
Di kamar hotel, Dion dan Nadia baru saja memasuki kamar mereka.
“Huft... cape kak,” keluh Nadia langsung duduk di sofa empuk.
“Lepas pakaianmu dan cepat mandi. Setelah itu istirahat, aku juga sangat lelah,” ucap Dion sambil melepaskan sepatunya.
“Bantu aku melepaskan kaitannya, tanganku tidak bisa,” ucap Nadia berusaha membuka resleting pakaiannya yang terletak di belakangan.
“Kemari lah,” ucap Dion agar Nadia mendekat.
Nadia bergeser mendekati Dion yang duduk di ujung sofa.
Tangan Dion perlahan membuka resleting tersebut, terlihat jelas punggung Nadia yang putih mulus.
“Kak, kok malah bengong!” protes Nadia.
“Sudah.”
“Lama sekali!” gerutu Nadia.
Nadia melangkah menuju pintu kamar mandi. Sebelum masuk, tanpa ragu ia melepaskan pakaian pengantin tersebut di depan lelaki yang baru saja menjadi suaminya tersebut.
Dion menelan salivanya, lalu mengusap wajahnya kasar.
Walaupun masih memakai baju dalam dan celana karet yang tipis, sangat jelas lekuk tubuh Nadia bagaikan gitar Spanyol.
“Astaga! Kenapa membuka pakaiannya disini? Sungguh menggoda iman,” gerutu Dion.
“Kenapa melihatku seperti itu kak?”
“Mau ya?” goda Nadia sambil terkekeh.
Lalu berlari kecil masuk ke kamar mandi.
“Astaga, kenapa dia lucu sekali? Ah... aku tidak membiarkanmu tidur nyenyak malam ini,” tutur Dion dengan senyum penuh maksud.
Ia merebahkan sebagian tubuhnya di kasur empuk dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
“Hah... enak sekali, tubuh ku benar-benar sangat lelah.”
“Dia mandi atau tidur? Lama sekali!” keluh Dion.
Karena sudah cukup lama menunggu istrinya, tapi belum keluar.
Ia duduk lalu beranjak dari tidurnya, menuju pintu kamar mandi.
Tok! Tok! Tok!
“Nadia, kau mandi apa tidur?”
“Aku mandi kak, sebentar lagi selesai,” sahutnya dari dalam.
“Cepatlah, aku sangat gerah!”
“Iya sebentar lagi,” sahutnya Nadia lagi.
Dion kembali melangkah menuju sofa, baru saja mendaratkan bokongnya untuk duduk. Dion mendengar nada dering ponsel miliknya, dari dalam tasnya.
“Huh... siapa lagi yang menghubungiku? Awas saja kalau si cunguk itu yang menghubungiku!” gerutu Dion mengambil tas miliknya yang tergeletak di meja.
Dan benar saja, ketika membuka tas tersebut, tertera nama Erwin yang tertulis di layar ponselnya.
“Sialan! Kenapa aku menyebutnya namanya? Huft... mau apasih dia?!” gerutu Dion.
“Halo. Ada apa? Kenapa kau menggangguku? Apa kau tidak tahu, ini adalah malah pertamaku! Hah?” celetuk Erwin.
__ADS_1
“Ini ayah,” sahutnya.
Membuat Dion langsung terdiam, karena ayahnya Erwin juga meminta untuk Dion memanggilnya ayah, agar sama sepeti Erwin.
“Maaf Ayah, aku pikir ini Erwin. Ada apa ayah menghubungiku? Lalu kenapa ponsel Erwin ada pada Ayah?”
“Kalau Dion tidak keberatan, ayah ingin meminta tolong?”
“Ada apa Ayah?” tanya Dion.
“Nisa hilang, sejak sore tadi belum di temukan hingga sekarang. Dugaan di culik dan Erwin memarahi semua karyawan hotel termasuk manajernya, dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Tolong kamu turun dan bantu tenangkan dia,” ucapnya.
“Aku akan segera turun Ayah,” sahutnya.
“Astaga! Siapa yang menculiknya?”
Dion bergegas melepaskan pakaiannya dan menggantikannya dengan pakaian biasa.
Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka.
Nadia sudah memakai pakaian tidur yang cukup menerawang.
Dion yang melihatnya menelan saliva dengan kasar.
Lalu ia teringat akan turun menemui ayahnya yang sudah menunggu di bawah.
“Kakak mau kemana?” tanya Nadia yang melihat Dion yang sudah berganti pakaian.
“Nisa hilang, aku akan turun. Karena Erwin sedang mengamuk dengan karyawan hotel di bawah,” sahutnya hendak melangkah keluar.
Namun langkahnya terhenti, ia kembali mendekati istrinya yang masih mematung di dekat tempat tidur.
Cup!
Dion meninggalkan ciuman di pipi istrinya.
Cup!
Ia kembali mencium pipi sebelah istrinya.
“Aku mencicipinya sedikit,” ucap Dion terkekeh.
Lalu pergi meninggalkan istrinya yang masih mematung dengan wajah yang merona. Karena selama lima tahun, ini untuk pertama kalinya, Dion mencium pipinya.
Di lantai bawah, Erwin tak henti-hentinya mengumpat.
“Erwin! Yang kita lakukan disini adalah mencari Nisa! Bukan untuk memarahi karyawan yang tidak bersalah seperti ini!” tegur ayahnya.
“Mereka tidak becus bekerja!” ketus Erwin.
“Ini memang bukan tugas Mereka. Kau ini sungguh aneh,” protes ayahnya.
“Ayah ada apa?” tanya Dion yang baru saja tiba.
“Nisa hilang dan anehnya tidak terlihat di CCTV,” ucap Ayahnya menjelaskan.
“Apa sudah lapor polisi?”
“Polisi tidak akan menerima laporan sebelum 24 jam.”
“Apa Nisa memang hilang di hotel ini? Mungkin saja ada di tempat lain.”
“Tidak. Menurut informasi dari Toni, Nisa masuk ke dalam hotel lagi, mau ke toilet," sahut Erwin.
“Aneh sekali,” tutur Dion.
__ADS_1
“Ayah sudah mengarahkan anak buahku, untuk membantu mencarinya. Kita tunggu di mobil saja,” ajak Ayahnya.
Dion menarik tangan Erwin, terlihat jelas jika Erwin begitu khawatir dengan keadaan Nisa sekarang.
Mereka beriringan keluar menuju mobil mereka yang terparkir.
Sementara di tempat yang sama, Toni merasakan getar ponsel miliknya.
Drrttt ! getar ponsel milik Toni berdering.
“Halo.”
“Bos. Kami mencurigai mobil hitam, yang keluar dengan melaju kencang keluar dari parkiran hotel.”
“Apa ada salah satu dari kalian mengikuti mobil tersebut?” tanya Toni.
“Ada bos. Masih dalam pengejaran saat ini,” sahut salah satu anak buahnya.
Toni memang seperti orang biasa. Namun, jika menyangkut keluarga dari nenek Dira, ia akan seperti singa yang kelaparan.
Toni mengakhiri panggilan tersebut, lalu menghubungi Erwin yang juga masih berada di area hotel tersebut.
Setelah mendapatkan kabar dari Toni, Erwin segera menemuinya dan bergabung dengan mereka dalam satu mobil.
Toni mendapatkan kabar baik, dari anak buahnya. Jika lokasi penculik sudah ditemukan.
Mereka menyusul dengan kecepatan penuh, ke titik lokasi tersebut.
***
Nisa mulai mengerjapkan kedua matanya, ia menyempitkan kedua kelopak matanya akibat silau dari cahaya lampu.
Nisa tampak kesusahan untuk duduk, karena kedua kaki dan tangannya terikat dengan tali yang sangat kuat, bahkan mulutnya pun di isolasi hitam dengan kuat.
“Hahaha...” gelak tawa seseorang yang duduk di hadapannya, melihat Nisa yang kesusahan untuk duduk.
Nisa seperti mengenali suara tersebut, bahkan tidak asing.
“Bagaimana Nona Nisa? Apakah kau lapar? Haus?! Hah...?” tanyanya diiringi dengan gelak tawanya.
“Begitulah yang di rasakan anak dan istriku. Mereka kelaparan dan kehausan, menangis siang dan malam. Apa kau tidak mempunyai hati nurani mu? Sedikit saja...! hah...?” bentaknya.
“Aku yang bersalah! Tapi kenapa kau menghukum mereka juga?! Harusnya hukum aku saja, jangan mereka!” teriaknya.
Ia mendekati Nisa dan menarik rambutnya ke belakang, agar lebih leluasa melihat wajah Nisa.
“Kau sudah melihat wajahku sekarang! Bukan?”
Ia menarik kuat rambut Nisa, membuat Nisa refleks memejamkan matanya karena menahan sakit.
“Buka matamu, bodoh!” bentaknya.
Nisa membuka matanya, menatap pria tersebut.
“Kau mempunyai seorang putra bukan?! Bagaimana jika aku membunuhnya?” ancamnya.
Nisa dengan cepat menggelengkan kepalanya, bersamaan dengan air matanya yang keluar.
“Tapi ini menarik juga. Aku akan membawanya dan membunuhnya di depan mata kepalamu sendiri!” ucapnya melepas kasar rambut Nisa.
Nisa memberontak, mencoba melepaskan ikatannya. Namun percuma, tali yang tangan dan kakinya terikat dengan sangat kuat.
Nisa hanya bisa pasrah melihat kepergian pria tersebut, berteriak pun percuma. Tidak ada yang mendengarnya, karena mulutnya pun di tutup dengan isolasi hitam dengan kuat.
.
__ADS_1
.
.