
Alarm sudah berhenti. Namun, kembali berbunyi setelah setengah jam.
terdengar gumam dari balik selimut, Bara terlebih dulu membuka mata. Langsung menonaktifkan alarm sejak tadi berbunyi.
Posisi istrinya masih sama membelakanginya, Bara duduk menoleh ke arah istrinya yang masih pulas tertidur.
“Jam berapa ini?” gumam nya dengan suara serak khas bangun tidur.
Ia mengambil ponsel, dan melihat jam yang tertera di layar ponsel.
“Baru jam enam.”
Bara merebahkan tubuhnya kembali, dan memeluk istrinya lagi seperti sebelumnya.
“Sayang,” panggil pelan Bara di dekat daun telinga istrinya.
Mendengar ada yang berbisik karena merasa geli, Nisa perlahan membuka matanya.
Nisa membalikkan tubuhnya menjadi telentang, dan merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku.
“Jam berapa ini?” lirihnya dengan suara serak.
“Baru jam enam,” sahut Bara.
Membuat Nisa terkejut, melihat Bara masih di sampingnya.
“Astaga, kamu...,”
“Iya, aku suamimu. Kau kira siapa? Erwin!” ketus Bara.
“Ini masih pagi, jangan mengajak ribut!” protes Nisa.
Nisa hendak duduk, tetapi di tahan oleh Bara.
“Mau kemana?” Tanya Bara.
“Mau membuatkan mu sarapan.”
“Nanti saja, tolong pijat kan kepalaku. Kenapa rasanya sangat sakit?”
Nisa mengangguk, lalu menggeser tubuhnya mendekati Bara dan mulai memijat.
“Apa kamu sakit? Tapi badanmu tidak panas.”
“Entahlah, kepala ku terasa sangat sakit.”
“Itu akibat terlalu banyak bergadang. Ingat, kata penyanyi Roma irama, jangan begadang kalau tiada artinya,” ejek Nisa masih memijat pelan kepala suaminya.
“Iya, aku selama seminggu tidak tidur. Karena dirimu!”
“Kenapa gara-gara aku?” protes Nisa.
“Iya, karena kau kabur!” ucap Bara tidak mau kalah.
“Aku tidak kabur! Tapi kamu yang mengusir ku.”
“Kapan aku mengusirmu? Kau sendiri yang pergi tanpa pamit, itu namanya kabur!” jelas Bara.
Nisa hanya diam tanpa membalas perkataan suaminya, menurut nya berdebat tidak akan membuatnya menang.
“Kenapa diam? Aku benarkan!”
“Terserah!” ucap Nisa cemberut.
“Kenapa dengan bibirmu? Apa mau aku gigit?”
“Kau ini! Katanya sakit kepala, kenapa pagi-pagi sudah marah-marah,” protes Nisa.
“Iya, maaf. Cepat pijat kan lagi, sudah terasa berkurang pusingnya,” ucap Bara meletakkan kepalanya di paha istrinya.
“Jam berapa pergi untuk interview nya?” tanya Nisa yang setia memijat kepala suaminya.
__ADS_1
“Jam delapan nanti berangkat, jam sembilan interview nya.”
“Oh,” sahut Nisa.
“Hanya oh?”
“Jadi, mau nya apa?” menatap suaminya serius.
“Ciuman selamat pagi untuk tambahannya,” goda Bara.
“Cium ini saja,” celetuk Nisa meletakkan bantal di wajah suaminya dan beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi.
Bara terkekeh, dan beranjak keluar kamar menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Setelah selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi tersebut. Nisa keluar kamar mandi dan melihat Bara sudah tidak ada di tempat tidur.
Ia keluar menuju dapur, untuk menyiapkan sarapan pagi. Melihat hanya ada beberapa sayuran, karena memang dirinya belum belanja.
“Masak nasi goreng saja,” Gumam nya mengambil sayur dan juga telur dari dalam kulkas.
Setelah cukup lama berkutik di dapur, Nisa menyelesaikan masakannya, dan menatanya di meja.
Tidak lama, Bara turun sambil menenteng tas di tangannya. Bara turun dengan pakaian rapi, membuatnya begitu sangat tampan hingga membuat Nisa mengaguminya.
“Tampan sekali,” gumam Nisa dalam hati.
“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Bara sambil menarik kursinya untuk duduk.
“Siapa yang senyum.”
“Cepat sarapan lah, nanti terlambat.”
“Iya,” sahut Bara mulai memakan sarapannya.
“Kau tidak sarapan?” Tanya Bara melihat istrinya hanya duduk di kursi.
“Aku belum lapar, nanti kalau lapar aku sarapan,” sahut Nisa.
“Apa kau mau ku suapi?”
“Tidak, aku bisa makan sendiri,” sahut Nisa cepat.
Ia beranjak ke dapur, mengambil piring lalu kembali duduk di kursi.
“Kau makan sedikit sekali? Pantes badan mu kurus,” protes Bara melihat istrinya hanya mengambil sedikit.
“Aku tidak selera makan pagi,” ucap Nisa mulai memasukkan nasi ke mulutnya.
“Apa kepalamu masih pusing?” Tanya Nisa.
Bara menggelengkan kepalanya.
“Sudah sembuh,” sahut Bara.
Bara baru menyelesaikan sarapannya, melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 7.45.
“Aku berangkat dulu ya,” pamit Bara.
Nisa mengangguk, ia mengekori belakang suaminya untuk mengantarnya hingga ke teras rumah.
Bara mengulurkan tangannya kepada istrinya, Nisa mengerutkan keningnya heran.
“Ada apa? Mau minta uang jajan kepadaku.”
“Cium tangan suamimu! Siapa yang mau uang kepadamu, aku juga punya uang,” protes Bara.
“Oh, aku pikir mau minta uang jajan, hehehe,” ucap Nisa cekikikan.
Nisa mencium punggung tangan suaminya. Ketika hendak masuk ke mobil, tanpa sengaja Bara melihat Erwin di balkon rumahnya sedang memandang ke arahnya.
“Sayang,” panggil Bara ketika melihat Nisa hendak masuk.
__ADS_1
“Ada apa? Apa ada yang tertinggal?” tanya Nisa.
Bara mendekatinya, Bara langsung mencium pipi istrinya hingga membuat Nisa bersemu merah.
“Ini yang tertinggal, aku berangkat dulu,” ucap Bara lagi.
Bara masuk ke dalam mobil, dan melambaikan tangannya kepada istrinya dan berlalu pergi.
Bara tersenyum licik, melihat Erwin masuk ke dalam rumahnya, karena sudah membuat Erwin iri pikirnya.
***
Di kantor, Erwin tak henti-hentinya mengumpat. Karena ada kesalahan sedikit di kantor, di tambah tadi pagi Bara dengan sengaja mengumbar kemesraan di depannya membuatnya mood nya benar-benar buruk.
“Kau kenapa lagi sih? Jangan bilang ini ada hubungannya dengan Nisa lagi,” ketus Dion.
“Masalah perusahaan ini hanya masalah kecil, tak perlu kau memarahi karyawan yang tidak tahu apa-apa! Aku bisa mengatasinya sendiri!” bentak Dion.
“Kau mau kemana?” tanya Dion melihat Erwin hendak pergi.
“Keluar,” jawab Erwin singkat.
“Jangan keluar, sebentar lagi ada meeting bersama kolega penting,” ucap Dion mengingatkan.
“Shit,” umpat Erwin.
Ia duduk di sofa panjangnya, sementara Dion masih sibuk membaca berkas-berkas penting.
“Apa kau tahu?”
“Tidak tahu!” ketus Erwin.
“Aku belum bicara, bodoh!”
“Serba salah,” protes Erwin.
“Aku melihat Miranda, mantan kekasihmu. Apa kau tak ingin bertemu dengannya, sepertinya dia sedang butuh belaian om-om,” ucap Dion terkekeh.
“Aku bukan om-om! Kau saja,” celetuk Erwin.
Ia mengambil ponselnya.
“Padahal Miranda ini sangat cantik, tapi,” ucap Dion menggantung ucapannya.
“Tapi apa? Jangan bilang kau suka dengan nya,” tanya Erwin.
“Siapa yang suka! Aku hanya mengagumi kecantikannya saja,” sahut Dion.
Tak lama, ada ketukan dari luar ruangan.
“Permisi pak, tamunya sudah datang,” ucap sekretarisnya.
“Iya, tunggu lah sebentar, kami akan menyusul,” ucap Erwin.
“Erwin, itu sekretarismu sangat cantik. Apa kau tidak tertarik dengannya?”
“Jangan macam-macam! dia sudah mempunyai suami. Aku tidak mau jadi pebinor,” ucap Erwin terkekeh meledek Dion.
“Heleh, sepetinya kau sedang amnesia dengan kejadian Minggu lalu,” goda Dion.
“Sudah diam! Kau ini banyak bicara, apa kau mau ke pecat,” ancam Erwin.
Dion terkekeh mengekori Erwin menuju ruang meeting.
.
.
.
Terima kasih banyak dukungan kalian semua.
__ADS_1