
“Wah, selamat pak Bara. hari ini anda sudah membuktikan, kalau anda benar-benar profesional dalam bekerja. Bahkan mereka tanpa ragu mau bekerja sama dengan perusahaan kita.”
Pujian tersebut di lontarkan oleh pak Zaky, yang sebelumnya ia sempat meragukan Bara.
“Saya hanya menjalani tugas saya, sebagai karyawan yang baik dan sebagai suami yang bertanggung jawab,” sahut Bara membalas uluran tangan pak Zaky.
“Sekali lagi terima kasih banyak pak Bara.”
Mereka sama melepaskan jabatan tangannya, beberapa kali pujian yang dilontarkan oleh pak Zaky kepada Bara. Ia benar-benar bangga terhadap Bara, walaupun Baru beberapa hari bekerja.
“Terimakasih kembali kepada pak Zaky, sudah mempercayai saya dan juga memperkerjakan saya disini.”
“Iya pak Bara, sama-sama. Senang sekali bisa memperkerjakan karyawan seperti Pak Bara,” sahut Pak Zaky.
Melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanan Bara, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.
Mereka mengakhiri percakapan mereka, Bara lebih dulu undur diri. Karena tugasnya sudah selesai.
Bara mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, penerangan jalan yang minim ditambah sorot lampu pengendara lain, membuat penglihatannya tidak terlalu jelas.
Saat tiba didepan rumahnya, Bara heran dengan semua lampu rumahnya yang padam.
“Apa Nisa sudah tidur?” Batin Bara.
Saat di kantor, ia sempat mengirim pesan kepada istrinya Jika dirinya terlambat pulang, karena ada perkerjaan tambahan. Namun, tidak ada balasan dari sang istri.
Bara membuka pintu dengan kunci serep yang ia bawa. Ketika masuk ke dalam rumah, semuanya gelap, tidak ada penerangan sama sekali.
Bara mencari saklar lampu, dengan bantuan sinar dari ponselnya.
Ketika lampu sudah menyala, netranya langsung tertuju kepada seseorang wanita yang ia cintai, tertidur di sofa dengan posisi meringkuk.
“Kenapa dia tidur disini?” batin Bara. Bara menatap diatas meja yang sedikit berantakan.
“Sayang,” panggil Bara menyentuh bahu istrinya.
Merasa ada yang menyentuhnya, Nisa membuka matanya.
“Sayang, kau baik-baik saja?”
Melihat istrinya dengan mata yang sembab, ditambah rambut yang acak-acakan.
“Jam berapa ini!?” tanya Nisa menatap tajam suaminya.
Membuat Bara menelan ludah kasar, untuk pertama kalinya melihat istrinya seperti ini.
“Sayang, aku sudah mencoba menghubungimu sejak tadi. Tapi tidak kau angkat, bahkan pesanku tidak kau baca! Aku akan pulang terlambat hari ini, apa kau sudah melihat pesanku?” sahut Bara mencoba menjelaskan.
Namun, tidak digubris oleh Nisa.
__ADS_1
“Oh ya! Terlambat karena apa!? Karena harus menemui istri tuamu!” geram Nisa yang sudah dipenuhi amarah.
Bara bingung dengan pertanyaan istrinya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi yang jelas, aku terlambat Karena ada meeting penting hari ini.”
“Aku sudah berulang kali menghubungimu, tap...,” tambahnya lagi.
“Banyak alasan!” Cela Nisa berlalu pergi meninggalkan Bara, tanpa mendengarkan penjelasan suaminya. Bara menatap kepergian istrinya dengan heran.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia sepertinya sangat marah?” Ucap Bara dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bara mengunci pintu luar terlebih dahulu, lalu ia menaiki tangga menuju kamar mereka.
Saat didepan pintu kamar, ia tidak bisa membuka kamar tersebut karena terkunci dari dalam.
Tok.., tok.., “Sayang, kenapa pintunya di kunci?”
“Sayang,” panggil Bara berulang kali.
Namun, pintu tersebut tak kunjung terbuka. Ia menarik napas pasrah, dan berlalu pergi masuk ke kamar yang sebelumnya ia tempati.
“Jika aku tahu dia semarah ini, aku tidak mau mengambil jam lembur ini,” batin Bara merasa bersalah.
Ia berpikir bahwa istrinya semarah itu, karena dirinya pulang terlambat.
Bara masuk ke kamarnya, dan meletakkan tas kerjanya di sofa.
Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Bara kembali mencoba mengetuk pintu kamar Istrinya berharap istrinya mau membukanya. Namun, sama seperti sebelumnya tidak ada tanda-tanda pintu itu terbuka.
Bara kembali ke kamarnya, tubuhnya merasa sangat lelah. Lagi-lagi ia merasakan sakit kepalanya, ia mencoba merebahkan tubuhnya berharap mengurangi rasa sakit kepala yang ia rasakan.
POV Nisa
Aku menunggunya pulang sehingga larut malam, akan tetapi suamiku tak kunjung datang.
Aku marah melihatnya pulang selarut ini, aku berpikir ia pulang setelah menemui istri sirinya.
Berulang kali aku mendengar ia mengetuk pintu kamar, ada rasa kasihan terhadapnya. Namun, rasa egoku mengalahkan segalanya.
Ketukan kembali terdengar, setelah beberapa menit terhenti. Aku sangat ingin bertanya tentang pernikahannya yang paman katakan. Tapi, aku ingin Bara sendiri yang mengakuinya sendiri, tanpa harus aku yang bertanya.
Ketukan kini tak terdengar lagi, apa mungkin hanya sebatas itu perjuangannya. Apa saat ini ia sedang menghubungi istrinya, dan berbicara mesra di telepon.
Aarrggghhh...! Aku mengacak rambutku, aku tidak sanggup jika itu kebenarannya.
Sudah sangat larut malam, mataku belum mau terpejam. Ada rasa bersalah kepada suamiku, karena sudah mengabaikannya.
Aku perlahan membuka pintu, melihat pintu kamar suamiku terbuka lebar. Ia tidur dengan posisi meringkuk dengan tangan satunya menjadi bantalan.
__ADS_1
Aku bernapas lega setelah melihat suamiku tidur pulas dengan napas yang beraturan, aku membenarkan selimutnya yang terjatuh di lantai. Aku memandangi wajahnya saat tertidur, wajah yang polos dan tampan.
Setelah puas memandang wajahnya, aku kembali ke kamarku. Berbaring di tempat tidur, sedikit lega karena sudah melihat suamiku baik-baik saja.
POV Author
Jam 04.00 dini hari, Bara terbangun. Merasakan tenggorokannya sangat kering, ia mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air yang sudah tersedia di nakas.
Bara baru menyadari jika dirinya tidak tidur di kamar istrinya, setelah menghabiskan air segelas ia keluar berharap pintu tidak di kunci oleh istrinya.
Keberuntungan berpihak kepada Bara, pintu kamar istrinya tidak terkunci.
Ia memutar kenop pintu, melihat istrinya tertidur pulas dengan posisi meringkuk.
“Aku tidak tahu, apa yang membuatmu hingga sangat marah seperti ini? Maafkan aku sayang,” ucap Bara dalam hati.
Bara duduk ditepi kasur sambil mengelus kepala istrinya pelan.
“Mas, jangan pergi!” gumam Nisa dibalik selimut.
“Apa dia sedang mengigau?”
Bara mengintip wajah istrinya dibalik selimut.
“Iya. Sepertinya dia sedang mengigau.”
Hiks..., hiks..., hiks.
Terdengar suara isak tangis istrinya, dari dalam selimut tebalnya.
“Sayang,” panggil Bara.
“Mas. Jika anakmu lahir nanti, apa kamu akan meninggalkanku,” gumam Nisa dengan mata yang masih tertutup.
Bara mengerutkan keningnya, melihat istrinya mengigau separah itu.
“Apa ini ada hubungannya dengan kemarahannya kemarin?” Batin Bara bertanya-tanya.
“Ini pasti ada yang tidak beres,” gumamnya.
Bara mencium pucuk kepala istrinya, Bara beranjak dari duduknya mengambil sebatang rokok di meja.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih banyak dukungan kalian semua🙏🙏