Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 47


__ADS_3

Sudah hampir jam satu malam. Namun, mata Nisa masih terjaga. Entah kenapa matanya tak ingin tertutup, ia melirik ke sampingnya melihat sang suami sudah tertidur pulas.


Merasakan ada pergerakan, Bara membuka matanya. Melihat sang istri masih terjaga, melirik jam di dinding sudah menunjukkan jam satu dini hari.


“Kau kenapa? Kenapa belum tidur, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Bara memeluknya.


“Kenapa Bangun?” tanya Nisa heran.


Sebelumnya ia melihat suaminya tertidur sangat pulas.


“Kau terlihat gelisah, hingga membangunkan ku.”


“Maafkan aku sudah membuatmu terbangun,” lirih Nisa merasa bersalah.


“Tidak perlu meminta maaf, kau sedang memikirkan apa?” tanya Bara membalikkan badan istrinya untuk menghadapnya.


“Tidak ada yang ku pikirkan, hanya saja mataku tidak mau tertutup.”


“Tidak mungkin! Pasti ada yang kamu pikirkan. Coba ceritakan, siapa tahu aku bisa membantumu,” ucap Bara sambil menyelipkan rambut yang jatuh menutupi wajah istrinya.


“Sebenarnya, aku sangat merindukan kedua orang tuaku. Apa aku boleh berkunjung ke makamnya besok?”


“Boleh sayang. Tunggu aku pulang kerja, kita akan ke makam orang tuaku dan kedua orang tuamu besok,” ucap Bara lembut.


“Iya, terima kasih mas,” ucap Nisa tersenyum.


“Nah panggilan ini lebih baik, dari pada harus manggil nama,” ucap Bara tersenyum.


“Sayang, apa aku boleh bertanya sesuatu?” ucap Bara.


Nisa mengangguk.


“Apa Bu Dewi pernah menghubungimu?” Tanya Bara berhati-hati, agar tidak menyinggung perasaan istrinya.


Nisa menggeleng sedih.


“Sejak pernikahan kita, hingga saat ini Ibu tidak pernah menghubungiku. Bahkan untuk mengirim pesan pun tidak pernah. Aku sering menghubungi nomor ponselnya, tapi tetap tidak bisa dihubungi.”


“Apa kau tidak tahu keberadaan ibumu sekarang?”


“Aku tidak tahu, ibu menghilang begitu saja.”


“Mungkin ibumu punya alasan, kenapa dia menghilang. Bersabar lah sayang,” ucap Bara.


“Sebenarnya...”

__ADS_1


“Ada apa? Kenapa terlihat ragu? Aku suamimu sekarang, kita akan berbagi suka maupun duka. Jadi, tak perlu ragu untuk menceritakan masalahmu. Tapi, jika kau keberatan itu juga tidak masalah sayang,” Ucap Bara sambil mengelus pipi mulus istrinya.


“Aku hanya ingin kamu bahagia sekarang,” tambahnya lagi.


“Mas, sebenarnya ibu Dewi bukanlah ibu kandungku.” Memberi jeda sebentar, melihat reaksi suaminya.


“Tapi aku menganggapnya sama seperti ibuku sendiri, aku sangat menyayangi mereka mas,” Tambahnya lagi.


“Maaf aku belum sempat mengatakan ini kepada ayah,” ucap Nisa merasa bersalah.


Bara mengambil tangan istrinya, lalu menciumnya.


“Aku sudah tahu semuanya sayang, ayahku sudah menceritakan perihal ibu Dewi dan juga kedua orang tuamu.”


“Ayah mengetahuinya?” Tanya Nisa.


“Iya. sebelum kita menikah, ayah menceritakannya kepadaku.”


“Ibu sambungmu itu tega menukarkanmu dengan surat rumah itu, lalu menjual rumahnya kembali kepada orang dengan harga dua kali lipat, dan sekarang dia pergi menghilang dengan uangnya,” Batin Bara.


Ingin rasanya bicara seperti itu, tapi ia tidak benar-benar bicara. Karena tidak ingin membuat istrinya kepikiran.


“Ayo tidurlah, ini sudah malam!” Perintah Bara.


“Kenapa menatapku seperti itu?” ujar Bara heran.


“Apa aku boleh memelukmu?” tanya Nisa.


“Kenapa harus meminta ijin? Sini mendekatkan,” ujar Bara.


Bara menarik tubuh kecil istrinya, langsung memeluknya.


“Sayang,” panggil Bara pelan.


“Iya,” sahut Nisa mendongakkan kepalanya menatap suaminya.


Mereka saling bertatapan, tanpa sadar Bara semakin mendekatkan wajahnya hingga kening mereka saling bertemu.


Bara mendekatkan bibirnya hingga menempel di bibir istrinya, tidak ada aktivitas hanya menempel saja. Melihat tidak ada penolakan dari istrinya, hanya diam dan memejamkan matanya.


Bara sedikit memberi ******* halus, lama-lama menjadi ganas. Namun Nisa tidak memberi reaksi apapun, membalas tidak bahkan menolaknya pun tidak.


Hingga Bara berpikir, istrinya marah. Ia langsung melepaskan bibir mereka yang sempat menyatu.


Nisa langsung membuka matanya, melihat Bara menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


“Mas,” lirih Nisa.


“Maafkan aku, aku sudah lancang.” Bara memposisikan tubuhnya terlentang.


“Tidurlah, ini sudah malam.”


Menarik selimut menutupi tubuh mereka dan kembali menghadap istrinya lalu memeluknya.


“Mas,” panggil Nisa.


“Kau belum tidur juga?” tanya Bara.


Namun, dengan mata yang tertutup.


“Mas, aku sudah siap,” lirih Nisa.


Mendengar ucapan istrinya, ia membuka matanya melihat istrinya.


“Tidur lah, aku tidak mau kau terpaksa melakukannya.”


Bara kembali menutup matanya.


“Aku sungguh tidak terpaksa, hanya saja aku belum terbiasa.”


“Benarkah?” tanya Bara mendekatkan wajahnya agar leluasa melihat wajah istrinya.


“Nisa mengangguk malu.”


Bara menarik pelan dagu istrinya, perlahan menempelkan kembali bibirnya.


Hingga ******* pelan tersebut menjadi ganas, Nisa pun mulai mengimbangi nya. Setelah puas dengan bibir istrinya, mulai turun ke leher jenjang istrinya dan meninggalkan jejak cinta disana.


Tangan Bara sudah mulai tidak bisa di kondisikan lagi, mulai merayap kemana-kemana. Bara mulai membuka kancing baju istrinya, melihat Nisa memejamkan mata Bara sejenak menghentikan aktivitasnya.


“Sayang, apa kamu yakin?” tanya lagi dengan mata sayu nya, memastikan kembali.


Nisa membuka matanya, ia tersenyum lalu mengangguk.


Melihat istrinya mengangguk setuju, Bara melanjutkan kembali aktivitasnya. Mereka melewati malam indah yang sempat tertunda.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2