
Selesai sarapan, Nisa berpamitan untuk pulang, bersama dengan putranya.
Saat ini mereka bersama dalam satu mobil dengan Erwin, duduk kursi tengah.
Nisa sebenarnya menolak untuk di antar oleh Erwin, ia bahkan ingin menghubungi sopir dari rumahnya untuk menjemputnya. Namun, Erwin juga bersikeras untuk mengantarnya pulang.
“Erwin. Kau marah?” tanya Nisa pelan.
Sejak masuk ke dalam mobil, Erwin hanya diam sambil melihat ponsel miliknya dan mengabaikan Nisa yang duduk di sebelahnya.
“Tidak,” sahut Erwin singkat.
“Maaf jika aku lancang membuka pintu itu. Silahkan hukum aku, tapi jangan mendiamkan ku dan Reyhan seperti ini,” ucap Nisa.
Erwin langsung menatap Nisa yang duduk di sebelahnya. Sebenarnya Erwin sibuk dengan ponselnya, karena memeriksa pekerjaan melalui ponselnya sejak tadi.
Ia tidak berpikir sejauh itu, jika Nisa merasa terabaikan olehnya.
“Astaga maaf. Aku tidak bermaksud mengabaikan mu, aku sedang memeriksa pekerjaanku,” sahut Erwin.
Mendengar jawaban Erwin, Nisa sangat malu kepada dirinya sendiri. Jika ucapannya bisa ditarik kembali, mungkin saat itu sudah ia lakukan. Karena merasa sangat malu dengan pernyataannya tersebut.
Berbeda dengan Erwin, yang merasa senang. Seperti ada angin datang dari surga mendengar ucapan Nisa barusan.
“Oh...” sahut singkat Nisa.
Ia memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.
“Ma, Reyhan kok enggak sekolah?” tanya putranya.
“Karena hari ini hari Minggu sayang,” sahut Nisa memeluk putranya yang berada di pangkuannya.
“Oh, besok Reyhan sekolah kan? Reyhan merindukan teman Reyhan, Ma.”
“Iya sayang,” sahut Nisa.
Hening sejenak, Erwin tampak menyimpan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya, karena sudah selesai mengecek laporan.
“Nis,” panggil Erwin.
Ia mengambil tangan Nisa, Nisa langsung menarik tangannya. Karena saat itu putranya sedang bersama dirinya.
“Maaf,” lirih Nisa melirik memberi kode dengan matanya. Bahwa ada putranya dan sang sopir di dalam mobil tersebut. Erwin langsung mengerti apa yang di maksud oleh Nisa.
“Menonton apa sayang,” tanya Erwin kepada Reyhan yang sedang melihat sebuah film kartun di ponsel.
“Upin dan Ipin pah,” sahutnya Reyhan yang masih fokus dengan layar ponsel tersebut.
“Oh...” sahut Erwin.
Mereka ikut bersama menonton di layar tersebut, sesekali Mereka juga ikut tertawa.
Tanpa terasa kini mereka sudah tiba di rumah milik nenek Dira. Reyhan berlari kecil masuk ke rumah tersebut, untuk menemui Eyang putrinya.
Erwin menahan tangan Nisa yang hendak keluar mobil.
__ADS_1
“Nis. Maaf jika aku memajang foto Reyhan di kamar itu. Aku tahu kamu pasti sudah melihat semuanya,” ucap Erwin merasa bersalah.
Nisa tersenyum.
“Justru aku yang meminta maaf. Maaf jika aku pernah mengembalikan semua hadiah pemberian mu untuk Reyhan. Aku sungguh benar-benar merasa bersalah,” ucap Nisa merasa bersalah.
“Iya, tidak perlu meminta maaf lagi. Aku tahu perasaan mu saat itu,” Tutur Erwin sambil tersenyum.
“Aku juga sangat berterima kasih kepadamu, karena sudah berusaha menolongku kemarin, hingga kamu terluka seperti ini,” ucap Nisa melihat memegang kepala Erwin yang di perban.
“Ini hanya luka kecil, itu juga salahku karena tidak berhati-hati.”
Erwin langsung mengambil tangan tersebut, entah keberanian dari mana, Erwin mendekatkan wajahnya hingga berjarak satu senti.
Semakin dekat, hingga mereka merasakan hembusan napas satu sama lain. Nisa tampak menutup matanya, bibir mereka hampir saja menyatu.
Namun, mendengar suara Nenek memanggil namanya. Mereka sama-sama terkejut, langsung menjaga jarak antara satu sama lain. Beruntung sang sopir sudah lebih dulu keluar dari mobil bersama Reyhan tadi.
“Nisa, cucuku,” Panggil Nenek menghampirinya ke mobil.
“Iya nek,” sahut Nisa.
“Ayo, masuk dulu,” Ajak Nisa.
Erwin mengangguk, ia membiarkan Nisa lebih dulu keluar mobil.
“Huft... hampir saja,” ucapnya menghela napas.
Lalu membuka pintu mobil untuk menyusul Nisa.
“Bagaimana denganmu sayang? Apa yang di lakukan penculik itu kepadamu?” tanya nenek yang sangat cemas.
“Syukurlah,” sahut nenek Dira kembali memeluknya.
“Nak Erwin,” ucap Nenek Dira, melihat Erwin yang baru saja keluar dari mobil.
“Iya nek.”
“Terima kasih sudah menyelamatkan cucuku. Aku sangat berterima kasih kepadamu,” ucap nenek Dira memeluk Erwin.
“Nek, bukan hanya aku saja yang menolong Nisa. Tapi kami semua, termasuk Toni. Bahkan yang paling banyak berperan adalah Toni,” ucap Erwin.
“Iya. Aku juga sangat berterima kasih kepadanya, tapi sejak tadi pagi Toni keluar entah kemana,” tutur nenek.
“Mungkin ada kesibukan nek,” sahut Nisa.
“Iya, sepertinya begitu.”
Nenek Dira mengajak mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
“Apa ini sakit, sayang?” tanya nenek Dira melihat sudut bibir Nisa yang terluka.
“Tidak nek, ini hanya luka kecil.”
“Apakah sudah di obati. Apa perlu Nenek memanggilkan Dokter?" ucap Nenek yang masih terlihat cemas.
__ADS_1
“Tidak perlu Nek. Ini hanya luka kecil, semalam sudah di obati oleh Dokter. Karena orang tuanya Erwin memanggil dokter,” ucap Nisa menjelaskan.
Nenek mengangguk mengerti.
“Eyang Putri,” panggil Reyhan dari atas tangga.
Semua orang menatap ke arah Reyhan yang memanggil Nenek Dira.
“Iya, ada apa Reyhan?” tanya Nisa hendak beranjak dari duduknya.
“Enggak Ma, Reyhan minta di temenin Eyang, sebentar saja. Bolehkan Ma?” tutur Reyhan, membuat Nisa terkekeh melihat cara bicara Reyhan yang lucu baginya.
“Iya sayang, boleh.”
“Eyang, temenin Reyhan dong sebentar,” ucap Reyhan.
“Oke,” ucap Nenek Dira.
“Kalian berbicaralah, Nenek tinggal sebentar,” ujarnya meninggalkan Nisa dan Erwin yang masih duduk di sofa.
Setelah kepergian Nenek, Nisa dan Erwin tampak canggung untuk berbicara, setelah kejadian di mobil tadi.
Di saat mereka canggung dengan satu sama lain, di saat itu juga Toni muncul di depan pintu.
“Toni,” ucap Nisa.
Mendengar Nisa menyebut nama tersebut, ia mengikuti arah netra Nisa.
“Nona. Bagaimana dengan keadaan anda?”
“Aku baik, seperti yang kamu lihat saat ini.”
“Toni. Aku perlu bicara denganmu, tentang masalah tadi malam. Tapi, kita bicara di ruang kerja,” ucap Nisa.
“Iya Nona,” sahut Toni.
Nisa juga mengajak Erwin untuk masuk ke ruang kerja yang ada di rumah nenek Dira tersebut.
“Toni, bagaimana dengan pria itu? Siapa dia?” tanya Nisa.
Karena pingsan, ia belum mengetahui identitas pria yang menculiknya.
Erwin menutup kembali pintu ruangan tersebut, setelah mereka semua berada di dalam, lalu duduk di samping Nisa.
“Pria itu sangat kita kenal Nona!”
“Siapa?” tanya Nisa penasaran.
Karena dirinya juga, seperti kenal dengan suara pria tersebut saat dirinya di culik.
“Dia adalah Andi!”
“Hah? Kamu serius?” tanya Nisa yang begitu terkejut setelah mendengar Toni menyebut nama penculik tersebut.
Toni mengangguk.
__ADS_1
“Astaga...!”
Nisa bersandar di bahu kursi, sangat tidak menyangka jika pelakunya adalah Andi.