
Erwin beserta yang lainnya, baru saja tiba di titik lokasi tersebut.
Tidak ada apapun di sana, hanya lahan kosong, yang penuh dengan semak-semak.
“Shit...! tidak ada apapun disini! Kita berpencar,” perintah Toni.
Begitupun dengan Dion dan Ayahnya, mereka juga ikut berpencar. namun, tidak dengan Erwin. Ia tidak ikut berpencar, hanya berdiri di depan mobilnya terparkir.
Ia menghidupkan senter dari ponselnya, melihat sebuah semak-semak dan di kelilingi pohon rimbun. Karena minim nya penerangan, terlihat sebuah gubuk kecil yang nyaris tak terlihat karena tertutup oleh pepohonan.
Erwin mendekati gubuk tersebut dengan menggunakan penerangan melalui ponselnya.
Bugh ...! bugh...! seseorang memukulnya dari belakang dengan kayu.
Erwin merasakan sakit yang luar biasa, hingga ponselnya terjatuh. Ia bahkan belum sempat melihat wajah seorang yang memukulnya, Erwin tergeletak di tanah dan pingsan.
Pria tersebut mengendong Erwin dan meletakkannya di mobilnya yang tersembunyi di balik semak-semak.
Lalu berlari kecil ke gubuk tersebut, mengendong wanita yang masih dalam keadaan terikat, tiada lain adalah Nisa.
Ia meletakkannya di dalam mobil, tepat di samping Erwin yang masih tak sadarkan diri.
“Erwin. Dia disini?” batin Nisa.
Melihat kepala Erwin yang tidak sadarkan diri, Nisa memberontak di dalam mobil tersebut, agar penculik tersebut membukakan ikatannya.
“Diam! Apa kau mau ku bunuh?!” ancamnya memperlihatkan senjata tajam ke arah Nisa.
Nyali Nisa langsung menciut, ia tak dapat melihat wajah pria tersebut, karena penculik tersebut memakai topeng.
“Jika Erwin disini, pasti Toni juga disini,” batin Nisa.
Nisa melihat Pria tersebut seperti sedang mencari sesuatu, ia keluar untuk kembali ke gubuk tersebut sambil berlari.
Kesempatan Nisa untuk berusaha melepaskan ikatannya, bersusah payah membuka ikatannya tersebut. Namun, ikatan tersebut tidak bisa terlepas, karena terikat dengan sangat kuat.
Nisa tidak kehabisan akal, ia berdiri berusaha untuk ke kursi depan agar bisa menekan klakson mobil.
Tin! Tin! Ia menekannya berulang kali.
Penculik itu baru saja ingin memasuki gubuk tersebut, langkahnya terhenti mendengar ada yang menekan klakson mobil.
“Sialan...!” umpatnya kembali berlari menuju mobilnya.
Melihat pria tersebut berlari ke arah mobil, Nisa semakin menekan klakson mobil tersebut berulang-ulang.
Tin...! tin...! tin...!
“Brengsek kau!” bentaknya.
Membuka pintu mobil, lalu mendaratkan pukulan dua kali di wajah mulus Nisa.
Bugh...! Bugh...!
Nisa langsung tak sadarkan diri.
Ia mendorong tubuh Nisa agar menyingkir dari kursi tersebut, hingga terjatuh ke belakang.
Sebelumnya dia sudah mengetahuinya jika ada rombongan Toni datang ke tempat persembunyiannya, maka dari itu ia mengurungkan niatnya untuk menculik Reyhan, putra kandung Nisa.
***
__ADS_1
Toni dan yang lainnya mendengar jelas suara klakson mobil tersebut berbunyi berkali kali, Toni dan Dion berlari ke arah suara.
Namun, terlambat mobil tersebut sudah melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan area tersebut.
Toni dan Dion masuk ke mobil untuk mengejar mobil tersebut, begitupun dengan yang lainnya.
Dion sangat lihai mengendarai mobil tersebut, hingga mampu mengejar mobil yang di duga ada Nisa di dalamnya.
Toni menghubungi anak buahnya, untuk mencari jalan pintas agar mobil penculik tersebut tak bisa lari lagi, saat ini masih terjadi aksi kejar kejaran menggunakan mobil.
Ciiiitt...!
Suara rem mobil berdecit, melihat ada dua mobil yang menghadang di depannya. Pria tersebut langsung menginjak rem mendadak.
Bruakkk...!
Mobil yang di kendarai Dion, menabrak belakang mobil penculik tersebut, beruntung saat itu ia masih sempat menginjak remnya.
“Shit...! hampir saja!” umpat Dion.
Toni dan Dion melepaskan seat belnya, langsung berlari ke arah mobil tersebut.
Mobil penculik tersebut di kelilingi oleh beberapa orang.
Pria tersebut mengambil senjata tajam dan menarik tubuh Nisa, dan meletakkan senjata tersebut di lehernya.
Toni yang berhasil membuka paksa pintu mobil tersebut, langsung terdiam ketika melihat Nisa terkulai lemas tak berdaya di tambah pria tersebut meletakan senjata tajam di lehernya.
Toni belum melihat wajah pria tersebut, karena masih dalam memakai topeng.
“Apa yang kau inginkan?!” tanya Toni menatapnya tajam.
“Hahaha... kau bertanya apa yang ku inginkan?!”
“Siapa kau?” tanya Toni.
“Kau mau tahu siapa aku? Baiklah...!” ucapnya dengan tersenyum licik.
“Tapi sebelum kau tahu aku sebenarnya, aku akan membunuh bos muda mu ini! Hahaha...” tawa jahatnya memenuhi mobil tersebut.
Anak buahnya ingin maju untuk menghajarnya. Namun, di tahan oleh Toni, karena melihatnya memegang senjata tajam.
“Aku akan memberikan semua yang kau ingin kan. Tapi tolong lepaskan dia,” tawar Toni.
“Ckckck...! tidak semudah itu kawan, aku bahkan tidak mau uangmu.”
“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Toni lagi.
Toni melihat Erwin yang baru saja membuka matanya di kursi belakang, maka dari itu Toni sengaja mengajaknya bicara agar mengalihkan perhatiannya.
“Cih...! kau sama seperti bos mudamu ini! Tidak punya hati!” bentaknya.
“Kalian bisa makan enak dan tidur nyenyak. Sedangkan aku, aku menderita karena kalian!” bentaknya lagi.
“Maka dari itu kalian harus merasakan apa yang aku rasakan...!” jeritnya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud? Mungkin kita bisa bicara baik-baik,” tawar Toni lagi.
Toni masih melirik Erwin yang malah membuka baju di kursi belakang tersebut.
“Apa yang orang ini lakukan?!” kesal Toni dalam hati.
__ADS_1
“Dasar licik...!” bentaknya kepada Toni.
“Bagaimana jika aku....”
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Erwin menutup wajah pria tersebut dengan bajunya. Lalu, dengan sigap Toni mengambil senjata tajam di tangannya dan menyeret pria tersebut untuk keluar mobil.
Toni beserta yang lain mengikat pria tersebut, dengan posisi tengkurap.
Erwin yang ada di dalam mobil, menarik Nisa pelan agar duduk di kursi.
Tampak jelas luka lebam di pipinya yang terlihat sudah membiru.
Erwin membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Nisa, lalu membuka isolasi yang menutup mulutnya.
“Nisa, bangun sayang...” ucap Erwin yang begitu sangat cemas, hingga ia tak mempedulikan kepalanya yang sakit, akibat pukulan benda tumpul oleh penculik tersebut.
Karena merasa ada pergerakan, Nisa mulai mengerjapkan kedua matanya. Penglihatannya masih buram, samar-samar melihat wajah Erwin.
Erwin melihat mata Nisa terbuka, langsung memeluknya dengan perasaan penuh haru, tanpa sadar mencium kening Nisa berkali kali.
Di luar mobil, melihat pria tersebut sudah terikat. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mengubah posisi penculik tersebut untuk duduk.
Toni berjongkok, membuka paksa topeng pria tersebut. Betapa terkejutnya dan tidak menyangka penculik tersebut adalah mantan karyawannya.
“Kau...!” menatapnya sangat geram.
Plak! Plak! Plak!
Toni sudah tidak bisa menahan dirinya, ia menampar pria tersebut dengan perasaan yang sangat marah.
Plak!
Untuk yang keempat kalinya, ia menampar dengan kuat di pipi kiri pria tersebut dengan kuat.
“Bos, tahan emosimu! Biarkan pihak yang berwajib yang akan mengurusnya! Kita jangan main hakim sendiri,” ucap salah satu anak buahnya memperingati.
“Shit...!” umpat Toni.
“Serahkan dia malam ini juga, kepada polisi!” perintah Toni menatapnya dengan penuh kebencian.
Pria tersebut adalah Andi. Andi adalah karyawan yang sangat Toni percayai setelah pak Zaky.
Mereka di percayai untuk mengurus perusahaan, jikalau Nenek Dira dan dirinya keluar negeri.
Awalnya Toni mencurigai pak Zaky. Namun, tidak ada bukti jika pak Zaky terlibat. Akan tetapi bukti tersebut mengarahkan kepada Andi mantan karyawannya.
Seminggu sebelum di pecat, Toni memanggil Andi ke ruangannya. Toni memperlihatkan bukti kepada Andi, jika dirinya terlibat dalam penyalahgunaan uang perusahaan dan juga menyabotase rekaman CCTV.
Awalnya ia mengelak, atas tuduhan tersebut. Namun, ia tidak berdaya karena semua bukti jelas bahwa dialah pelakunya.
Toni memberi dia pilihan kepada Andi, memilih untuk di penjara seumur hidup atau menyerahkan uang dan fasilitas yang ia beli dengan menggunakan uang perusahaan.
Perdebatan cukup sengit di ruangan tersebut, bahkan Nisa pun ada di ruangan tersebut.
Akhirnya Andi mengalah dan menyerah, ia memilih semua uang dan fasilitasnya di kembalikan ke perusahaan dan di pecat secara tidak hormat.
Seminggu setelah dipecat Andi tidak mempunyai uang sama sekali, bahkan anaknya menangis terus menerus karena kelaparan.
Hingga membuatnya berniat jahat untuk balas dendam kepada mantan bosnya tersebut.
.
__ADS_1
.
.