
Sudah cukup lama mereka menunggu di luar, akan tetapi pintu ruangan operasi belum juga terbuka.
Erwin terlihat mondar mandir di depan pintu tersebut, sesekali ia melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Minum dulu nak,” ujar Bu Anita memberinya sebotol air mineral.
Erwin melirik botol air mineral yang ada di tangan Maminya, lalu mengambil dan meminumnya.
Terlihat dari kejauhan Dion dan Sifa datang bersamaan dengan langkah kaki besar menuju ke arah mereka.
“Mi, bagaimana dengan kak Nisa?” tanya Sifa dengan wajah khawatir.
“Kakak mu sedang berjuang di dalam, kita berdoa semoga semuanya selamat,” sahut Bu Anita.
Dion mengelus pelan bahu Erwin. Sementara nenek Dira masih duduk di kursi, tentunya selalu ada Toni di sampingnya. Nenek Dira tidak berbicara sepatah kata pun semenjak keluar dari IGD, hanya duduk termenung sambil menatap pintu tersebut.
Setelah cukup lama menunggu, pintu ruang operasi terbuka memperlihatkan sang Dokter yang menangani istrinya keluar.
Semua orang menghampiri Dokter tersebut, memberikan pertanyaan yang sama.
“Bagaimana keadaan istri saya?” tanya Erwin.
Dokter tersebut menepuk pelan bahu Erwin sambil tersenyum paksa.
“Mari ikut ke ruangan saya,” ujar Dokter.
Erwin mengekori belakang Dokter tersebut, sebelum itu ia mengajak Nenek Dira untuk pergi bersamanya. Walaupun Nisa sudah jadi tanggung jawabnya, tetap saja nenek juga punya hak terhadap Nisa.
Semua orang terlihat cemas, karena dokter belum memberi jawaban yang jelas kepada mereka.
Sesampainya di dalam ruangan, nenek dan Erwin duduk di kursi yang ada di hadapan mereka hanya meja yang menjadi penghalang diantara dokter dan pasien.
“Dokter. Apa istri saya baik-baik saja?” tanya Erwin lagi.
Ia merasa ada yang aneh, apalagi melihat wajah sang dokter sejak keluar dari ruang operasi tersebut.
Dokter menghela napas berat sebelum berbicara.
“Kedua bayi perempuan anda selamat. Saat ini sang bayi masih dalam inkubator, karena lahir prematur. Maka bayi harus di rawat di rumah sakit,” ujar dokter.
Mendengar kedua bayinya selamat, nenek sedikit bernapas lega. Ada sedikit senyum di wajah mereka berdua, dokter pun ikut tersenyum melihatnya.
Namun, Erwin kembali menanyakan bagaimana keadaan istrinya, ia bahkan belum sepenuhnya bernapas lega, sebelum mengetahui keadaan istrinya.
“Lalu, bagaimana dengan istri saya Dok?”
Nenek juga tidak sabar menunggu jawaban dokter tersebut.
__ADS_1
“Istri anda sedang berjuang. Saat ini, istri anda sedang koma. Kami akan berusaha membantu semampu kami,” ujar dokter bicara dengan hati-hati.
Raut wajah Erwin semula sedikit cerah, kini kembali murung. Bahkan ia seakan tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar perkataan dokter tersebut.
“Apakah keadaan istri saya sangat bahaya?” tanya Erwin.
“Kita berdoa, semoga semuanya kembali membaik,” sahut dokternya.
“Dokter, lakukan yang terbaik untuk cucu saya. Bagaimana jika saya membawanya ke luar negeri?” Usul nenek.
“Sebenarnya disini semua alat cukup lengkap. Namun, kembali lagi kepada Nyonya. Jika ingin membawa Nona Nisa, saya akan membuat surat rujukan.”
“Saya serahkan keputusan semua kepada Tuan dan Nyonya,” tambah dokter lagi.
“Kami akan berdiskusi dengan keluarga kami, Dok!” ujar Erwin.
“Baiklah.”
“Kami permisi Dok,” pamit Nenek dan Erwin.
Setelah keluar dari ruangan dokter, Erwin berjalan gontai bahkan seperti tidak bersemangat.
“Erwin. Apa kata Dokter?” tanya Bu Anita yang tidak kalah khawatir.
Semua orang menunggu jawaban dari Erwin.
“Lalu, bagaimana dengan Nisa?” tanya ayahnya.
Huftt! Lagi-lagi Erwin menghela napas berat, ia duduk di kursi tersebut. Sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.
“Kak,” panggil Sifa duduk di samping kakaknya tersebut.
Erwin menggelengkan kepalanya.
“Apa yang terjadi, Erwin?”
Melihat tidak ada jawaban dari Erwin, Bu Anita beralih kepada nenek Dira.
“Nyonya. Bagaimana keadaan menantuku? Semuanya baik kan?” tanya Bu Anita memegang lengan nenek Dira.
“Nisa sedang berjuang Mi, saat ini Nisa sedang koma. Karena Nisa mengalami pendarahan hebat,” ucap Erwin dengan tatapan kosong.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Erwin, bahkan Sifa menangis dalam pelukan Dion.
“Kakak. Hiks! Hiks!”
Dion berusaha menenangkan adiknya tersebut, hingga napas Sifa tersengal karena banyak menangis.
__ADS_1
“Jangan menangis sayang. Kita harus berdoa, semoga semuanya kembali membaik.”
“Kita harus kuat. Lihat dua malaikat kita, mereka berdua sangat kuat seperti ibunya!’ ujar Bu Anita menenangkan putrinya.
Mereka semua masih menunggu di luar, hingga datang perawat memanggil Erwin. Karena Nisa sudah di pindahkan ke ruang ICU.
Erwin memakai baju pelindung jika ingin melihat istrinya, ia melihat istrinya yang terbaring lemah. Banyak alat yang terpasang di tubuhnya.
“Sayang,” panggil Erwin.
Walaupun Nisa tidak menjawabnya, ia yakin Nisa bisa mendengarnya.
“Anak kita sudah lahir sayang. Mereka sangat kuat seperti ibunya, mereka perempuan sayang. Seperti yang di katakan Reyhan oleh putra kita, jika adiknya adalah perempuan.”
“Kamu harus berjuang demi anak kita, demi aku, demi keluarga kecil kita. Kamu adalah wanita kuat sayang, berjuanglah sayang!” tambah Erwin lagi.
“Jangan tinggalkan aku. Aku tidak tahu lagi, jika hidupku tanpa mu! Perjuangan ku mendapatkan mu itu tidak mudah sayang! Dan setelah mendapatkan mu, kau ingin pergi meninggalkan ku. Apa kau tidak menghargai perjuanganku selama ini?!” Ujar Erwin bicara tidak jelas di dalam ruang ICU tersebut.
Biasanya Erwin paling anti untuk menangis di depan wanita. Tapi, kali ini dia tidak bisa menahan tangisnya lagi, bahkan ia terisak-isak.
“Lihatlah, kau membuatku menangis! Kau tahu jika aku tidak mungkin menangis di hadapan wanita. Tapi, kau malah membuatku seperti ini. Apa kau tidak malu jika orang lain melihat suamimu ini menangis!”
Cukup lama ia di dalam ruangan tersebut, nenek Dira datang menghampirinya dan mengusap bahunya.
“Nenek,” panggil Erwin.
Dengan cepat ia menghapus air matanya, agar tak terlihat oleh nenek Dira jika dirinya baru saja mengeluarkan air mata.
“Lihatlah cucuku. Pria yang ada di hadapanmu ini menangis, untuk pertama kalinya Nenek melihatnya seperti ini. Bertahanlah sayang,” ujar Nenek Dira mengusap lengan cucunya tersebut.
“Nisa, dua putrimu sedang menunggumu sayang. Mereka ingin merasakan asi mu, mereka ingin memelukmu dan mereka juga ingin ada di pangkuanmu!” tambah nenek lagi.
Nenek dan Erwin cukup lama berbicara dengan Nisa di dalam ruangan tersebut, meskipun tidak ada respon sama sekali dari Nisa.
Mereka secara bergantian masuk rumah ICU tersebut, di saat Sifa dan Bu Anita masuk Sifa tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Dalam beberapa bulan saja kenal dengan kakak iparnya tersebut, ia sudah sangat akrab dengan Nisa. Bahkan melihat kakak iparnya seperti ini ia sangat terpukul.
“Sayang, kita keluar saja. Mami tidak ingin kamu menangis di hadapan kakakmu, kita harusnya memberinya semangat! Bukan begini sayang,” ujar Bu Anita menenangkan putrinya tersebut.
Baru memasuki ruangan tersebut Sifa sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, sehingga Bu Anita mengajaknya kembali keluar.
.
.
.
__ADS_1