Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 45


__ADS_3

Disiang hari, Bara baru saja keluar kantor tempat dimana ia melakukan interview.


Dengan wajah yang sumringah ia memasuki mobil, Bara sudah tidak sabar ingin memberitahu kabar gembira.


Dengan kemampuannya, ia bisa mendapatkan jabatan yang sesuai dengan kemampuannya.


Ia mengendarai mobil dengan santai, karena jalanan yang cukup padat kendaraan. Saat ini ia melintasi jalanan yang cukup ramai, ia melihat seorang perempuan tua yang berdiri dipinggir jalan. Karena kasihan, Bara berniat menolongnya.


“Kenapa dengan mobilnya nyonya?” tanya Bara menurunkan kaca mobilnya.


“Mobil saya mogok, saya sedang menunggu jemputan datang,” sahut wanita tua itu.


Bara keluar mobilnya, menghampiri wanita tersebut.


“Apa boleh saya lihat nyonya?”


“Boleh,” sahut sambil tersenyum


Bara membuak kap mobil depan, namun ia tidak menemukan apa yang rusak, karena memang bukan ahlinya.


“Saya tidak terlalu mengerti mesin, mungkin saya bisa membantu nyonya mengantar ke rumah?”


Wanita tersebut terdiam sejenak, mempertimbang ajakan Bara.


“Boleh, kalau saya tidak merepotkan anda. Mungkin sopir saya masih lama tiba, apalagi jalanan cukup macet.”


“Mari nyonya,” ajak Bara.


“Terima kasih sebelumnya,”


“Sama-sama nyonya.”


Setelah masuk mobil, Bara mengendarai mobil dengan santai.


“Kalau boleh tahu, nyonya tinggal di daerah mana?” tanya Bara.


“Saya di jalan xx, saya beru berkunjung ke restoran milik saya. Tapi, di tengah jalan pulang mobilnya malah mogok.”


“Oh ya. Kenapa tidak memakai sopir? sangat bahaya jika keluar sendiri.”


“Sopir saya ada urusan mendadak, maka dari itu saya menyetir sendiri. Saya merindukan salah satu karyawan saya. Tapi dia sudah tidak bekerja lagi,” ucapnya sedih.


Wanita itu baru menyadari, sejak tadi dirinya banyak berbicara dan merasa tidak enak kepada Bara.


“Maaf saya banyak bicara,” ucap wanita itu merasa tidak enak.


Bara tersenyum.


“Tidak apa-apa nyonya. Pasti menyenangkan punya bos seperti nyonya, sangat baik dan menyayangi karyawannya,” puji Bara.


“Gadis itu sangat mirip dengan anakku, aku pernah menolongnya saat dia pingsan di jalan. Itulah pertemuan pertama kami, saat ini aku mengetahuinya ternyata dia sekarang sudah berhenti.”


“Sangat beruntung sekali gadis itu, mempunyai bos sebaik nyonya.”


“Iya, entah kemana aku mencari gadis itu. Dalam berapa bulan ini aku sibuk dan baru kembali dari luar negeri.”


“Kalau jodoh pasti akan bertemu nyonya,” ucap Bara.


Wanita paruh baya tersebut mengangguk tersenyum, lalu sejenak memperhatikan Bara.


“Apa kamu sudah menikah?” pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


“Saya sudah menikah nyonya,” sahut Bara.


Terlihat raut wajah sedih dari wanita tersebut.


“Oh aku pikir kamu belum menikah, kalau tidak aku mau menjodohkan mu dengan gadis baik itu.”

__ADS_1


Bara tersenyum.


“Maaf nyonya,” ucapnya.


“Wanita itu sangat beruntung mempunyai suami baik sepertimu,” ucap wanita itu.


Mendengar ucapan wanita tersebut, ada rasa bersalah yang amat dalam, bagaimana perlakuan kepada istrinya dulu.


“Kenapa kamu diam nak? Apa ada masalah?” tanya wanita tersebut, melihat Bara terdiam.


“Istri ku sangat baik nyonya, aku yang sangat beruntung memilikinya, Bahkan aku sangat takut kehilangannya,” tutur Bara.


“Kamu sepertinya sangat mencintai istrimu?”


“Sangat nyonya,” ucap Bara tersenyum.


Wanita tersebut tersenyum simpul.


Bara masih mengendarai mobil dengan santai, tampak di depan banyak mobil yang berhenti.


“Kenapa tiba-tiba macet?” gumam Bara.


Ia sedikit membuka kaca mobilnya, hendak bertanya kepada pengendara motor yang lewat.


“Ada apa di depan pak?” tanya Bara kepada pengendara motor yang berhenti tepat di samping mobilnya.


“Sepertinya ada kecelakaan pak, sejak tadi mobil polisi beserta ambulance lewat,” sahut pengendara tersebut.


“Oke, terima kasih info nya pak.”


“Sama-sama pak.”


“Ada apa?” tanya wanita tersebut.


“Ada kecelakaan nyonya.”


“Oh, sangat prihatin kalau ada yang kecelakaan seperti ini,” sahut wanita tersebut sedih.


“Iya nyonya, kadang banyak juga yang tidak memikirkan keselamatan mereka. Contoh nya bagi pengendara motor tidak memakai helm, padahal itu sangat penting.”


“Iya.”


“Nyonya, sepetinya ini akan lama. Kalau tidak keberatan, Apa nyonya mau mampir ke rumah saya? kebetulan tidak jauh dari sini,” ajak Bara.


Karena tidak sabar ingin bertemu istrinya untuk menyampaikan berita bahagianya dan juga kepalanya mulai terasa pusing.


“Tidak masalah,” sahut wanita itu tersenyum tanda menyetujuinya ajakan Bara.


Bara membelokkan mobilnya, menuju jalan ke rumahnya. Tak butuh waktu lama, mereka tiba di rumah milik Bara.


“Ayo nyonya, maaf rumah saya kecil.”


“Kecil tidak masalah, yang penting nyaman,” sahutnya.


Bara mengajaknya untuk masuk, beberapa kali Bara memencet bel. Namun, istrinya belum membuka pintu.


Bara memutar kenop pintu, yang ternyata tidak di kunci.


“Masuk nyonya, ternyata pintunya tidak di kunci. Mungkin istriku sedang di kamar.”


“Silahkan duduk dulu, aku akan memanggil istriku,” pamit Bara.


Wanita tersebut duduk di sofa, cukup penat sejak tadi duduk di mobil.


Ia membuka ponselnya sambil, menyadarkan tubuhnya di sofa empuk.


“Sayang,” panggil Bara saat membuka pintu kamar milik istrinya.

__ADS_1


Nisa tampak terkejut melihat suaminya sudah pulang.


“Loh, sudah pulang? Aku tidak mendengar suara mobilmu atau bel berbunyi.”


“Kau sedang apa? Hingga tidak mendengar bel berbunyi, hingga berapa kali aku menekannya,” tutur Bara ikut duduk di sebelah istrinya.


“Oh ya? Sungguh aku tidak dengar, maaf ya,” ucap Nisa merasa bersalah.


“Tidak apa-apa. Lain kali, kunci pintu jika kamu di kamar, Sangat berbahaya! mengingat banyaknya kejahatan kriminal sekarang. Walaupun di dalam rumah, kita harus selalu waspada.”


“Iya, maaf,” sahut Nisa singkat.


“Kau menonton apa?” melihat Nisa sedang serius ke layar tv.


“Ada kecelakaan, sungguh mengerikan.”


“Sudah, berhenti melihatnya,” ujar Bara mengambil remote dan langsung menekan tombol of.


“Apa kamu sudah makan?” tanya Nisa.


Bara menggelengkan kepalanya.


“Belum. Kau tahu, aku lulus interview dan besok aku mulai bekerja,” ucap Bara senang.


“Wah, selamat ya suamiku,” sahut Nisa ikut senang.


“Beri aku hadiah,” ucap Bara.


“Hadiah apa? Mau Hadiah uang?”


“Tidak, bukan uang. Ini saja,” ucap Bara dengan cepat mencium tepat di bibir istrinya.


“Kau ini,” kesal Nisa dengan wajah memerah malu.


Ia memukul bahu suaminya pelan.


“Ayo kita makan siang, aku sudah lapar menunggu mu pulang,” ajak Nisa.


“Kau duluan, aku akan menggantikan pakaian ku terlebih dahulu.”


“Oh iya sayang, ada tamu di bawah, seorang perempuan.”


“Tamu, perempuan?”


Nisa menatap suaminya dengan penuh arti.


“Iya, seorang wanita sudah paruh baya. Aku tidak sengaja bertemu dengannya, karena mobilnya mogok. Aku ingin mengantarnya tadi, tapi jalanan sangat macet akibat kecelakaan,” Ujar Bara menjelaskannya.


“Oh...”


“Tolong buatkan minum untuknya, aku akan segera menyusul,” Ujar Bara.


Mereka bersamaan keluar kamar.


“Iya,” Sahut Nisa.


Nisa turun, langsung menuju dapur. Ia membuatkan minum untuk suaminya dan tamunya.


Setelah selesai, Nisa meletakkannya di nampan dan membawa nya keluar.


Alangkah terkejutnya, ternyata Nisa sangat mengenali wanita yang di tolong oleh suaminya.


“Nenek,” panggil Nisa.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih banyak untuk dukungan kalian semua.


__ADS_2