Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 79


__ADS_3

“Sialan!” umpat Erwin.


“Siapa mereka?! Sepertinya mereka berasal dari Indonesia. Aku akan mencari tahu nanti,” gumam Erwin memasuki mobilnya.


“Nadia belum sadarkan diri. Kita bawa ke rumah sakit saja, aku takut terjadi sesuatu dengannya!” seru Dion memangku kepala Nadia di pahanya.


Erwin mengangguk, lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Nadia langsung di bawa UGD. Erwin langsung menghubungi Pamannya Ayah dari Nadia.


Tak butuh waktu lama, Pamannya sudah tiba di rumah sakit. Dengan langkah kaki yang besar ia menghampiri Dion yang masih berdiri di dekat pintu ruangan UGD.


Plak..!


Tamparan keras mendarat sempurna di pipi kiri Dion.


Erwin sempat tercengang melihat Pamannya yang begitu marah kepada Dion, lalu dengan cepat ia menghalangi Pamannya yang hendak memukul Dion kembali.


“Apa yang kau lakukan kepada anakku?! Hah!” bentak Ayah Nadia dengan wajah yang memerah, menatap tajam Dion.


“Paman. Paman ini bukan salah Dion!” sela Erwin.


“Diam kau!” bentak Pamannya.


“Kali ini aku tidak akan tinggal diam, Paman!”


“Berani kurang ajar kau sekarang! Demi anak tidak tahu diri ini, kau berani membentak Pamanmu sendiri!”


“Aku akan memberitahu ini kepada Ayahmu! Kau sudah berani kurang ajar kepada Pamanmu!” ancam Pamannya menatapnya tajam.


“Terserah Paman jika ingin memberitahu Ayah, aku tidak peduli! Asal paman tahu! Jika tidak ada aku dan Dion, kehormatan Nadia sudah hilang!” ucap Erwin menatap Pamannya dengan tatapan tak kalah sinis.


Erwin menarik lengan Dion yang sedari tadi hanya diam, tampak ada darah yang mengalir di pinggiran bibirnya.


“Pria yang Paman sebut tidak tahu diri ini! Dialah pria yang sangat berarti untukku, yang selalu ada untukku. Disaat Ayah selalu sibuk dengan pekerjaan hingga tidak ada waktu untukku. Jika Paman berani menghinanya, berarti Paman juga menghinaku!”


Mendengar perkataan Erwin, Dion merasa sangat terharu. Ia tidak menyangka jika Erwin begitu peduli dengannya.


Pamannya seketika langsung terdiam, ia tertampar dengan perkataan keponakannya sendiri.


“Kami permisi,” ucap Erwin pergi meninggalkan Pamannya yang masih mematung. Diikuti oleh Dion di belakangnya.

__ADS_1


“Pamanmu benar. Seharusnya kau tak perlu membelaku, aku pantas dihina. Karena aku memang pria miskin yang tidak tahu diri,” ucap Dion ketika sudah duduk didalam mobil.


“Diam kau, Berisik sekali! Mau ku tampar pipi sebelahnya lagi?!” bentak Erwin.


“Tidak,” sahut Dion dengan cepat.


Erwin melajukan mobilnya menuju apartemen mereka. Dion tak berani membuka obrolan, untuk pertama kalinya ia melihat sahabatnya yang begitu marah.


“Kenapa kau melirikku? Apa ada yang ingin kau katakan?” tanya Erwin masih fokus menyetir.


“Kau hebat ya, bisa membaca pikiranku?” puji Dion.


“Hhmm...!” deham Erwin.


“Kita meninggalkan Nadia yang masih belum sadar. Apa dia baik-baik saja? Aku begitu khawatir,” ucap Dion menyenderkan bahunya di kursi.


“Sekarang kau baru khawatir?!” seru Erwin.


“Kemarin aku memang ingin menjauhinya, atas permintaan Pamanmu sendiri yang memintaku untuk menjauhi anaknya.” Batin Dion. Ingin ia bicara seperti itu. Namun, ia tak mampu untuk mengatakannya.


Flashback on.


“Jauhi anakku, kau tidak pantas untuknya! Nadia sudah aku jodohkan dengan pria yang lebih mapan, aku hanya tidak ingin anakku menderita jika dia bersamamu.”


“Jika itu keinginan Paman, aku akan menjauhi nya.”


“Bagus kalau kau tahu diri. Jika aku melihat kau dekat dengannya, walau hanya sebentar! Aku tidak akan segan-segan menghancurkan keluargamu! Kau paham!”


Dion mengangguk.


“Cih..., bahkan aku muak melihatnya duduk disini. Menjijikkan!” gumam paman Wijaya sambil melangkah keluar dari dapur.


Dion hanya tersenyum kecut, mendengarnya.


Flashback off.


“Entahlah, sepertinya aku kemarin amnesia singkat,” ucap Dion terkekeh.


“Cih...! alasan saja!” umpat Erwin.


Ketika sudah di apartemennya, Erwin menekan nomor tombol lift menuju ke lantai apartemennya.

__ADS_1


“Siapkan semuanya, besok siang kita akan pulang ke tanah air,” ucap Erwin.


“Kita akan pulang besok?”


“Iya. Kau mau tinggal disini? Biar aku yang akan pulang sendiri.”


“Tidak. Aku ikut denganmu,” ucap Dion yang mengikuti langkah Erwin dari belakang.


“Kau pasti sangat rindu dengan istri orang kan?” ejek Dion.


Seketika langkah Erwin langsung terhenti, Dion yang mengikuti dirinya dari belakang hampir menabraknya.


“Kenapa kau berhenti mendadak?!” tanya Dion melangkah mendahuluinya.


Erwin terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


“Tidak,” sahutnya singkat.


***


Keesokan paginya, Dion mendesah kesal. Pasalnya sepagi ini ada yang menekan bel berulang kali.


“Argghh...! siapa yang bertamu sepagi ini?! Apa mereka tidak mempunyai sopan santun bertamu sepagi ini!” kesal Dion mengajak rambutnya.


Walaupun dengan wajah kesalnya, Dion tetap beranjak dari tempat tidur menuju keluar untuk membuka pintu.


Ceklek...!


“Selamat pagi,” sapa perempuan cantik yang berhidung mancung tersebut. Memperlihatkan senyum yang terukir di bibir ranumnya.


Sehingga sang pemilik mata yang baru saja tersadar, langsung terbuka dengan sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka. Dion tak berkedip melihat wanita yang ada di depannya tersebut.


“Siapa yang sepagi ini bertamu?” tanya Erwin yang baru saja keluar kamarnya sambil mengucek matanya.


Langkah Erwin terhenti ketika melihat wanita yang berdiri di ambang pintu tersebut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2