
Seminggu sudah berlalu, sejak subuh tadi Nisa merasakan suhu tubuh suaminya sangat panas. Nisa dengan telaten merawat sang suami.
Ketika melihat sang mentari sudah menampakkan dirinya, masuk melalui celah-celah jendela. Nisa berinisiatif membuatkan bubur untuk suaminya sarapan.
Ia ke dapur, walaupun berjalan masih kurang normal, Nisa tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang baik.
Cukup lama berkutik di dapur, akhirnya ia menyelesaikan masakannya. Nisa perlahan membawa nampan yang berisi bubur dan teh hangat.
Ceklek!
Suara pintu terbuka, alangkah terkejutnya, Nisa mendapati sang suami sudah dilantai. Tubuhnya terlihat kejang-kejang, setelah itu ia tak bergerak dan tidak sadarkan diri.
“Mas!” teriak histeris Nisa.
Ia meletakkan nampan terlebih dahulu, dan mencoba mempercepat langkahnya mendekati suaminya.
“Mas, bangun mas. Mas!” teriak Nisa menggoyangkan kedua pipi suaminya.
Nisa mengambil ponsel yang tergeletak di lantai, rupanya Bara sempat bangun terlihat ponsel miliknya ada di lantai.
Dengan tangan gemetar, Nisa mencari nomor ambulance.
Dua kali ia menghubungi nomor tersebut, tak kunjung di angkat.
“Angkat, please!” ucap Nisa dalam hati.
Untuk yang ketiga kalinya, terdengar suara petugas rumah sakit di balik telepon.
“Pak, tolong! Suami saya,” ucap Nisa dengan suara bergetar.
“Suaminya kenapa Bu?”
“Suami saya mengalami kejang-kejang dan sekarang tidak sadarkan diri.”
“Baik, kami akan segera menjemputnya, sertakan alamat ibu sekarang.”
“Di jalan xx, nomor 45 RT 27.”
“Baik, segera kami kesana.”
Tut...! Tut...!
Panggilan telepon tersebut diakhiri oleh Nisa, ia masih berusaha mencoba membangunkan suaminya.
“Mas, bangun.”
__ADS_1
Nisa mengangkat kepala suaminya, dan meletakkannya di pahanya. Karena tubuh Bara yang cukup berat, ia tak mampu mengangkat tubuh suaminya.
Sekitar sepuluh menit menunggu, ambulance tersebut sudah tiba di rumahnya. Namun Bara tak kunjung membuka matanya.
Petugas rumah sakit mengangkat tubuh Bara, membawanya masuk ke dalam mobil ambulance disusul oleh Nisa yang duduk di samping suaminya terbaring.
Sebelum tiba di rumah sakit, Bara terlebih dahulu diberikan pertolongan oleh perawat yang berada didalam mobil ambulance tersebut.
“Bagaimana keadaan suami saya sus? Suami saya baik-baik saja kan?” tanya Nisa yang begitu khawatir.
“Mohon sabar ya Nona, biarkan kami melakukan tugas kami.”
Ambulance membunyikan sirinenya, menembus ramai jalanan kota menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, pasien langsung dilarikan ke IGD agar lebih cepat mendapati penanganan.
Nisa mengikuti mereka dan ikut masuk ke dalam ruangan IGD tersebut.
Nisa melihat sang suaminya yang terbaring lemah di bangsal, terlihat Dokter sibuk memeriksa suaminya di bantu oleh beberapa perawat.
“Apa yang terjadi dengan suami saya Dokter?” tanya Nisa dengan wajah cemas.
“Mohon bersabar ya Nona, biarkan kami melakukan tugas kami terlebih dahulu. Mohon tunggu di Luar nona, setelah selesai kami akan memanggil Nona,” ucap dokter dengan ramah.
“Tolong suami saya Dok,” ucap menahan air matanya.
Nisa mengangguk, lalu melangkahkan kakinya keluar IGD tersebut. Walaupun berat, ia harus melakukannya.
Ponsel yang di tangannya berdering, kebetulan ponsel yang ia bawa adalah ponsel milik suaminya.
“Pak Zaky,” gumam Nisa melihat nama yang tertera di layar ponsel.
“Pasti ini bosnya. Aku harus jawab apa?”
Awalnya Nisa mengabaikan panggilan tersebut. Namun, suara panggilan tersebut berulang lagi menghubungi dengan nama yang sama. Karena tak tega Nisa akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Halo.”
“Halo, apa Pak Baranya ada?” tanya seseorang dari dalam ponsel tersebut.
“Anu..., maaf. Saya istrinya, Mas Bara saat ini sedang berada di rumah sakit. Mungkin mas Bara tidak bisa bekerja untuk beberapa hari.”
“Apa Pak Bara sakit? Bagaimana keadaannya, nona?” tanya Pak Zaky.
Sebenarnya pak Zaky sudah mengetahui tentang penyakitnya Bara, karena ia di beritahukan oleh dokter dari hasil medical check upnya, yang ia lakukan seminggu yang lalu. Karena tidak ingin membuat Nisa khawatir, ia bertanya seakan tidak tahu. Biar dokter yang menjelaskan kepada istrinya Bara pikirnya.
__ADS_1
“Iya. Mas Bara pingsan dan sekarang masih di tangani oleh Dokter.”
“Kabari kami jika sudah ada hasilnya, Nona.”
“Iya Pak,” sahut Nisa.
Mereka saling mengakhiri panggilan.
Hampir satu jam menunggu, Dokter akhirnya keluar dari ruangan IGD tersebut dan menghampiri Nisa yang duduk di kursi tunggu.
“Apa anda istri dari Tuan Bara Tanu Wijaya?”
“Iya Dok, saya istrinya.”
“Ikut ke ruangan saya,” ucap Dokter dengan ramah.
Nisa mengekori belakang Dokter tersebut, walaupun ia jalan masih perlahan. Namun, ia berusaha mengimbangi langkah dokter tersebut.
“Silahkan duduk Nona,” ucap Dokter mempersilahkan Nisa untuk duduk.
“Bagaimana Dokter? Suami saya baik-baik saja kan,” tanya Nisa dengan ramah.
Dokter menghela napas berat, ia menatap wanita yang terlihat kurus di depannya.
“Dengan berat hati, saya harus menyampaikan ini nona.”
“Ada apa Dok? Kenapa dokter terlihat ragu, saya siap mendengarkan nya Dok.”
“Maaf sebelumnya Nona. Penyakit yang di derita oleh Tuan Bara saat ini cukup serius, dan sudah memasuki stadium akhir.”
Nisa mengerutkan keningnya, menurutnya Dokter terlalu bertele-tele menceritakan perihal penyakit suaminya.
“Penyakit apa itu Dok?” tanya Nisa.
Dokter menghela napas berat.
“Suami anda positif menderita kanker otak stadium akhir.”
Jder...! duar...! bagaikan petir menyambar di siang bolong, tanpa ada awan hitam mengelilingi langit-langit. Nisa terdiam sejenak mencerna ucapan yang disampaikan oleh Dokter.
“Apa Dok?! Saya tidak salah dengarkan?” tanya Nisa lagi dengan suaranya bergetar menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Tidak Nona, anda tidak salah dengar.”
.
__ADS_1
.
.