
Nisa baru saja bergabung di meja makan bersama nenek dan putranya beserta yang lainnya. Karena sebelumnya, ia menerima telepon terlebih dahulu.
Tampak Nisa seperti enggan untuk makan. Sejak tadi, hanya mengaduk makanan yang ada di piringnya tersebut.
“Ada apa?” tanya Nenek.
Nisa menggelengkan kepalanya, setelah menerima telepon, Nisa tampak kurang bersemangat.
“Apa Nisa hari ini ke kantor?” tanyanya lagi.
“Iya Nek, sudah berapa hari tidak masuk kantor.”
“Cepat habiskan sarapanmu, lihat cicitku saja sudah hampir menyelesaikan sarapannya.”
“Entahlah... Nisa tidak berselera untuk sarapan nek,” keluh Nisa meletekkan sendoknya di piring.
“Oh ya... bagaimana dengan keadaan Nenek? Nenek pagi ini terlihat sangat bugar, bukankah semalam Dokter mengatakan jika Nenek sakit?” tanya Nisa lembut.
Pertanyaan cucunya membuat Neneknya langsung terdiam, seperti sedang menyadari sesuatu.
“Nisa semalam sangat mengkhawatirkan Nenek. Bagaimana jika kita ke rumah sakit sekarang Nek? Kata Dokter Amita, gula darah Nenek sangat tinggi.”
Nenek Dira menelan salivanya dengan kasar, ia baru ingat jika semalam ia sedang bersandiwara.
“Astaga, kenapa aku bisa lupa?!” umpat dalam hati.
“Oh, itu. Iya, nenek pagi ini merasa sangat bugar, obatnya memang sangat manjur. Tidak perlu ke Dokter, Nenek sudah merasa baikkan,” sahutnya tampak gugup, namun berusaha menyembunyikannya.
“Nyonya sakit?” tanya Toni mengernyit keningnya heran.
Sebelumnya, sore itu Nenek Dira masih bicara dengannya tidak seperti orang sakit.
“Ternyata kau tidak tahu, Toni? Bagaimana bisa kau tidak mengetahui hal sepenting ini?! Bukankah kau dirumah? Apa saja yang kau lakukan, sehingga tidak mengetahui jika Nenekku sakit?” ucap Nisa sambil mengedipkan kedua matanya, jika dirinya hanya bersandiwara.
Beruntung Toni mengerti, apa yang di maksud oleh Nisa dan ikut bersandiwara.
“Aku tidak tahu Nona, sungguh!”
“Kau ini semakin hari semakin tidak benar dalam bekerja, sepertinya aku harus memberimu pelajaran. Apa kau mau ku pecat?! Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya dan tidak ada satu pun orang yang ada di dalam rumah ini mengetahuinya!” bentaknya lagi.
“Maafkan saya Nona. Sungguh, saya benar-benar tidak tahu.”
“Dan kau, apa kau juga tidak tahu, jika Nenekku sakit?” tanya Nisa kepada Artnya.
“Saya tidak tahu Nona, kemarin Nyonya sepertinya baik-baik saja. Saya benar-benar tidak tahu, jika Nyonya sakit,” sahut Art nya menunduk.
“Sudah cukup Nisa! Mereka tidak bersalah. Jangan marahi mereka,” sahut nenek.
“Nenek yang bersalah, Nenek berbohong,” lirih nenek.
Semua orang menatap nenek yang menunduk.
“Kenapa Nek?” tanya Nisa pelan.
“Karena Nenek Ingin kau menikah dengan Erwin, itu saja.”
“Nenek membohongi semua orang, karena hal sepele! Bahkan aku begitu sangat mengkhawatirkan Nenek, semalam. Tapi ternyata, Nenek hanya bersandiwara.”
Saat mendengar perdebatan Nenek dan cucu, Toni dan yang lainnya langsung pamit dari meja makan tersebut, tidak lupa Toni mengajak Reyhan yang sudah menyelesaikan sarapannya.
“Nisa... Nenek mengaku salah, Nenek minta maaf. Tapi, Nenek mohon dengan sangat kepadamu saat ini. Apakah Nisa bisa memenuhi permintaan terakhir Nenek?”
“Aku tidak tahu Nek,” Sahut Nisa lembut.
“Jangan paksa Nisa. Untuk saat ini Nisa tidak memikirkan untuk menikah,” tambahnya lagi.
“Apa Nisa tidak menyayangi Reyhan?”
“Kenapa Nenek bicara seperti itu? Tentu saja aku sangat menyayangi putraku.”
“Tidakkah Nisa melihat kedekatan antara Erwin dan Reyhan? Mereka sangat dekat, percayalah... cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”
Nisa terdiam mendengar ucapan Neneknya, ia bahkan membenarkan jika tidak ada jarak antara putranya dengan Erwin.
“Aku akan mencoba menjauhkannya dari Erwin!” tegas Nisa.
Nenek menghela napas kasar.
“Jangan menyesal dengan keputusanmu ini! Nisa sungguh keras kepala,” kesal neneknya yang langsung pergi dari meja tersebut.
Beruntung saat itu, Reyhan sudah pergi bersama Toni menunggu di mobil. Karena mengerti dengan kondisi di meja makan, Toni langsung membawa Reyhan pergi, agar tidak mendengar perdebatan mereka.
__ADS_1
Nisa membuang napas kasar, melihat kepergian neneknya.
“Aku memang egois dan keras kepala Nek. Tapi ini semua ku lakukan untuk Erwin, dia lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik,” gumam Nisa dalam hati.
“Ma... ayo berangkat, Reyhan sudah telat!” protes putranya yang memanggilnya dengan wajah cemberut.
“Iya sayang, maaf. Ayo kita berangkat sekarang,” sahut Nisa.
Ia beranjak dari duduknya dan mengambil tasnya yang sebelumnya ia letakkan di sofa.
Nisa bergegas keluar rumah, tanpa berpamitan kepada neneknya. Karena ia tahu, neneknya pasti tidak akan membuka pintu kamarnya.
Nisa menyusul Reyhan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping putranya tersebut.
“Mama lama sekali! Rey sudah tidak sabar ingin bermain bersama temanku!” protes Reyhan.
Nisa tersenyum.
“Maafkan Mama sayang,” gumam Nisa dalam hati.
“Toni, maafkan aku. Aku sudah membentakmu tadi,” ucap Nisa merasa bersalah.
“Tidak perlu meminta maaf Nona, aku sudah mengerti.”
“Terima kasih sudah mengerti.”
Toni mengendarai mobilnya, menuju tempat sekolahnya Reyhan.
Tak butuh waktu lama, menuju tempat sekolahnya. Nisa turun mengantar putranya hingga ke depan gerbang.
“Belajar yang rajin ya sayang,” ucap Nisa mencium kening putranya.
“Iya Ma. Ma, nanti setelah pulang sekolah kita ke rumah Papa ya?”
Nisa tidak langsung menjawab.
“Ada teman Reyhan sudah datang, coba lihat.”
Nisa menunjuk ke arah ruang kelasnya untuk mengalihkan pembicaraannya. Dan benar saja, ada beberapa temannya yang melambaikan tangan kepadanya.
“Ma, Reyhan masuk ya. Dadah Mama,” ucap Reyhan yang berlari kecil meninggalkan Nisa.
Setelah memastikan putranya masuk ke dalam kelas, Nisa kembali ke mobilnya.
“Sudah Nona?” tanya Toni.
“Iya, sudah. Kita kembali ke kantor,” sahut Nisa.
Toni kembali menghidupkan mesin mobil dan mengendarainya menuju kantor mereka.
“Oh, ya... bagaimana dengan Andi?”
“Andi sudah di amankan Nona dan masalah keluarganya, saya sudah memberikan uang setiap bulannya untuk biaya hidup mereka.”
“Bagus... jangan biarkan mereka sampai kelaparan.”
“Iya Nona.”
Hening sejenak.
“Toni...” panggil Nisa.
“Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?”
“Ada sih. Tapi, aku tidak yakin kau mau melakukannya.”
“Saya akan usahakan, Nona.”
Nisa tampak ragu untuk mengatakannya.
“Mm... apa kau mau menikahi ku?”
Pernyataan Nisa mampu membuat Toni tidak fokus mengendarai mobil, Toni banting setir ke kiri lalu menginjak rem mendadak hingga menabrak belakang mobil yang terparkir di bahu jalan.
Ciiitt...!
Bruak...!
“Astaga Toni!” jerit Nisa yang mengelus da*anya, dengan napas yang naik turun.
“Kau mau membunuhku?!” geram Nisa.
__ADS_1
“Maaf Nona, saya tidak sengaja. Apa Nona baik-baik saja?” tanya Toni.
“Kau gila! Jantungku hampir copot!” kesal Nisa memukul pelan bahu Toni.
“Woi, keluar!” teriak seorang pria sambil mengetuk pintu kaca mobil.
“Sebentar Nona, aku akan membereskan ini dulu,” pamit Toni.
“Pergilah!” ketus Nisa.
Melihat Toni yang sudah keluar, ia menghela napas.
“Astaga, jantungku serasa mau copot.”
Nisa melihat Toni dari dalam mobil, ia mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan memberikan beberapa lembar kepada pemilik mobil tersebut sebagai ganti rugi kerusakan.
“Bagaimana?” tanyanya kepada Toni yang sudah masuk ke dalam mobil.
“Sudah beres.”
“Maafkan saya sekali lagi Nona. Pertanyaan Nona membuat saya jadi tidak fokus untuk mengendarai mobil,” tutur Toni.
“Huft... sebenarnya aku hanya bercanda tadi. Maaf...” lirih Nisa.
Toni bernapas lega, ia tidak bisa membayangkan jika Nisa berbicara serius.
“Ayo jalan. Apa yang kau pikikan?” ucap Nisa melihat Toni yang diam.
“Iya Nona,” sahutnya.
Toni kembali mengendarai mobilnya, tidak ada percakapan di antara mereka di dalam mobil tersebut, hingga tiba di kantor.
***
Di bandara.
Erwin baru saja mengantar ke dua orang tuanya, saat ini dirinya masih duduk di kursi yang ada di bandara.
Erwin mengambil ponselnya, untuk kembali menghubungi Dion.
Tut...! Tut...! suara panggilan terhubung.
“Halo,” ucap Dion dengan nada malas.
“Kau sendiri yang memberiku cuti selama seminggu! Terus kenapa kau selalu saja menghubungiku?” tanya Dion dengan nada kesal.
“Apa sekarang aku mengganggumu?” tanya Erwin dengan suara sedikit lemas.
“Sebenarnya sangat mengganggu. Tapi, ya sudah lah. Ada apa? Suaramu begitu lemas?”
“Maaf jika aku mengganggumu,” lirih Erwin.
Membuat Dion yang ada di Bali mengernyitkan kening heran.
“Ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya,” tanya Dion penasaran.
“Aku baik-baik saja. Aku hanya memberitahumu, jika hari ini aku berangkat ke luar kota. Untuk melihat proyek di sana, setelah masa cuti mu habis, kau dan Nadia menyusul ke sana. Aku yang akan mengurus apartemen kalian.”
“Hah... bukankah itu masih seminggu lagi? Kenapa cepat sekali kau pergi?” protes Dion.
“Aku hanya ingin pergi sekarang saja,” ucap Erwin.
“Oke, nikmati masa bulan madu mu. Setelah itu masa sulitmu, perkerjaanmu menumpuk.”
“Sialan...! terus kau pergi dengan siapa?”
“Aku akan pergi bersama dua orang dari kantor, mereka akan berangkat besok.”
“Hhmm. Baiklah, berhati-hati dijalan.”
“Iya,” sahut Erwin.
Tidak lama mereka mengakhiri panggilan teleponnya.
“Seperti ada yang tidak beres,” gumam Dion setelah selesai berbicara di telepon dengan Erwin.
.
.
.
__ADS_1