan, Nisa tidak membawa pakaian. Jadi... aku berinisiatif meminjam pakaianmu, untuknya. Aku rasa ukuran tubuh kalian sama.”


“Wah... ternyata kak Nisa ada disini? Sebentar aku mengambilnya dulu kak,” sahutnya.


Sambil menunggu adik sepupunya itu masuk ke kamar, Erwin duduk di sofa empuk yang ada di ruang tamu.


“Jadi... apa rencana mu besok? Bukankah proyek ini sudah selesai?” tanya Dion.


“Entahlah, kita lihat besok.”


Dion mengangguk mengerti.


“Ini kak,” ucap Nadia menyerahkan beberapa lembar pakaian.

__ADS_1


“Terimakasih. Aku akan kembali ke kamar,” ucap Erwin beranjak dari duduknya.


“Iya kak.”


Melihat Erwin sudah menghilang dari pintu, Nadia mendekati suaminya.


“Apakah hubungan mereka sudah kembali membaik?” tanyanya.


Dion mengangkat kedua bahunya.


“Aku kurang tahu. Kita lihat besok,” sahutnya.


Setalah menutup pintu, ia merangkul bahu istrinya untuk kembali ke dapur, karena sebelumnya mereka memasak untuk makan malam bersama.


Di kamar, Erwin mengetuk pintu kamar mandi untuk menyerahkan pakaian yang ia bawa.


Tok! Tok!


“Nisa, aku membawa pakaian untukmu. Bukalah pintunya,” ucap Erwin sedikit berteriak.


“Iya, tunggu.” Sahut Nisa.


Ceklek ! pintu terbuka. Namun, hanya tangan Nisa yang muncul. Karena tidak mungkin baginya, membuka pintu lebar.


“Terimakasih.”


Nisa menutup kembali pintu kamar mandi, setelah mengambil pakaian dari tangan Erwin.


Tak butuh waktu lama, Nisa keluar kamar mandi. Ia menyisir rambutnya yang sedikit berantakan, lalu keluar kamar untuk menemui Erwin.


“Kau sudah mandi?” tanya Nisa melihat Erwin sudah berganti pakaian.


“Iya, sudah. Aku mandi dikamar mandi yang lain,” sahut Erwin.


“Kemari, duduk disini.”


Menepuk sofa empuknya, agar Nisa duduk di sampingnya.


Nisa tampak ragu, ia lebih memilih duduk di sofa yang ada di hadapan Erwin. Erwin tersenyum melihat Nisa yang sedikit takut.


“Erwin. Apa aku boleh pinjam ponselmu, aku ingin menghubungi putraku.”


“Oh iya... aku hampir lupa. Sebentar,” ucapnya berlari kecil masuk ke kamarnya.


Lalu kembali lagi dengan membawa ponselnya dan menyerahkan ponsel tersebut kepada Nisa.


“Ini... cepat hubungi Reyhan, aku juga sangat merindukannya,” ucap Erwin yang langsung duduk di samping Nisa, bahkan tidak ada celah karena terlalu dekat.


“Tidak bisa menyala!” ucap Nisa memperlihatkan ponsel tersebut.


Erwin mengambilnya lalu menekan lama on off nya.


“Ternyata ponselnya di nonaktifkan, sampai mati pun aku tidak akan bisa menghubunginya!” gumam Nisa dalam hati.


Setelah berhasil menghidupkan kembali ponsel tersebut, setelah tiga Minggu lebih di nonaktifkan.


Erwin tersenyum melihat, banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Nisa dan nenek.


Erwin kembali menggeser layar tersebut, untuk mencari nomor nenek Dira.


“Ini bicara lah, aku sudah menghubungi nomor Nenek,” ucap Erwin menyerahkan ponsel tersebut.


“Halo...” ucap seseorang dari dalam telepon, terpampang jelas wajah nenek karena saat ini Erwin melakukan dengan panggilan video.


“Nenek,” sahut Nisa.


“Nisa. Kau kah itu? Sayang, maafkan Nenek sudah membentakmu! Pulanglah sayang,” ucap neneknya.


“Aku akan pulang besok nek. Erwin tidak memperbolehkan aku untuk pulang.”


“Erwin. Kau bersama Erwin?” tanya nenek


Nisa mengangguk.


“Dimana Reyhan Nek?” tanya Nisa.


“Reyhan sedang bermain bersama Toni di bawah.”


“Apa demamnya menurun nek?”


“Iya, dia sudah sehat. Ia sedang bersama Toni, karena Toni membelikannya mainan baru.”


“Oh. Katakan padanya nek, aku sangat merindukannya. Aku akan pulang besok pagi Nek.”


“Iya, kau tenang saja. Apa Nisa besok kembali bersama Erwin?”


“Aku tidak tahu Nek,” lirih Nisa.


Ia melihat Erwin yang tersenyum melihatnya sejak tadi.


Terdengar suara ada yang menekan bel pintu.


“Kau bicaralah, aku membuka pintu sebentar,” ucap Erwin pelan.


“Baiklah Nisa. Berhati-hati lah besok, Nenek dan Reyhan menunggumu kembali,” ucap nenek.


“Iya Nek. Aku tutup dulu teleponnya nek,” pamit Nisa.


Setelah bicara cukup banyak, mereka mengakhiri panggilannya.


“Apa Sudah selesai bicara?” tanya Erwin yang datang membawa bungkus makanan.


“Sudah.”


“Oh, cepat sekali. Sekarang makanlah, setelah itu istirahat.”


Erwin membukakan kotak makanan tersebut dan meletakkannya di meja.


“Mmm... aku, aku besok pagi harus pulang,” ucap Nisa tampak ragu.


“Iya. Aku akan mengantarmu pagi besok, ke bandara.”


“Mm... bukan itu maksudku.”


“Lalu?” tamu Erwin menghentikan aktivitas makannya.


“Apa kau tidak ikut bersamaku?” tanya Nisa sedikit takut.


“Oh itu. Tergantung...”


“Tergantung apa?” tanya Nisa penasaran.


“Aku akan ikut bersama mu, dengan syarat!”


“Syarat?” tanya Nisa lagi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2