Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 88


__ADS_3

Nadia dan Ayahnya baru saja tiba di rumah mewah Erwin. Mereka heran melihat ada beberapa mobil mewah yang terparkir di dalam halaman rumahnya.


“Ayah, sepertinya kak Erwin ada kedatangan tamu,” ucap Nadia.


“Iya, sepertinya begitu. Ayo kita masuk saja,” ajak Ayahnya.


Mereka keluar mobil, melangkah menuju ke pintu masuk. Namun langkah mereka terhenti, ketika samar-samar mendengar mengucapkan Ijab kabul dengan lancar.


“Sah ...” ucap beberapa orang.


“Ayah, siapa yang menikah? Apa kak Erwin menikah. Kenapa tidak memberitahu kita?”


“Entahlah,” sahut Ayahnya mengangkat kedua bahunya.


Dengan langkah semangat, Nadia masuk ke dalam rumah tersebut dan di ikuti oleh Ayahnya dari belakang. Lagi-lagi langkah Nadia terhenti, melihat perempuan yang sangat ia kenal mencium tangan pria yang ia cintai.


Deg...! perasaan Nadia mulai campur aduk tidak karuan.


Ayahnya pun tak kalah terkejutnya, melihat pernikahan tersebut adalah pernikahan Dion dan wanita yang pernah dijodohkan dengan Erwin.


“Kak Dion,” lirih Nadia bersamaan dengan air matanya yang lolos begitu saja.


Dion hendak mencium kening istrinya, langsung terhenti ketika melihat Nadia yang berdiri menghadapnya.


“Nadia ...” lirih Dion.


Mendengar nama yang di sebut pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut, Shamila mengikuti arah mata suaminya.


Begitupun dengan Erwin yang tak kalah terkejutnya.


“Paman ..., Nadia ..., kenapa mereka ada disini?” ucap Erwin dalam hati.

__ADS_1


“Paman ...,” ucap Erwin lalu beranjak dari duduknya.


Orangtua Shamila menoleh, mendengar Erwin memanggil Pamannya.


“Paman. Paman ada disini? Kenapa tidak mengabari ku?” Tanya Erwin.


“Sebenarnya, Nadia ingin memberimu kejutan. Tapi, sepertinya kami datang di waktu yang kurang tepat.”


Lain halnya dengan Nadia dan Dion, yang saling bertatapan. Nadia shock, apa yang ia lihat terjadi langsung di depan matanya.


“Kami permisi!” Pamit Pamannya menarik tangan anaknya yang sejak tadi tak bergeming.


Dion tersadar, ketika Shamila memegang bahu suaminya.


“Ada apa?”


“Maaf, aku permisi sebentar,” ucap Dion.


Bruukk ...! Shamila pingsan dan tergeletak di lantai, bersamaan dengan darah yang keluar dari hidungnya.


“Shamila ...!” teriak Ibunya histeris.


Membuat semua orang menoleh ke arah suara, tak terkecuali Dion. Langkahnya langsung terhenti, ia berpaling melihat Shamila tak sadarkan diri. Ia kembali melangkah menemui istrinya tersebut.


“Shamila, bangun nak,” ucap Ibunya.


“Kita bawa ke rumah sakit sekarang,” ucap Dion dengan sigap menggendong tubuh istrinya membawanya masuk ke dalam mobil.


Para tamu yang mengerti, mereka satu persatu pamit untuk pulang.


“Terimakasih banyak atas kehadirannya,” ucap Erwin ramah.

__ADS_1


Setelah melihat para undangan yang sudah pulang, Erwin mengambil ponselnya mencoba untuk menghubungi Pamannya dan bergantian nomor Nadia. Namun, tidak ada yang mengangkat.


“Kenapa jadi kacau begini sih?!”


Berulang kali ia menekan nomor keduanya. Namun, tidak yang mengangkat.


Di dalam mobil, Ayah Nadia tak berhentinya mengumpat. Ia begitu marah dan menyalahkan Dion.


“Kau lihat sendiri kan! Pria yang kau bela, apa dia memikirkan perasaanmu?!”


“Bahkan dia menikah dengan wanita yang kita kenal. Selama ini, Ayah tidak salahkan meragukan dia! Ayah melarangmu, itu semua kebaikanmu. Ayah sudah tahu, jika Dion itu lelaki yang kurang ajar dan tidak beretika!”


“Sudah, cukup Ayah! Berhenti menghinanya,” ucap Nadia dengan suara bergetar.


“Lihat, kau sudah di sakiti begini dan masih membelanya! Ck ...! dimana pikiranmu sekarang? Kau membelanya ketimbang Ayahmu sendiri,”


“Ini semua kesalahan Ayah juga! Ayah sangat membencinya, seakan dia melakukan tindak kriminal!” ucap Nadia yang lolos begitu saja dari mulutnya.


“Kau menyalahkan Ayahmu sekarang?! Apa kau mau jadi anak durhaka?”


Nadia terdiam, berdebat dengan ayahnya tidak akan menyelesaikan masalah, pikirnya.


“Mulai sekarang, berhenti menyebut namanya! Kau mengerti?!”


Nadia hanya diam tidak mempedulikan ucapan Ayahnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2