
“Sedang apa kau disini?” suara begitu nyaring terdengar dari arah belakang nya.
Nisa menoleh ke arah sumber suara, tampak Bara berdiri di depan pintu kamar dengan menenteng botol di tangan kanan nya.
“Iya Tuan, apa butuh sesuatu?” tanya Nisa.
Bara mendekati Nisa dan ikut duduk di samping nya. Nisa sedikit takut melihat Bara, akan tetapi ia menyembunyikan nya.
“Kenapa kau di luar? Angin nya sangat kencang,” ucap Bara yang masih dengan kesadaran.
“Aku hanya ingin duduk saja disini.” Tanpa melihat Bara.
“Apa kaki mu masih sakit? Maaf aku melukai mu tadi,” ucap nya dengan tatapan rasa bersalah.
“Kerasukan apa dia, apa otak nya sudah dalam posisi nya?” gumam Nisa dalam hati.
“Kaki ku sudah mendingan.”
“Apa kau tahu...,” Bara memulai percakapan, sesekali meneguk alkohol di tangan nya. Hingga membuat Nisa menoleh ke arah nya, sedikit tertarik dengan pembicaraan Bara.
“Tidak...,” sahut Nisa.
__ADS_1
“Apa kau tahu, Ayah ku tidak pernah menyangyangi ku,” ujar nya dengan tatapan sendu.
“Apa dia sedang curhat? Kata orang kalau mabuk, ia akan mengatakan sejujur nya,” gumam Nisa dalam hati.
“Ayah bahkan selalu membandingkan ku dengan anak dari paman ku, paman yang kau temui kemarin.” Sejenak berhenti tersenyum kecut, lalu meminum kembali hingga habis.
“Bahkan, di salah satu perusahaan Ayah tidak ada satu pun nama ku.” Nisa berpikir keras, apa benar yang di ucapkan Bara? Tapi kenapa Ayah mertua nya memberikan salah satu perusahaan atas namanya.
“Saat lulus kuliah, aku masuk ke perusahaan Ayah. Saat itu ayah sedang ke luar kota, dan aku di percayakan untuk mengurus semua nya. Salah satu perusahaan besar ingin bekerja sama, akan tetapi aku menolak nya. Sebab, perusahaan tersebut memiliki niat yang tidak baik, bahkan aku mendengar nya sendiri. Ayah ku marah besar, ketika ia tahu aku menolak nya. Dalam beberapa bulan, perusahaan Ayah mengelami kebangkrutan. Perusahaan tersebut memiliki pengaruh besar bagi Ayah. Hingga akhirnya, aku tidak di beri kesempatan oleh ayah untuk memperbaiki nya. Bahkan ayah tidak memperbolehkan aku untuk bekerja dan masuk ke kantor nya.” Dengan wajah yang sendu, sesekali ia menyeka air mata nya.
Nisa begitu prihatin dengan suaminya, tanpa sadar ia mengusap bahu Bara.
“Sudah, berhenti minum nya. Aku akan ambilkan air dingin untuk mu,” ujar Nisa lembut bicara dengan ke hati-hatian.
“Tidak perlu,” ujar Bara menolak.
“Apa kau tahu? Saat itu aku putus asa, ayah selalu membandingkan ku dengan Adek sepupu ku. Bahkan ia mengenalkan Reyhan kepada seluruh dunia, karena saat itu Reyhan lah yang berjasa menyelamatkan perusahaan nya dari kebangkrutan.” Ujar nya.
Nisa hanya diam mendengarkan keluh kesah Bara, dan masih setia mendengarkan.
“Akhir nya, aku bertekad membangun sendiri bisnis ku. Awal nya aku berhasil, dan aku menunjukkan nya kepada Ayah. Tapi, tidak ada reaksi sama sekali, bahkan untuk memuji pun tidak ada.”
__ADS_1
“Aku tahu Tuan, Ayah itu sangat baik. Ayah tidak mungkin sejahat itu,” ujar Nisa dengan lembut, agar Bara tidak terlalu membenci Ayah nya. Bara tersenyum kecut, mendengar ucapan Bara.
“Dan, lagi-lagi aku putus asa. Keuntungan dari bisnis ku, aku pakai hanya untuk berfoya-foya. Aku sudah tidak memikirkan uang lagi dan akhirnya aku benar-benar bangkrut.”
Bara menatap langit-langit hitam, tiada bintang disana hanya ada kegelapan seperti suasana hati Bara saat ini.
“Sabar, hanya itu yang bisa aku katakan,” ujar Nisa dengan lembut.
Hening seketika, tiba-tiba kepala Bara bersandar di bahu Nisa. Berniat ingin memindahkan, terdengar dengkuran kecil dari mulut Bara.
“Dia tidur? Sebaiknya aku bawa masuk, seperti nya akan turun hujan,” gumam nya. Perlahan Nisa menggandeng Bara, dengan bersusah payah ia membawa suaminya masuk ke dalam kamar nya.
“Huftt, berat sekali,” gerutu nya setelah selesai membawa Bara ke kasur.
Kemudian, menutup pintu yang terhubung ke balkon. Ia menarik selimut menutupi tubuh Bara, lalu mengambil bantal dan selimut untuk nya tidur di sofa panjang yang berada di kamar nya.
Nisa membaringkan tubuh nya, menarik selimut menutupi tubuh nya. Ia menghadap ke arah suaminya tidur.
“Ternyata kamu menyimpan nya semua sendiri. Aku kira orang kaya seperti mu tidak mempunyai masalah.” Begitu prihatin melihat suaminya. Tanpa sadar ia meneteskan air mata, dengan cepat ia menghapus nya. Tak lama, kantuk mulai datang hingga membuat tertidur menyusul suami nya ke alam mimpi.
Bersambung...
__ADS_1