
“Nenek,” panggil Nisa.
Mendengar ada yang memanggilnya, wanita tersebut menoleh.
Sejenak mereka saling bertatapan, wanita tersebut beranjak dari duduk mendekati Nisa.
Sebelum itu, Nisa terlebih dulu meletakkan nampan yang berisi air minum di meja.
“Nisa, kau kah ini?” tanya wanita tersebut untuk memastikan.
“Iya nek, ini aku,” sahut Nisa tersenyum.
Wanita tersebut langsung memeluknya dengan erat, Nisa membalasnya memeluknya.
Ada buliran air sedikit mengalir dimata wanita tua itu, menandakan sangat terharu bertemu kembali dengan gadis yang ia tolong dulu.
Entah kenapa ia sangat merindukan gadis itu, sejak pertemuan pertama kalinya.
“Nenek apa kabar?” tanya Nisa ketika sudah melepaskan pelukan masing-masing.
“Nenek baik-baik saja. Kamu apa kabar sayang? sungguh nenek sangat merindukanmu,” ucap nenek sumringah.
“Nisa baik nek. Waktu itu Nisa pernah beberapa kali ke rumah nenek, akan tetapi nenek tidak ada di rumah.”
“Maaf, waktu itu nenek ke luar negeri dan baru kembali beberapa hari yang lalu,” sahut nenek.
Nisa mengajak wanita dengan sebutan nenek tersebut untuk duduk di sofa.
“Nenek tak perlu meminta maaf nek, aku sangat senang, kita bisa bertemu kembali nek.”
“Iya nenek juga, apa kau tahu? Nenek mencarimu di restoran. Tapi, ternyata kamu sudah berhenti.”
“Iya nek, semenjak menikah aku sudah berhenti, ingin lebih fokus mengurus rumah tanggaku,” sahut Nisa.
“Ia kamu benar. Nenek tidak menyangka, ternyata orang baik yang menolong nenek adalah suamimu.”
Nisa hendak menjawab, namun deham Bara membuat dua wanita ini menoleh.
“Ehem, ehem. Sepertinya pembicaraan kalian sangat serius, hingga tidak melihat kehadiranku disini.”
Sebelumnya Bara memperhatikan istrinya begitu akrab dengan wanita yang ia tolong.
“Apa kalian saling mengenal sebelumnya?” tanya Bara ikut duduk di sebelah istrinya.
“Kamu benar nak, kami memang berjodoh. Nenek masih mengingat perkataanmu waktu di mobil, kalau jodoh akan pasti bertemu.”
Bara mengerutkan keningnya heran, belum mengerti apa dimaksud oleh wanita tersebut.
Bara melihat istrinya untuk meminta penjelasan.
“Nenek yang pernah menolongku dulu,” ujar Nisa tersenyum.
“Jadi, nyonya...”
“Iya, aku tidak menyangka, jika kamu adalah suaminya Nisa,” sela nenek.
“Oh astaga, kok bisa kebetulan ya?” ucap Bara heran.
“Itu namanya jodoh,” sahut nenek tersenyum.
“Perkenalkan nyonya, nama saya Bara suaminya Nisa,” ucap Bara mengulurkan tangan.
Wanita tersebut, menyambut tangan Bara dengan hangat.
“Iya Nak Bara, jangan panggil saya nyonya, panggil nenek Dira saja,” sahut nenek.
“Iya nek,” ucap Bara.
__ADS_1
Mereka melepaskan tangannya.
“Kita makan siang bersama nek, kebetulan Nisa masak banyak hari ini,” ajak Nisa.
Nenek Dira berpikir sejenak, lalu mengangguk tanda setuju.
“Ayo sayang, kita makan,” ajak Nisa kepada suaminya.
Bara tertekun mendengar panggilan dari istrinya.
“Apa?” tanya Bara agar istrinya mengulang panggilannya.
“Ayo kita makan,” ucapnya lagi.
“Sebelum itu?”
Nisa berpikir sejenak, lalu tersenyum.
“Banyak bicara,” bisik Nisa lalu tersenyum.
Membuat Bara cemberut.
Nenek tersenyum melihat kedekatan Nisa dan suaminya.
“Ayo nek,” ajak Nisa.
Mereka bertiga beranjak dari duduknya menuju ke dapur.
Setelah di depan meja makan, Nisa dengan telaten mempersiapkan untuk makan siang.
Meletakkan nasi di piring suaminya dan nenek Dira.
“Makasih sayang,” ucap nenek Dira dan suaminya bersamaan.
“Sama-sama,” sahut Nisa tersenyum.
“Nisa pandai sekali memasak, masakan benar-benar enak,” puji nenek.
“Iya nenek benar, masakan istriku memang sangat enak,” puji suaminya sambil memasukkan lagi makanan ke mulutnya.
Nisa hanya tersenyum, melihat tumis kangkung yang hampir ludes di meja.
“Makasih nek,” ucap Nisa.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali berbincang hangat. Bara lebih dulu ijin masuk ke kamarnya karena ada perkerjaan penting yang harus ia selesaikan.
Cukup lama berbincang, nenek Dira berpamitan pulang. Karena sopirnya sudah tiba di depan rumah Nisa.
Sebelumnya, Bara menawarkan diri untuk mengantarnya. Namun, ia tolak karena sopirnya sudah dijalan menjemput dirinya.
“Lain kali apa boleh nenek mampir lagi kesini?” tanya Nenek Dira.
“Tentu saja boleh nek,” ucap Nisa.
Mereka berpelukan sejenak, sebelum nenek benar-benar masuk ke mobil.
Rasa enggan untuk melepaskan pelukannya dari Nisa, entah kenapa ia benar-benar sangat merindukan Nisa.
Nenek Dira melambaikan tangannya kepada Nisa.
“Apa nyonya baik-baik saja,” tanya Toni sopirnya.
Karena melihat ada raut kesedihan di wajahnya.
“Iya, aku baik-baik saja,” sahut nenek.
“Maaf nyonya kalau saya salah. Kuperhatikan wajah wanita tadi sedikit mirip dengan nyonya,” Ucap Toni.
__ADS_1
“Iya, matanya sangat mirip dengan anakku. Coba kamu cari tahu tentang dia, dari mana asal usulnya, entah kenapa aku sangat penasaran dengan anak itu,” ucap nenek.
“Iya Nyonya.”
***
Di kediaman Bara, Nisa masuk ke dalam rumah. Ia menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Saat membuka pintu, ia melihat suaminya berbaring di kasur sambil memijit kepalanya.
“Apa nenek sudah pulang?” Tanya Bara melihat istrinya masuk ke dalam kamar.
“Iya, tadi aku ingin memanggilmu. Tapi nenek tidak ingin mengganggumu, jadi hanya menitipkan terima kasih kepadamu,” ucap Nisa sambil menutup pintu balkon karena hari sudah mulai gelap.
Nisa mendengar ada notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ia membuka pesan tersebut, ada nenek Dira yang mengirimnya pesan. Karena sebelumnya nenek Dira meminta nomor ponselnya.
“Siapa?” tanya Bara melihat Nisa tersenyum melihat ponselnya.
“Nenek, katanya nenek sudah tiba di rumah,” sahut Nisa meletakkan kembali ponselnya ke nakas.
“Apa kepalamu pusing?” tanya Nisa ikut duduk di samping suaminya.
“Iya,” sahut Bara.
Nisa meletakkan tangannya di kepala suaminya, dan memijatnya pelan.
“Apa sebaiknya kita periksa ke Dokter saja, aku khawatir akhir-akhir ini sering sekali kepalamu pusing.”
“Kamu khawatir kepadaku?”
“Iya tentu saja,” sahut Nisa.
“Manis sekali istriku, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah perhatian kepadaku,” ucap Bara ikut duduk sejajar dengan istrinya.
“Kenapa memandangku seperti itu?” Tanya Nisa.
“Ku perhatikan, wajahmu sekilas mirip wanita tadi. Apa kalian ada hubungan darah atau...?”
“Mungkin hanya kebetulan, Banyak orang di luar sana seperti kembar namun tidak ada hubungan darah,” sahut Nisa.
“Mungkin ya,” ujar Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bara merebahkan kembali kepalanya di paha istrinya dan menarik tangan Nisa lalu meletakkan di kepalanya.
“Pijat kan lagi kepalaku,” ucapnya lembut.
Tak lama terdengar suara Adzan berkumandang di mesjid terdekat, Nisa berpamitan untuk melakukan kewajibannya sebagai umat muslim.
Bara memperhatikan punggung istrinya yang khusuk dalam berdoa. Bara merasa sangat bersalah pada dirinya, mengingat bagaimana perlakuan dirinya kepada istrinya dulu.
Bara beranjak dari duduknya, menghampiri istrinya yang sudah selesai Shalat dan memeluknya dari belakang.
“Sayang, maafkan aku telah banyak menyakitimu. Apa pantas aku disebut suami?” ucap Bara.
Nisa merasakan bajunya di bahu sedikit basah, Nisa membiarkan suaminya menangis mengeluarkan semuanya unek-uneknya.
Setelah dirasa cukup, Nisa membalikkan badannya menghadap suaminya.
“Yang lalu biarkan berlalu, yang penting kamu tidak mengulanginya lagi. Aku ingin kita pergi ke makam ayah, ayah pasti sangat senang jika kamu mengunjunginya,” ucap Nisa.
Bara tidak langsung menjawab, cukup lama ia terdiam lalu mengangguk setuju.
Nisa yang begitu senang, tanpa sadar ia langsung memeluk suaminya.
.
.
__ADS_1
.