Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 64


__ADS_3

Masih di restoran, Paman merasakan getar ponsel dari saku celananya. Ia tampak gusar melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Cukup lama ia memandang nama tersebut, masih ragu untuk mengangkatnya.


“Jika tidak diangkat, itu pasti akan menambah masalah,” Batin Paman Ridwan dengan segera menggeser tombol yang ada dilayar.


“Halo.”


“Halo. Bagaimana?” tanya seseorang dibalik telepon.


“Beri saya waktu lagi Pak. Anak saya saat ini masih belum bisa dihubungi, karena masih dalam perjalanan diudara,” sahut Paman Ridwan berbohong.


“Cih! Banyak sekali alasan. Ku beri waktu hingga besok, jika kau tidak mampu memenuhinya, aku akan membatalkan kerjasama kita,” Ucap seseorang tersebut.


“Saya usahakan Pak,” sahut Paman Ridwan.


“Baik, Saya tunggu kabar baiknya.”


“Baik, teri...”


Belum sempat berbicara penuh, ponsel sudah dimatikan.


“Sialan!” umpat Paman Ridwan.


Ia terdiam sejenak, masih memikirkan bagaimana cara menyelamatkan perusahaannya. Lalu, mengambil kembali ponselnya dan mencari nama Reyhan di dalam ponsel tersebut, dengan menggeser naik turun layarnya.


“Reyhan, Kau dimana? Anak bodoh!” geram Paman Ridwan.


Ia mencoba menghubungi kembali nomor ponsel anaknya, yang sejak kemarin tidak bisa dihubungi.


“Dasar anak durhaka!” umpatnya saat melihat panggilannya di tolak oleh Reyhan.


Lalu mengetik pesan dan mengirimnya kepada Reyhan.


“Jangan panggil aku Ayah, jika kau berani menolak panggilanku!” ancamnya.


Ia kembali menghubunginya lagi, langsung terdengar suara Reyhan dari dalam ponsel tersebut.


“Ada apa lagi, Ayah?”


“Yang sopan kalau berbicara kepada orangtua!” bentak Paman Ridwan.


“Kau dimana sekarang?!” tanyanya dengan nada tinggi.


“Aku di apartemen,” sahut Reyhan.


“Temui Ayah sekarang di restoran xx!” Ucap Paman Ridwan langsung mematikan ponselnya, tanpa menunggu jawaban Reyhan.


Sekitar setengah jam menunggu, Reyhan baru memasuki restoran yang disebutkan oleh Ayahnya.


“Ada apa Ayah?” tanya Reyhan tanpa basa basi.

__ADS_1


“Dasar anak kurang ajar! Tidak ada sopan santun terhadap orangtua. Duduk dulu, Ayah ingin bicara penting denganmu!”


Reyhan yang patuh, langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Ayahnya.


“Ada apa Ayah? Sepertinya sangat penting.”


“Bara tidak mau meninggalkan istrinya, dan sekarang rencana Ayah untuk memisahkan mereka, gagal total! Bahkan Bara mengancamku!” ucap Paman Ridwan.


“Bagaimana bisa? Ini perusahaannya juga! Kenapa Bara tidak mau?” tanya Reyhan.


“Kenapa tidak kau saja! Kau kan belum menikah,” ucap Pak Ridwan.


“Apa Ayah tega, membiarkan ku menikah dengan wanita lebih tua dariku. Aku tidak mau Ayah!”


Reyhan masih tetap dengan pendiriannya.


“Aku juga sudah mempunyai kekasih,” tambah Reyhan lagi.


“Kau ini bodoh atau bagaimana sih? Perusahaan kita sedang tidak baik-baik saja. Kau menikah dengannya hanya sebentar, dan setelah semuanya normal, kau bisa meninggalkan dia,” bentak Pak Ridwan.


“Kenapa tidak Bara saja?” Tanya Reyhan.


“Astaga!! Dasar anak bodoh! Jika Bara mau, aku tidak mungkin memintamu!” geram Pak Ridwan.


“Ayah tidak perlu memikirkan itu, aku tahu caranya,” ucap Reyhan tersenyum licik.


“Apa yang kau rencanakan? Jangan melakukan hal bodoh! Bara sudah mengancamku,” ucap Pak Ridwan memperingati anaknya.


“Iya, waktunya tinggal besok. Jika kau gagal, kau yang harus menikah dengan gadis itu. Ingat! Jangan membahayakan dirimu dan perusahaan kita.”


“Akan ku usahakan,” ucap Reyhan.


“Apa Ayah sudah melihat berita di TV?”


“Iya, sudah. Cepat kau pikirkan caranya, Mereka mengancam akan membatalkan kerjasamanya, jika kau tidak mau menikah dengan anaknya.”


“Kenapa anaknya tidak mencari kekasih sendiri, untuk dijadikan suami?” gerutu Reyhan dan juga penasaran.


“Entahlah, Ayah juga tidak mengerti. Yang terpenting, mereka banyak memberikan keuntungan untuk perusahaan kita. Ayah tidak mau kehilangan kesempatan ini, apalagi saat ini perusahaan kita mengalami penurunan yang sangat drastis. Ini kesempatan bagus,” sahut Pak Ridwan.


“Kenapa tidak Ayah saja yang menikah dengannya?” goda Reyhan sambil menahan senyumnya.


“Kau ini anak durhaka sekali! Bagaimana dengan Ibumu, dasar bodoh! Ayah sudah keriput, tidak ada wanita yang mau denganku!” sahut Pak Ridwan dengan menaikkan oktafnya.


“Aku hanya bercanda Ayah,” ucap Reyhan terkekeh.


“Kau ini!” seru Pak Ridwan memukul pelan bahu anaknya.


“Ingat! Jangan membahayakan nama perusahaan kita, dan juga pastikan Bara tidak mengetahui hal ini. Ayah sedikit takut melihat kemarahan Bara, kau tahu sendiri jika Bara marah,” ucap Pak Ridwan Kembali memperingati anaknya.

__ADS_1


“Iya, akan ku usahakan.”


“Ayah tunggu kabar baiknya,” ucap Pap Ridwan.


Reyhan mengangguk.


“Baiklah Ayah. Ayah, aku pamit dulu,” pamit Reyhan berdiri dari tempat duduknya.


Pak Ridwan mengangguk, melihat kepergian anaknya.


“Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini!” batin Pak Ridwan tersenyum dengan licik.


***


Sementara itu di mobil, Nisa masih menenangkan suaminya, sejak keluar dari restoran Bara tidak berhenti mengumpat.


Bagaimana bisa Pamannya sendiri yang melakukan hal ini, dulu ia sangat mempercayai Pamannya. Karena menurutnya Pamannya sangat bijaksana, ketimbang Ayahnya yang selalu menyalahkan dirinya dalam hal kecil pun.


“Shit...! Ternyata aku salah menilai Paman selama ini,” umpat Bara.


“Aku dulu sangat menghormatinya, Karena Paman selalu ada di belakang ku, disaat aku terpuruk,” tambahnya lagi dengan mata sendunya.


Ia tidak menyangka, bahwa Pamannya sendiri yang tega memfitnah dirinya.


“Mas, Paman pasti punya alasan. Tidak mungkin Paman melakukan itu semua, jika Paman tidak mempunyai alasan.”


Sambil mengusap pelan bahu suaminya.


“Ck! Omong kosong!”


“Alasan menyelamatkan perusahaan yang ia kuasai sekarang, dan saat ini diambang kebangkrutan. Akibat keserakahan mereka, rela membuat surat kuasa palsu untuk menguasai semuanya! Mereka pikir aku tidak mengetahuinya!”


Ingin hati Bara berbicara seperti itu. Namun, ia tak ingin istrinya mengetahuinya.


“Mas, harus sabar. Maafkan aku yang sempat meragukanmu mas,” Ucap Nisa merasa bersalah, hampir saja mempercayai ucapan Paman Ridwan.


“Lupakan, aku sudah berjanji untuk membahagiakan mu. Kita mulai dari awal ya,” sahut Bara menatap istrinya.


Nisa mengangguk sambil tersenyum.


“Jangan pernah berubah ya,” ucap Bara menarik istrinya ke dalam pelukannya.


“Aku tahu, Paman dan Reyhan pasti memikirkan cara lain untuk memisahkan kita kembali. aku harus berhati-hati sekarang,” batin Bara sambil mengusap pelan rambut istrinya.


“Maafkan aku,” lirih Bara.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2