Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 18


__ADS_3

“Hei wanita bodoh! Kau apa kan Ayah ku?” teriak Bara dengan langkah cepat mendorong tubuh Nisa, hingga dirinya hampir terjatuh beruntung dengan cepat Dokter menangkap nya.


“Maaf Tuan, jangan kasar kepada wanita.”


“Cepat, katakan! Apa yang kau perbuat dengan Ayahku?” bentak Bara lagi.


“Saya minta maaf, Kamu sudah berusaha semampu kami. Namun, takdir berkata lain,” sela Dokter.


Tampak Bara masih menahan emosi, lalu mendekati ayahnya yang sudah terbujur kaku.


“Ayah..,” lirih Bara.


“Ayah, bangun Ayah! Aku sudah melakukan apa yang Ayah minta.” Sambil menggoyangkan tangan Ayahnya.


“Yang sabar Tuan,” ucap Dokter.


Nisa hanya berdiri kaku melihat sang suami untuk pertama kali nya menangis. Setelah puas, tampak Bara berdiri dan keluar ruangan tanpa sepatah kata pun.


Beberapa perawat terlihat masuk untuk membawa Jenazah Pak Burhan.


“Nona, kami akan mempersiapkan nya untuk di bawa ke rumah duka.”


Nisa hanya mengangguk dengan wajah sendu, di ruangan tersebut hanya seorang diri entah kemana sang suami pergi.


Setelah cukup lama menunggu, Nisa di panggil petugas rumah sakit, bahwa Jenazah sudah siap untuk di bawa pulang.


“Nona, mobil nya sudah siap berangkat.”


“Iya pak,” sahut nya lembut.

__ADS_1


Nisa mengekori petugas tersebut dan masuk ke dalam mobil.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah duka. Sudah terpasang tenda dan beberapa orang yang sudah hadir, termasuk rekan kerja pak Burhan.


Namun, Nisa tak melihat keberadaan sang suami. Beberapa orang membawa masuk peti jenazah untuk di Shalat kan, sebelum di makamkan.


“Nona,” panggil Bi Minah.


“Iya Bi.”


“Saya tidak melihat Tuan Bara sejak tadi? Apakah beliau Tahu kalau Tuan besar sudah meninggal?”


“Sudah tahu Bi, sejak dari rumah sakit dia pergi dan tidak tahu kemana.”


“Apa Nona sudah menghubungi nya?”


“Sudah Bi, tapi tidak aktif.”


“Maaf, apa ada keluarga lagi yang masih ditunggu?” tanya ustadz.


Nisa dan Bi Minah saling menatap, bingung harus menjawab pertanyaan tersebut.


“Saya mencoba lagi menghubungi suami ku, tadi suami ku pergi ada sesuatu yang tidak bisa di tinggalkan, tolong tunggu sebentar ya,” sahutnya lembut.


“Iya Nona, berhubung ini sudah sore jenazah harus segera di makam kan.”


“Iy.. iya pak,” sahut nya gugup.


Sambil mengeluarkan ponselnya, dirinya berjalan sedikit menjauh berharap ponsel suaminya bisa tersambung dan benar saja ponsel sang suami berdering menandakan bahwa ponsel nya sudah aktif.

__ADS_1


“Hallo..,” sahut di balik ponsel.


“Ha.. hallo Tuan,”


“Iya, siapa ini?”


“In.. ini saya, Nisa.”


“Ada apa?” ketus Bara.


“Tuan, saya mohon pulang lah, Ayah akan segera di makam kan. Apa Tuan tidak mau melihat untuk terakhir kalinya?”


Diam sejenak. “Tuan..” panggilnya lagi.


“Tolong makam kan saja ayahku, aku ada pekerjaan yang tidak bisa ku tinggalkan.”


“Ta.. tapi Tuan...,” panggilan telepon langsung terputus.


“Astaga, apa pantas dia di sebutkan sebagai seorang anak,” geram Nisa.


Nisa kembali ke ruang utama, dan mempersilahkan ayah mertuanya untuk di makam kan sekarang.


Beberapa mobil beriringan mengantar sang ayah mertua ke tempat peristirahatan terakhir nya, Nisa bersama Bi Minah satu mobil di antar oleh sopir sang Ayah mertua. Berapa kali Nisa menghapus air mata nya agar tak menetas membasahi pipinya.


“Sabar Nona,” Ujar Bi Minah. Nisa hanya mengangguk dengan senyum si paksa.


“Makasih Bi,” dengan suara parau nya.


“Sama-sama Nona.” Apa yang di rasakan Nisa, begitupun dengan Bi Minah. Mengingat kebaikan pak Burhan kepada nya yang membantu perekonomian keluarganya.

__ADS_1


Setiba nya di pemakaman, jenazah langsung di makam kan di iringi dengan serangkaian doa-doa di tambah lagi awan mendung seakan menangisi kepergian pak Burhan.


Bersambung...


__ADS_2