
“maksudnya...?” sejenak Nisa mencerna ucapan Erwin.
“Ya, apa salah jika aku bertamu?”
“Tidak ada yang salah. Tapi, ini sudah malam dan suami ku tidak ada di rumah dan apa kata orang nanti.”
“Hm, baiklah. Aku akan pulang, tapi besok aku akan datang lagi.”
“Maaf, bukan maksud mengusir mu. tapi...”
“Iya aku paham,” sela Erwin.
“Baiklah, jika kamu butuh bantuan datang langsung ke rumah ku.”
“Rumah?”
“Ya, rumah ku ada di seberang rumah mu.”
“Oh, aku tidak tahu, kalau rumah mu di daerah sini.”
“Hm, baiklah. Aku pamit,” ucap Erwin berpamitan.
Nisa bernafas lega, melihat Erwin sudah pulang.
Nisa duduk di sofa, sambil melirik ke arah jam dinding.
“Sudah jam 11 malam ternyata, apa benar saat ini dia sedang bersenang-senang? Seperti yang di katakan Erwin.”
Pikiran Nisa bertanya-tanya.
“Apa aku hubungi saja? Tapi, jika dia marah bagaimana?”
“Ah sudah lah, biarkan saja! Aku tidak mau mengganggu kesenangan nya sekarang.”
Nisa kembali masuk ke kamarnya, sebelum itu ia terlebih dahulu mengunci pintu.
***
Saat hendak memasuki rumah, Erwin merasakan getaran di saku celana nya.
“Hallo, ada apa kau menghubungi ku?”
“Aku ingin kau datang sekarang, ini penting, aku akan mengirim alamat sekarang.”
“Oke, aku ke sana sekarang.” Erwin mengakhiri panggilan dan bergegas untuk pergi ke alamat yang di kirim oleh penelepon.
Tidak butuh waktu lama, Erwin tiba di tempat tersebut.
“Akhir nya datang juga.”
“Ada info apa Dion?” Tanya Erwin tanpa basa basi. Dion adalah sahabat nya sejak kuliah dulu dan sekaligus asisten nya.
“Santai bro, kita masuk ke dalam dan kamu akan melihat nya langsung,” ajak nya.
__ADS_1
“Masuk ke dalam?” tanya Erwin sambil menunjuk sebuah tempat hiburan malam.
“Yang benar saja? aku tidak suka tempat seperti ini!” gerutu Erwin.
“Sialan,” umpat Erwin ketika melihat Dion lebih dulu masuk.
Dengan langkah besar, ia pun mengikuti Dion yang terlebih dulu masuk.
Terdengar suara dengkuman musik, wanita, pria, tua dan muda berjoget mengikuti irama musik. Membuat Erwin menggerutu di dalam hati nya.
“Kenapa?” Tanya nya melihat Dion berhenti.
“Sialan.., mereka sudah pergi!” umpat Dion.
“Kenapa? apa mereka sudah pergi?” Tanya Erwin melihat Doni yang celingukan mencari seseorang.
“Itu mereka,” bisik Erwin memberi kode dengan matanya.
Erwin melihat dengan jelas, wanita yang pernah mengisi hati nya sedang bermesraan dengan pria.
Tampak wanita tersebut berdiri sambil di gandeng oleh pria tersebut menuju ke arah belakang.
“Apa kamu sudah mengambil gambar nya?” tanya Erwin.
“Iya sudah, kamu percaya bukan?”
“Iya,” sahut nya singkat dan mereka kembali keluar menuju mobil mereka terparkir.
“Aku heran, Kenapa kamu kepo sekali dengan Miranda? Bukan kah kalian sudah lama putus? Apakah kamu masih menyukai nya?”
Mereka putus, saat itu Miranda berpikir bahwa Erwin adalah pria tidak berguna dan meninggalkan Erwin tanpa alasan.
“Aku sungguh tidak menyukai nya sama sekali.”
“Lalu, untuk apa semua ini?”
“Saat ini, Miranda sedang menjalin kasih dengan suami nya wanita ku.”
“Apa..! tunggu-tunggu, apa kamu bilang? Wanita mu? Yang benar saja, apa beda nya kamu dengan Miranda?”
“Kau tidak akan mengerti!” celetuk Erwin.
“Bro, sadar! Dia adalah istri orang, kamu ingin merebut nya dari suami nya?”
“Aku tidak ingin merebutnya! Aku hanya melindungi nya saja.”
“Sama saja.”
“Apa karena wanita ini, kamu harus rela bekerja di restoran?”
“Bisa jadi...!”
“Aku jadi penasaran dengan wanita itu.”
__ADS_1
“Jangan, nanti kamu jatuh cinta!” ujar Erwin di iringi dengan tawa kecil.
“Sialan kau..!” celetuk Dion dengan meninju pelan bahu Erwin.
“Bagaimana dengan perusahaan?” Tanya Erwin sambil menjalankan mobilnya.
“Saat ini aman, bahkan ada perusahaan xx yang mengajak kerja sama dan tinggal menunggu persetujuan dan tanda tangan mu.”
“Kapan kamu masuk ke kantor, aku sungguh lelah bekerja sendiri.”
“Besok aku akan datang ke kantor, aku baru saja memberikan surat pengunduran diri.”
“Nah gitu dong,” jawab Dion dengan sumringah.
“Apa sesenang itu?”
“Iya, sangat senang! ada yang di ajak ngobrol di kantor.”
“Memang nya di kantor kamu sendiri? Bukan kah banyak orang, apa jangan-jangan kamu pecat semua?” Tanya Erwin sambil fokus mengemudi.
“Sialan...! mana mungkin aku memecat mereka,” celetuk Dion.
Erwin tersenyum simpul, telah berhasil mengejek sahabatnya.
“Astaga...,” teriak Dion, seketika Erwin langsung menghentikan mobilnya. Beruntung jalanan sepi karena sudah lewat tengah malam.
“Apa sih !” ketus Erwin.
“Aku kan bawa mobil, kenapa aku ikut dengan mu.”
“Ckck, kau ternyata sudah tua dan jomblo lagi. Mobil mu bisa di ambil besok, tidak mungkin kita putar balik.”
“Huft...” Dion membuang nafas.
“Gak usah di bawa jomblo nya,” celetuk Dion. Erwin terkekeh, lalu kembali menyetir dan tak butuh waktu lama. Mereka tiba di rumah Erwin.
“Cukup bagus, walau pun kecil,” ujar Dion mengamati setiap sudut rumah Erwin yang baru saja ia beli, rupanya Erwin sudah tahu jika Nisa akan pindah rumah dan ia terlebih dahulu membeli rumah agar bisa melihat Nisa.
“Ini kamar mu,” ucap Erwin menunjuk kamar untuk Dion.
“Oke...” dengan semangat Dion merebahkan tubuh nya dan tak butuh waktu lama ia sudah memejamkan matanya.
Berbeda dengan Erwin, ia melihat dari jendela rumah nya yang mengarah ke rumah Nisa.
Terlihat lampu kamar nya baru saja di matikan.
“Apa dia belum tidur?”
“Selamat malam Nisa.” Gumam nya sambil tersenyum melihat keluar jendela.
Ia pun mulai merebahkan tubuh nya di kasur, sambil memainkan ponsel nya. Menggeser satu persatu foto mantan kekasih nya yang dikirim oleh Dion.
“Menjijikkan...!” ucap nya. Lalu melempar ponsel nya ke sofa dan beruntung mendarat dengan aman di atas sofa, lalu menarik selimut menutupi sebagian tubuh nya.
__ADS_1
Bersambung...