Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 151


__ADS_3

Sore itu mereka semua berkumpul tak terkecuali nenek Dira, mereka merencanakan akan membuat syukuran atas lahirnya putranya Dion.


Jangan di tanya keberadaan Reyhan, sejak pulang sekolah ia belum keluar dari kamar Nadia.


Ia bahkan betah berbicara dengan sang bayi yang masih belum mengerti pembicaraannya, Nadia hanya terkekeh mendengar ocehan Reyhan.


“Adek, bangun dong. Kita main yuk, kok tidur terus, sih!” ujar Reyhan mengelus pipi mulus bayi tersebut.


Walaupun Reyhan berusaha membangunkan bayi mungil tersebut, nyatanya tidur lebih menyenangkan baginya.


Kembali ke ruang tamu, setelah membicarakan syukuran putra Dion, Sifa memberanikan diri untuk berbicara kepada keluarga tentunya dengan bantuan kakak iparnya tersebut.


Awalnya Dion tidak setuju, karena menurutnya terlalu mendadak. Namun, Erwin memberinya pengertian dan akhirnya menyetujuinya.


Mereka meminta pria tersebut untuk datang ke rumah terlebih dahulu untuk berkenalan.


“Wih... adik kakak sebentar lagi akan bertunangan,” goda Dion.


“Ternyata kamu cepat sekali besar ya. Perasaan dulu masih ingusan deh!” ejeknya.


“Kok bisa menjelma menjadi wanita cantik seperti ini, ya?” tambah Dion lagi menggoda gadis yang di anggap adiknya sendiri.


“Ish, apaan menjelma! Memangnya aku siluman ular!” celetuk Sifa.


Membuat semua orang terkekeh mendengarnya.


***


Malam harinya, Sifa menunggu kedatangan pria yang mampu meluluhkan hatinya tersebut.


Tak lama terdengar suara klakson mobil, dengan segera Sifa berlari keluar rumah dan benar saja itulah suara klakson mobil kekasihnya.


“Assalamualaikum,” ucapnya memberi salam.


“Waalaikumsalam,” sahut Erwin.


Sifa tidak mengetahui jika kakaknya tersebut ada dibelakannya.


“Loh, kakak disini?” ujar Sifa.


“Hm...” deham Erwin.


Pria tersebut mengulurkan tangan kepada Erwin, Erwin menyambutnya dengan hangat dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Sialan! Dia lebih tampan dariku!” gerutu Erwin dalam hati.


Pria tersebut mencium tangan semua orang yang ada di ruang tamu.


“Silahkan duduk,” ujar Dion.


“Iya, terima kasih,” sahut ya.


Sifa hendak duduk di samping pria tersebut, akan tetapi kalah cepat dari Erwin.


Dengan terpaksa Sifa mencari tempat duduk lain.

__ADS_1


“Namamu siapa?” tanya Dion lembut.


“Nama saya Muhammad Yazid,” sahutnya.


“Oh Yazid. Dimana orang tuamu?” tanya ayahnya Erwin.


“Orang tua saya saat ini masih di Bandung, saya bekerja disini.”


Yazid tampak gugup, apalagi semua orang menatapnya.


Setelah perbincangan hangat mereka, keluarga besar Sifa menyetujui hubungan mereka dan akan melangsungkan pertunangan secara bersamaan dengan syukuran putra Dion yang akan di adakan Seminggu lagi.


Ayah Erwin meminta kepada Yazid agar keluarganya datang ke rumah untuk membicarakan pertunangan tersebut, Yazid menyetujuinya.


Mereka tidak bertanya dari mana Yazid berasal dan apa pekerjaannya. Yang terpenting bagi mereka adalah kebahagiaan Sifa.


***


Seminggu sudah berlalu, tampak beberapa orang di dalam rumah tersebut sedang sibuk menyiapkan acaranya tersebut.


Nisa juga tampak ikut membantu pekerjaan yang ringan, karena suaminya pasti tidak memperbolehkannya untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.


Acara sudah di mulai dengan memotong sedikit rambut sang bayi, di pandu dengan pembacaan doa dan sholawat.


Setelah selesai, di lanjut dengan pertunangan Sifa. Mereka saling bertukar cincin lalu di lanjut dengan pembacaan doa juga.


Setelah selesai semua orang tampak mengambil makanan yang terhidang di meja, Reyhan tampak tidak mau jauh dari putra Dion tersebut, sejak acara di mulai ia selalu duduk di samping bayi mungil tersebut.


Saat semua orang sibuk mengambil makanan, terdengar teriakan dari arah dapur.


“Kenapa dengan istriku?” tanya Erwin yang langsung berdiri dari tempat duduknya, saat mendengar nama istrinya di sebut.


“Nona kesakitan,” ujar Mala.


Erwin langsung berlari ke arah dapur, bersama beberapa orang berlari mengikutinya.


“Sayang!” panggil Erwin yang melihat istrinya kesakitan.


Melihat darah banyak keluar dari arah belakang, wajah semua orang ikut cemas melihat keadaan Nisa.


“Kita akan ke rumah sakit sekarang,” ujar Erwin menggendong istrinya.


“Siapkan mobil!” teriakannya.


Erwin setengah berlari, di ikuti oleh Bu Anita dan suaminya. Sedangkan nenek Dira mengikutinya dengan mobil lain bersama Toni.


“Apa yang terjadi?” tanya Dion kepada semua pekerja yang ada di dapur.


“Nona kesandung kakinya sendiri, tuan! Saat itu nona meminta air minum kepada kami,” ujar salah satu pembantu yang ada dirumah tersebut.


“Astaga!” ucapnya mengusap wajahnya dengan kasar.


“Ada apa kak? Apa kak Nisa baik-baik saja?” tanya Nadia yang tak kalah khawatir.


“Kita berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa pada Nisa dan bayinya yang ada di kandungannya.”

__ADS_1


Dion masih menemani para tamu yang masih berada di dalam rumah tersebut, begitupun dengan Sifa.


Tampak Sifa menyeka air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja, ia tidak menyangka jika hari bahagia harusnya ditemani oleh kakak iparnya.


Tiba di rumah sakit, Nisa sudah tidak sadarkan diri. Saat di dalam mobil, Nisa mengaduh kesakitan karena tidak kuat menahan rasa sakitnya yang sangat luar biasa.


Nisa langsung di bawa masuk ke IGD, Erwin dan Bu Anita juga ikut masuk.


“Apa yang terjadi Dok? Bagaimana keadaan istri saya dan calon anak saya?” pekik Erwin yang sangat khawatir.


“Erwin, biarkan Dokter bekerja! kita berdoa sayang, agar Nisa dan bayi nya baik-baik saja.!” ujar Bu Anita menenangkan anaknya.


Bu Anita mengajak putranya keluar dari IGD tersebut untuk menunggu di luar, karena membuat Dokter tidak bisa konsentrasi akibat pertanyaan Erwin yang bertubi-tubi.


Erwin duduk di kursi sambil memegang kepalanya dengan siku yang bertumpu di lututnya.


Nenek juga tidak kalah khawatir, berulang kali Toni menenangkan nenek Dira, dikarenakan nenek mempunyai riwayat tekanan darah tinggi.


Pintu IGD terbuka, tampak perawat keluar untuk memanggil mereka masuk di minta oleh dokter.


Semua orang masuk ke dalam, tak terkecuali nenek Dira. Hanya Toni yang menunggu di luar, karena tidak baik terlalu banyak orang yang masuk ke dalam.


“Dokter, bagaimana keadaan istrinya saya Dok?” tanya Erwin.


Dokter menghela napas berat.


“Nona harus segera di operasi! Saya hanya bisa memberi satu pilihan, selamatkan anak nya atau ibunya. Jika tidak segera di operasi sangat berbahaya bagi keduanya,” ujar dokter memberi penjelasan.


Deg!


Tampak Erwin terdiam, bahkan ia tidak bisa memilih antara salah satu dari mereka.


“Saya tidak mempunyai banyak waktu, Pasien harus segera di operasi!”


Erwin menatap nenek Dira, lalu mengangguk dengan air mata yang menetes.


“Nenek ikhlas. Nenek serahkan kepadamu semuanya!” lirih nenek Dira.


Nenek Dira menepuk pelan bahu Erwin dan berlalu pergi. Ia tidak ingin mendengarkan keputusan Erwin.


Erwin menatap kedua orang tuanya, mereka juga mengangguk pelan.


Dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan suaranya pun bergetar.


“Selamatkan Ibunya, Dokter!” ucap Erwin.


Langkah nenek Dira terhenti mendengar keputusan Erwin, orang tuanya pun mengelus pelan bahu Erwin.


“Ini keputusan yang benar sayang, Ikhlaskan semuanya,” ujar Bu Anita memberi semangat untuk putranya.


“Baik. Silahkan tanda tangani ini,” ujar Dokter menyerahkan kertas tersebut, tanda setuju dengan operasi tersebut.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2