Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 59


__ADS_3

Bara keluar menuju balkon, duduk di kursi panjang dan menghabiskan beberapa batang rokok.


Terbesit di pikirannya, untuk mengecek CCTV. Apa yang istrinya lakukan hingga ia semarah itu, apa Erwin yang datang ke rumahnya dan mulai menghasut istrinya lagi pikirnya.


Bara beranjak dari duduknya, melihat istrinya masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.


Bara perlahan menutup pintu, agar tidak membuat istrinya terbangun.


Bara masuk ke kamarnya, mengambil laptop miliknya. Duduk di kursi dengan memangku laptopnya, mulai memperhatikan aktivitas istrinya ketika dirinya sudah pergi bekerja.


“Tidak ada yang aneh,” Ucap Bara dalam hati, memperhatikan rekaman CCTV tersebut.


Setelah kepergiannya, ia melihat ada Nenek Dira yang datang. Wanita yang pernah ia tolong, dan ternyata juga kenal dengan istrinya.


Bara memperhatikan gerak gerik Nenek Dira, seperti sedang mencari sesuatu di sofa tempat duduknya. Membuat Bara penasaran apa yang di lakukan Nenek Dira.


Tidak lama Nisa membawakan nampan yang berisi air putih dan beberapa potong kue, tidak ada yang aneh dalam rekaman CCTV tersebut. Mereka seperti sangat bahagia, tertawa bercanda bersama.


Cukup lama memperhatikan layar monitor tersebut, tampak Nisa terburu-buru menuruni tangga. Bara memperhatikannya dengan seksama, sebelum Nisa membuka pintu, ia lebih dulu mengintip dari jendela.


Saat Nisa membuka pintu, tampak jelas terlihat pamannya yang datang ke rumah. Bara mengerutkan keningnya heran, ada apa Pamannya datang ke rumah Sedangkan Pamannya sendiri tahu jika dirinya sedang tidak ada di rumah.


“Apa yang paman lakukan, hingga datang ke rumahku?” batin Bara penasaran.


“Shit...! Apa yang mereka bicarakan?” umpat Bara tak henti-hentinya, karena dirinya tidak bisa mendengar percakapan mereka.


Bara memperhatikan pamannya membuka tas yang berisi uang, Bara menekan tombol untuk memperbesar layar monitor.


“Ini pasti ada hubungannya dengan Paman!” geram Bara.


“Aku akan mencari tahu!” tambahnya lagi.

__ADS_1


Bara mengepalkan tangannya, melihat Nisa yang terduduk di lantai sambil menangis.


“Shit...! Paman, kau sudah membuat istriku menangis,” geram Bara.


Walaupun Bara tidak mendengar percakapan mereka, Bara sudah tahu jika kemarahan istrinya ada hubungannya dengan Pamannya sendiri.


Bara menutup kembali laptopnya, bergegas mandi karena matahari pagi sudah menampakkan dirinya melalui celah-celah pintu dan jendela.


Selesai mandi dan bersiap, Bara membuka pintu kamar istrinya, Melihat istrinya masih betah dalam selimut, masih terdengar dengkuran halus.


“Dia masih tidur,” ucap Bara dalam hati.


Bara menutup kembali pintunya, dan pergi ke dapur berinisiatif membuatkan sarapan untuk mereka.


Bara cukup ahli dalam memasak, tapi pagi ini ia hanya membuatkan roti bakar.


Terdengar suara telapak sendal yang menuruni tangga, Bara berbalik badan melihat istrinya yang turun dengan mata yang masih sembab.


“Sayang, kau sudah bangun?” tanya Bara.


Nisa hanya melirik sebentar, lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Nisa hanya diam, tanpa membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya.


Nisa meletakkan kembali gelas yang sudah kosong, ia hanya melewati suaminya yang menatapnya sejak tadi tanpa berniat menyapanya.


Bara yang sudah tidak tahan dengan sikap istrinya yang sejak semalam mendiamkannya, Bara mengekori belakang istrinya.


“Sayang, aku ada salah apa? Kita bisa bicara baik-baik,” ucap Bara.


“Jangan mendiamkan ku seperti ini!” ucap Bara sedikit membentak, membuat Nisa menghentikan langkahnya.


“Kamu masih bertanya apa kesalahanmu?”

__ADS_1


Nisa menatapnya dengan serius.


“Iya,” sahut Bara tak mau kalah.


Bara menarik tangan istrinya sedikit kasar dan membawanya ke kamar.


“Lepaskan!” teriak Nisa sedikit memberontak.


“Diam!” bentak Bara.


“Aku memberimu kebebasan, bukan berarti kau bisa seenaknya!” bentak Bara sukses membuat Nisa terdiam.


Saat sudah di dalam kamar, Bara mengunci pintunya.


“Mau apa kamu?” tanya Nisa melihat Bara berjalan ke arahnya sambil membuka kancing kemeja satu persatu.


.


.


.


.


Terima kasih atas dukungan kalian semua, tak henti-hentinya aku berterima kasih.🙏🙏


Maafkan diriku yang hanya bisa up Cuma sedikit. kalau bisa memilih, antara sakit hati dan sakit gigi?


Saya lebih memilih sakit hati, karena bisa melakukan aktivitas yang lain agar terhibur.


Kalau sakit gigi, jangankan melakukan aktivitas, mendengar orang berbicara saja rasanya pengen emosi.

__ADS_1


Maafkan diriku, jadi curhat deh.🤭🤭😥


__ADS_2