
Sementara di hotel mewah, wanita dan pria sedang merayakan kemenangan mereka. Karena sudah berhasil mengelabui Bara dan mengambil semua aset nya.
“Kakak, kakak sangat pandai, bagaimana cara kakak mengelabui pria itu?” tanya adiknya penasaran.
“Huh..., cukup sulit. Aku harus merelakan tubuh ku terlebih dahulu,” ucap nya santai.
“Kakak hebat,” puji adik nya.
“Sebenarnya, aku kasihan melihat nya. Ia terlihat tulus kepada kakak...,” ucap Miranda terpotong.
“Kak, sadar kak. Kakak punya adik yang harus kakak biayai kuliah nya dan juga ibu masih terkurung di rumah sakit jiwa,” ucap adiknya menyadarkan Miranda.
“Iya kamu benar.”
“kakak mau istirahat, tubuh ku lelah sekali.”
“Kak,” panggil adiknya.
“Iya, ada apa?”
“Aku kemarin bertemu mantan kakak,” ucap adiknya dengan berhati-hati.
“Siapa? Erwin?”
Adiknya mengangguk. Miranda terdiam sejenak.
“Biarkan saja,” sahut nya mencoba mengacuhkan. Lalu menarik selimut menutupi hingga leher nya. Ia hanya memandang gundukan selimut yang menutupi tubuh kakaknya.
Di sore hari nya, Nisa terbangun setelah beberapa jam tertidur. Ia merasakan perut nya mulai lapar, sejak pagi tidak makanan yang masuk ke perut nya.
“Aww...,” lirih nya. Melihat Kaki nya sedikit membengkak. Namun, ia terbuat heran, siapa yang sudah memberi perban pada luka kakinya.
__ADS_1
“Siapa yang mengobati luka ku? Apa aku lupa ya?” gumam batin bertanya-tanya.
“Mungkin aku lupa, sebaiknya aku mandi. Aku sangat lapar,” ucap nya lalu perlahan masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai, Nisa perlahan berjalan ke dapur. Mengambil makanan yang ada di kulkas, karena sebelum pindah Bara sudah mengisi penuh dengan aneka sayur dan lauk pauk.
Sambil menunggu makanan matang, Nisa duduk di kursi, melihat makanan yang di berikan Erwin pagi tadi masih utuh. Ia membuka nya dan tercium aroma tak sedap.
“Sudah basi,” gumam Nisa.
Ia membuang nya ke tempat sampah, lalu duduk kembali. Terbesit di pikiran nya saat ini, bagaimana keadaan suaminya.
“Apa dia baik-baik saja?” Tanya nya. Ia berjalan perlahan menuju kamar Bara, sebelum nya ia sudah mematikan kompor terlebih dahulu.
Nisa meletakkan daun telinga nya di dinding kamar. Namun, tak terdengar suara apa pun.
Perlahan Nisa membuka pintu, melihat Bara tertidur di sofa dengan posisi tengkurap. Melihat lantai berserakan penuh dengan pecahan kaca.
Nisa menutup pintu pelan, kembali ke dapur untuk mengisi perut nya terlebih dahulu. Setelah selesai makan, Nisa mengambil sapu tak lupa ia memakai sendal jepit.
Perlahan masuk ke kamar Bara, untuk membersihkan kamar nya yang penuh dengan pecahan kaca. Nisa merasa kasihan melihat keadaan Bara dengan rambut yang acak-acakan, seperti tak terurus.
Tanpa Nisa sadari, Bara sudah bangun memperhatikan Nisa yang membersihkan pecahan kaca tersebut. Namun masih dengan posisi nya.
Setelah selesai, Nisa berjalan pelan dengan kaki nya yang sedikit pincang untuk keluar kamar dan menutup nya Kembali.
“Apa aku terlalu kasar kepada nya?” gumam Bara dalam hati. Ia duduk dan Bersandar di sofa.
Cukup lama ia termenung, lalu beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Nisa mengambil makanan untuk di bawa ke kamar Bara, berharap jika bara bangun nanti untuk makan.
__ADS_1
Ketika membuka pintu, di kejutkan bahwa Bara tidak ada di sofa dimana dia tertidur sebelumnya. Terdengar gemercik air dari arah kamar mandi.
“Dia sudah bangun? Sebaik nya ku letakkan disini saja, terserah mau di makan atau tidak.”
Nisa meletakkan nampan berisi makanan di meja, dan berlalu pergi. Bersamaan dengan Bara yang baru keluar dengan lilitan handuk di pinggang nya.
“Makanan?” Bara melihat ke arah pintu yang baru saja tertutup. Setelah berpakaian, ia mulai duduk melihat makanan di meja sangat menggiurkan.
“Enak,” gumam nya tanpa sadar memuji istrinya. Ia menghabis kan makanan tanpa sisa.
Selesai makan, Bara mengantar piring kotor ke dapur. Berhenti sejenak melihat Nisa yang membelakangi nya mencuci piring kotor. Ketika berbalik, di kejutkan dengan Bara yang berdiri di belakang nya memandang ke arah lain.
“Tu-tuan...,” lirih Nisa.
Bara menoleh, lalu memberikan piring kotor kepada Nisa. Ia melirik kaki Nisa yang masih terbungkus dengan perban.
Bara mendekati kotak obat yang dekat dengan jangkauan nya.
“Ini minum lah, untuk mengurangi rasa nyeri di kaki mu,” Ujar nya. Memberikan obat melihat Nisa sekilas, lalu berlalu pergi masuk ke kamar.
“Kerasukan apa dia? Tadi sangat kasar padaku, bahkan ingin membunuhku.”
Melihat sekilas obat di tangan nya, lalu mengambil air putih untuk minum obat.
Di malam hari nya, Nisa duduk di balkon kamar nya. Masih duduk memandangi langit yang begitu gelap, tiada bintang malam itu karena tertutup awan gelap.
“Seperti mau turun hujan,” gumam nya. Tanpa berniat masuk, walau angin sudah mulai kencang.
“Sedang apa kau disini?” suara begitu nyaring terdengar dari arah belakang nya.
Bersambung...
__ADS_1