
Di kediaman Bara, suami istri ini baru saja menyelesaikan sarapan paginya di balkon.
Bara duduk di kursi panjang, sambil memangku laptop nya. Matanya tertuju pada layar monitor, namun tidak dengan pikirannya saat ini.
Masih teringat dibenaknya, ucapan Paman saat menghubungi istrinya. Kenapa dirinya tidak boleh mengetahuinya, pasti ini ada hubungannya dengannya, dan dengan kemarahannya istrinya kemarin.
Saat sedang asyik bermain dengan pikirannya, Nisa datang membawakan segelas teh hijau kesukaan suaminya, ia meletakkannya di meja lalu ikut duduk di samping suaminya.
“Mas,” panggil Nisa kepada suaminya pelan.
Namun tidak ada sahutan dari suaminya.
“Mas,” panggil Nisa lagi.
“Iya, ada apa?” tanya Bara sekilas melihat istrinya.
“Mas pakai kacamata sekarang?”
Bara mengangguk, dengan tangan yang masih mengetik alfabet.
“Mataku tidak bisa membaca tulisan di laptop kalau tidak pakai kacamata? Mungkin minusnya bertambah.”
“Oh begitu. Apa sebaiknya kita periksa ke Dokter saja,” ajak Nisa.
“Iya, tapi nanti.”
Nisa mengangguk, ia tidak bisa memaksa suaminya. Sejenak terdiam, Nisa memperhatikan suaminya yang masih fokus menatap layar monitornya.
“Mas,” Panggil Nisa lagi.
“Ada apa sayang?” tanya Bara dengan lembut, lalu meletakkan laptopnya di meja.
“Apa kau perlu sesuatu?”
“Apa aku boleh bertanya?” tanya Nisa dengan berhati-hati.
“Tanya apa? Kenapa harus meminta ijin,” ucap Bara lembut menyelipkan rambut yang sedikit menutupi wajah istrinya.
“Hhmm, it—u. Apa mas pernah mempunyai hubungan dengan wanita lain, sebelum kita menikah?”
Deg ....! pernyataan Nisa membuatnya harus berpikir keras.
Bara memhela napas kasar, ia bingung harus menceritakan kepadanya istrinya. Bagaimana jika wanita yang disebutkan oleh Pamannya, adalah wanita yang pernah menjalin kasih dengannya.
“Aku bingung harus bagaimana?” ucap Bara dalam hati.
“Jika benar itu Miranda, apa yang harus ku lakukan? Apa benar Miranda hamil? tapi tidak mungkin!”
Bara menepis pikirannya, bahwa ia sudah tidak punya hubungan lagi dengan Miranda.
“Mas,” panggil Nisa sambil menggoyangkan tangan suaminya.
“Hah.., iya.”
“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Nisa yang melihat suaminya melamun.
__ADS_1
“Hm, sayang.”
Nisa menatap suaminya dengan serius, menangkap apakah ada kebohongan dari sang suami.
Bara menceritakan kepada istrinya, tentang kekasihnya. Saat itu ia sudah menikah dengan Nisa, namun masih menjalin kasih dengan Miranda.
“Tapi, itu dulu sayang. Sekarang aku sangat mencintaimu, aku tidak memiliki hubungan spesial lagi kecuali denganmu,” ucap Bara meyakinkan istrinya.
“Apa mas sudah pernah menikah siri dengannya?” pertanyaan Nisa membuat Bara terkejut, membuat Bara menggeleng cepat.
“Aku tidak pernah menikah dengan siapa pun, kecuali denganmu!” ucap Bara penuh penekanan.
“Sayang, apa yang Paman katakan kemarin? Apa Paman mengatakan semua itu? apa yang dikatakan Paman di ponsel tentang wanita yang sedang mengandung itu, anakku?” tanya Bara.
Nisa terdiam sejenak menatap suaminya, lalu perlahan mengangguk.
“Shit...!” umpat Bara.
“Mas, bagaimana jika di dalam kandungan wanita itu memang benar anakmu? Apa kamu akan meninggalkan ku dan menikah dengannya?”
Dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.
“Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Kita bisa melakukan tes DNA terlebih dahulu, apa kamu yakin? Wanita itu adalah wanita yang pernah bersama Ku dulu. Kita harus memastikannya terlebih dahulu sayang,” ucap Bara lembut menarik istrinya ke dalam pelukannya.
“Maafkan masa laluku sayang, saat itu aku tidak tahu tentang arah kehidupan. Bagiku itu lah kesenanganku.”
“Sekarang kamu harus percaya kepada suamimu sayang.”
Nisa mengangguk dalam pelukan suaminya.
Karena sebelum ia, Paman meminta untuk meninggalkan istri demi menyelamatkan perusahaan.
“Paman, aku ikuti permainanmu,” Ucap Bara dalam hati.
“Apa pun yang di katakan Paman nanti, kamu tidak boleh langsung percaya. Oke,” ucap Bara melepaskan pelukannya.
“Aku akan ikut bersamamu, kamu harus mengikuti apa yang aku suruh! Aku hanya memantaumu dari kejauhan,” ucap Bara.
Nisa mengangguk mengerti.
“Sekarang pergilah bersiap, sebentar lagi kita akan berangkat,” perintah Bara.
Bara yang melihat istrinya masuk ke dalam rumah, ada rasa kasihan terhadap istrinya.
“Aku sudah berjanji tidak akan membiarkan mu menderita,” gumam Bara dalam hati.
Bara menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya menyusul istrinya untuk bersiap, karena mereka sebentar lagi akan ke restoran yang Pamannya sebutkan.
***
Di restoran, Paman tampak gelisah melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Ck...! kemana dia? Kenapa jam segini belum datang?” gerutunya.
“Jam berapa mereka akan datang?” tanya seorang wanita duduk di sebelah Paman Ridwan, sambil memegang perut buncitnya.
__ADS_1
“Diam kau? Kamu ingat kan apa yang aku katakan tadi! bersandiwara lah sebagus mungkin, kau mengerti!” perintah Paman Ridwan dengan sedikit mengancam.
“I—iya,” sahutnya gugup.
Tampak ada senyuman yang mengukir di bibir miliknya, melihat Nisa yang datang sendiri masuk ke dalam restoran tersebut.
“Nisa,” panggilnya pelan sambil melambaikan salah satu tangannya.
Deg...! perasaan Nisa saat ini tidak karuan, setelah melihat wanita cantik dengan perut buncitnya duduk di sebelah Paman Ridwan.
“Aku harus percaya kepada suamiku,” batin Nisa kembali memaksakan senyumnya berjalan menghampiri pamannya.
“Nisa,” sapa Paman Ridwan.
Nisa langsung mencium punggung tangan Paman Ridwan.
“Maaf Paman, jalanan lumayan macet.”
Nisa langsung duduk di kursi sebelah wanita tersebut, sambil tersenyum paksa.
“Tidak apa-apa nak Nisa, paman juga baru datang,” sahut Paman tersenyum.
“Kau tidak memberitahukan Bara tentang semua ini kan?!” tanya Paman penuh selidik.
Nisa menggelengkan kepalanya.
“Ti—tidak Paman,” sahut Nisa gugup.
“Bagus, Kita langsung saja. Nisa, ini istri Bara, wanita yang menikah siri dengannya.”
Nisa melihat sekilas perempuan di sebelahnya.
“Paman tidak mau anak pewaris kami, lahir tanpa seorang Ayah!” seru Paman Ridwan.
“Jadi, Paman harap, kamu mau menandatangani surat perceraian ini,” Ucap Paman Ridwan menyerahkan kertas putih tersebut, dengan pulpennya.
Nisa tak bisa berkata-kata lagi.
“Nisa, saya mohon. Tolong lepaskan suami saya! Saya meminta suami saya kembali, hiks..., hiks...!” ucap wanita yang berperut buncit, dengan tangisan yang di buat-buatnya.
“Tapi, dia suamiku Nona! Kami menikah dan sudah sah dimata negara dengannya!” ucap Nisa mulai terpancing emosi, namun ia mencoba menetralkannya.
“Bagaimana jika kamu diposisi saya? Apa kamu tega membiarkan anakmu lahir, tanpa seorang Ayah!”
“Apapun saya lakukan untukmu, jika kau meninggalkan Bara! Kamu pegang ini, bayi ini bergerak terus sejak tadi. Seakan ia tahu, jika ia akan bertemu dengan ayahnya.”
Mengambil tangan Nisa meletakkannya di perutnya, kebetulan saat ini Nisa merasakan bayi di dalam perut wanita tersebut bergerak.
Nisa terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia meraih pulpen dan kertas yang ada di meja, masih ingat dibenaknya, perkataan suaminya ia harus percaya kepadanya saja.
.
.
.
__ADS_1