Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 67


__ADS_3

“Istri Bapak sudah melewati masa kritis, dan sekarang masih belum sadar karena ada efek obat bius total.”


Dokter menjelaskan hasil Radiologinya kepada Bara, terlihat jelas tulang kering yang retak parah. Tulang siku sebelah kiri yang bergeser, akibat terpental cukup jauh dan tubuh Nisa terhempas kuat ke aspal.


Beruntung dengan cepat dibawa ke rumah sakit, untuk secepatnya mendapatkan penanganan medis.


Bara mendengar penjelasan Dokter itu, seketika tubuhnya menjadi lemas.


“Apa istrinya saya akan bisa berjalan lagi? Seperti sediakala,” tanya Bara.


“Iya bisa. Harus disiplin kontrol dan minum obat, tentu semuanya butuh proses Pak! Dilatih berjalan perlahan-lahan, nanti beransur-ansur akan membaik. Istri anda wanita yang sangat kuat Pak,” Sahut Dokter menjelaskan.


Bara masih bisa bernapas lega, mendengar ucapan Dokter. Bahwa istrinya bisa berjalan kembali, walaupun melalui proses panjang.


“Terimakasih Dok,” ucap Bara.


Setelah selesai, Bara keluar dari ruangan Dokter, lalu masuk ke ruangan istrinya yang sebelumnya sudah dipindah ke ruang perawatan.


Bara tidak tega melihat istrinya yang terbaring lemah dibangsal rumah sakit, kaki dan tangan kiri dibalut perban. Wajah yang dipenuhi luka-luka kecil, leher yang terpasang cervical collar atau penyangga leher.


“Sayang, maafkan suamimu ini! Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu,” ucap Bara.


Cairan bening yang mengalir begitu saja di pipi mulusnya, baru pertama kalinya ia menangis untuk wanita.


“Kau sungguh keras kepala! Kalau saja kau mendengarkan ku saat itu, kau tidak akan seperti ini! Sayang.”


Bara mengelus pelan kepala istrinya, mencium beberapa kali.


“Cepat sembuh sayang. Aku akan mencari tahu ini semua! Apa ada hubungannya dengan pengancaman itu, aku akan membalas semuanya sayang!”

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkan mereka menghirup udara bebas! Setelah melihat kondisimu seperti ini,” Ucap Bara dalam hati.


Ia duduk di kursi sebelah kanan, mengelus pelan lengan istrinya. Bara kelopak mata istrinya perlahan terbuka.


“Aa—i—rr,” lirih Nisa.


Bara yang kurang jelas mendengar perkataan istrinya, ia mendekatkan daun telinga ke bibir istrinya.


“Kau bicara apa sayang? Aku tidak mendengarnya,” ucap Bara lembut.


“Aa—i—rr.”


“Air? Kau haus?” tanya Bara.


Nisa yang tidak bisa mengangguk, ia hanya bisa mengedipkan kedua matanya.


Bara hendak mengambil botol air mineral, lalu membuka tutupnya. Namun, niatnya terhenti ketika melihat Dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruangan.


“Sudah Dok,” sahut Bara.


Dokter memeriksa keadaan Nisa, mulai dari melihat matanya dan juga beberapa bagian tubuh lainnya.


“Apakah Nona ada keluhan mual dan pusing?”


“Ti—dak Dok,” sahut Nisa masih dengan suara lemah.


“Tekanan darahnya sudah normal. Pak Bara, istrinya jangan terlalu banyak gerak dulu ya.”


“Iya Dok.”

__ADS_1


“Kapan istri saya dibolehkan pulang?”


“Kita lihat perkembangannya dalam dua hari ini. Jika keadaannya sudah membaik, hari berikutnya sudah boleh pulang.”


Bara mengangguk.


“Ha—uu-ss Dok,” lirih Nisa.


“Nona pasti sangat haus. Tunggu Nona buang gas dulu ya, setelah itu boleh minum air mineral. Karena buang gas menandakan usus dan pencernaan sudah Kembali normal. Namun, harus diberikan sedikit demi sedikit.”


Nisa mengangguk pelan.


“Baiklah, saya permisi,” Pamit Dokter.


“Terima kasih Dok,” ucap Bara.


Bara menatap istrinya merasa sangat kasihan, kesulitan bergerak bahkan bicara pun masih kurang jelas.


“Bertahanlah sayang,” Ucap Bara mengusap kepala istrinya.


“Apa kau sudah buang gas?”


Bara mendengar suara kentut istrinya.


“Su—dah Mas,” sahut Nisa.


Bara tersenyum, dengan telaten ia memberikan air minum kepada istrinya, dengan memakai sendok yang sudah di sediakan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2