
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di halaman rumah besar milik orangtua Nadia.
“Apa yang kau pikir? Ayo masuk,” ajak Erwin melihat Dion tampak enggan keluar dari mobil.
Dion menghela napas, berusaha untuk baik-baik saja.
Erwin menekan bel pintu rumah, tak lama pintu tersebut terbuka. Melihat Pamannya dan Nadia yang menyambut mereka dengan senyum mengambang.
Seketika senyum merekah dari wajah sang Paman langsung sirna, melihat Dion yang berdiri di belakang Erwin. Beda dengan Nadia, ia tampak sangat bahagia. Senyum manisnya masih merekah di bibir ranumnya, sesekali ia melirik Dion yang semakin tampan.
“Erwin,” panggil pamannya.
Erwin langsung mencium punggung tangan Pamannya, dan ketika Dion hendak mengulurkan tangannya, Ayah Nadia langsung merangkul bahu Erwin dan mengajaknya masuk. Tanpa menghiraukan Dion yang mematung, melihat hal itu, Nadia langsung mengambil alih mencium punggung tangan Dion.
Membuat sang pemilik langsung mengerutkan keningnya heran, untuk pertama kalinya wanita yang ia sukai memegang tangannya.
“Hai kak Dion,” sapa Nadia melihat Dion yang mematung.
“Ha—hai,” sahut Dion tampak gugup.
“Kenapa berdiri di depan pintu? Ayo masuk,” aja Nadia menarik tangan Dion.
“Ada apa dengannya? Apa aku sedang bermimpi? Tuhan, jangan bangunkan aku dari mimpiku,” ucap Dion dalam hati.
“Kenapa melamun? Cepat duduk,” bisik Nadia mencubit sambil lengan Dion.
“Kenapa kau mencubitku?” tanya Dion pelan.
“Karena kakak melamun,” sahut Nadia.
Nadia melebarkan senyumnya, membuat Dion semakin meleleh.
Erwin yang melihat sahabatnya hanya berdiri, ia melirik Pamannya yang sedang menerima telepon. Erwin langsung memanggil sahabatnya tersebut.
“Dion,” panggil Erwin.
Ia memberi kode agar Dion duduk di sebelahnya. Dion yang mengerti, ia langsung duduk persis di samping Erwin.
“Aku tinggal ke dapur ya,” pamit Nadia kepada Dion dan Erwin.
Mereka berdua mengangguk.
“Aku merasa kurang nyaman,” bisik Dion.
“Masa? Aku melihat wajahmu, sepertinya memberi reaksi lain!” ejek Erwin.
“Kau ini, aku serius!”
“Iya. Apa kau tahu kenapa Paman tiba-tiba memanggilku kesini?”
Dion spontan mengangguk juga langsung menggelengkan kepalanya. Erwin memicingkan matanya, ia mencurigai sahabatnya.
“Kau mengangguk apa menggeleng sih ?!”
“Ak—ku...”
“Aku tahu jika kau sudah mengetahui ini, iya kan?!”
Perdebatan mereka terhenti ketika Paman memanggilnya.
“Erwin.”
“Iya Paman,” sahut Erwin menoleh ke arah Pamannya yang menyusul duduk di sofa. Karena sebelumnya ia menerima telepon sedikit menjauh dari ruang tamu.
__ADS_1
“Mungkin ini sangat mendadak bagimu. Tapi, percayalah Paman sudah membicarakan dengan orangtuamu dan mereka menyerahkan semuanya kepada Paman.”
Erwin mengerutkan keningnya heran.
“Membicarakan tentang apa Paman?” tanya Erwin penasaran.
“Jadi begini. Paman mempunyai rekan bisnis, ia mempunyai anak perempuan yang baru saja menyelesaikan kuliah s2 nya. Paman dan Ayahmu sepakat ingin menjodohkan kalian, dan Ayahmu juga sangat mengenal mereka.”
“Apa, Paman? Aku tidak salah dengar kan?”
“Tidak. Erwin, Ayahmu yang memohon kepada Paman. Usia Ayahmu sudah tidak muda lagi, ia ingin sekali menimang cucu. Hingga saat ini kau belum mengenal satu perempuan pun kepada orangtuamu, Ayahmu begitu mengkhawatirkan mu.”
“Tidak Paman!” tolak Erwin.
“Ini zaman apa? Kenapa harus ada perjodohan? Aku tidak mau Paman!”
“Beri Paman alasan yang tepat! Kenapa tidak mau dijodohkan dan menikah. Masalah cinta itu kan bisa tumbuh, seiring berjalannya waktu!”
“Kau harus melihatnya terlebih dahulu, mereka akan tiba lima belas menit lagi.”
“Apa?! Kenapa Paman tidak memberitahu terlebih dahulu?!” tanya Erwin yang mulai kesal.
“Karena jika aku memberitahumu, kau tidak mungkin mau datang!” ketus Pamannya.
“Tapi Paman...”
“Jangan membantah! Sebentar lagi mereka akan tiba, jangan membuat aku dan Ayahmu malu! Kau mengerti!”
Erwin menghela napas, menyandarkan bahunya di sofa, membantah pun percuma pikirnya.
Ting, Tong. Terdengar suara bel berbunyi.
“Itu pasti mereka,” ucap Paman dengan wajah sumringah.
Nadia berlari kecil dari arah dapur, mendengar namanya di panggil.
“Iya Ayah,” sahut Nadia.
“Cepat, buka pintunya.”
Nadia mengangguk, dengan langkah cepat ia menuju ke arah pintu dan membukanya.
“Selamat malam,” sapa seorang wanita paruh baya dengan wanita cantik berdiri sejajar di sampingnya.
“Selamat malam,” sahut Nadia.
Nadia terpana melihat kecantikan wanita tersebut, tinggi putih dan body yang langsing nyaris sempurna. Rambut hitam tergerai panjang, ditambah pakaian yang mereka kenakan merupakan pakaian khas mereka yaitu pakaian India, hingga menambah kecantikannya.
“Wow,” ucap Nadia dalam hati sangat kagum melihat wanita tersebut.
“Apa benar ini kediaman Tuan Wijaya Kusuma?” tanya wanita penuh baya tersebut dengan sopan.
“Benar. Silahkan masuk.”
Nadia mempersilahkan mereka masuk.
“Ternyata mereka bisa bahasa Indonesia,” ucap Nadia dalam hati menutup pintu kembali.
“Selamat datang nyonya Sharma,” Sapa Wijaya kepada tamu.
Ia mengulurkan tangannya, begitupun Erwin dan Dion. Mereka ikut berdiri dan menyambut, walaupun dengan tersenyum paksa Erwin tetap mengulurkan tangannya kepada kedua wanita tersebut.
“Iya, Terimakasih Pak,” sahut nyonya Sharma menyambut tangan Pak Wijaya.
__ADS_1
“Erwin,” ucap Erwin mengulurkan tangannya kepada wanita cantik tersebut.
“Shamila,” sahutnya membalas uluran tangan Erwin.
Ia juga menyambut uluran tangan Dion.
“Dion,” ucapnya.
“Shamila.” Lalu melepaskan kembali tangannya.
Mereka duduk saling berhadapan, ada meja kecil menjadi pemisah mereka. Pandangan Shamila selalu tertuju pada Dion. Namun, Dion tidak menyadarinya, melihat Shamila sejak tadi tak bergeming menatap Dion, Nadia merasa kesal dan beranjak dari duduknya pergi ke dapur.
Sesampainya di dapur, Nadia menarik kursi dengan kasar dan langsung duduk.
“Kenapa wanita itu sejak tadi menatap kak Dion?!” kesal Nadia.
“Kenapa sayang? Wajahnya kok di tekuk begitu?” tanya ibunya yang sibuk membuatkan minuman dan camilan untuk tamunya di bantu oleh pembantu lainnya.
“Enggak ada mi,” Sahutnya mencoba untuk tersenyum.
Di ruang tamu, Paman dan Nyonya Sharma masih asyik berbincang. Erwin dan Dion juga ikut mendengarkan, tanpa mereka sadari Shamila sejak tadi memandangi mereka berdua secara bergantian.
Tanpa sengaja, Erwin melihat Shamila memandang Dion. Namun, Dion tidak menyadarinya jika Shalima terus memandanginya.
“Erwin,” panggil Pamannya.
“Ini adalah Shalima, anak dari Nyonya Sharma dan Mr Kapoor, Ayahnya saat ini tidak bisa datang karena ada masalah dengan bisnisnya yang berada di Kalimantan. Mereka adalah asli dari orang India, yang sudah lama menetap di Indonesia.”
Erwin mengangguk lalu tersenyum.
“Nyonya Sharma, ini keponakan saya Erwin. Orangtuanya saat ini menetap di London, untuk mengurus beberapa bisnis disana,” ucap Pamannya.
“Kamu sangat tampan sekali Erwin, kalian sangat serasi,” puji Nyonya Sharma membuat Shamila tertunduk malu.
“Erwin, ajaklah Shamila ke balkon. Berbincang lah disana untuk saling mengenal satu sama lain,” ucap Paman lembut.
“Iya Paman,” sahut Erwin.
“Saya permisi dulu Nyonya,” pamit Erwin.
Nyonya Sharma mengangguk, Erwin beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Shamila di belakangnya.
“Dion,” panggil Pamannya.
“Iya.” Dion menoleh.
“Kamu pergilah ke dapur, dan bantu istriku membawakan camilan kesini,” perintah Paman.
“Iya,” sahut Dion dan beranjak dari duduknya pergi ke dapur.
“Siapa dia?” tanya Nyonya Sharma.
“Dia pembantunya Erwin,” sahutnya.
Namun, masih terdengar oleh Dion yang masih berjalan masih belum terlalu jauh dari ruang tamu. Dion hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu menghela napasnya.
“Sabar,” ucapnya dalam hati.
.
.
.
__ADS_1