
Keesokan pagi nya, Nisa bangun lebih awal untuk bersiap. Namun, sudah hampir siang ia menunggu Erwin yang tak kunjung datang.
“Kenapa jam segini dia belum datang? Apa mungkin dia masih banyak pekerjaan?” gumam nya masih setia menunggu.
“Apa sebaiknya aku pergi saja, aku akan menghubungi nya nanti.”
Nisa berdiri mengambil koper nya menuju pintu keluar, namun ia kebingungan melihat pintu terkunci dan tidak bisa terbuka.
“Kenapa tidak bisa di buka?” mencoba berulang kali menarik pintu.
“Kunci nya sama, tapi kenapa tidak bisa terbuka.”
Masih mencoba membuka pintunya.
“Ada apa non?” tanya Art yang datang dari arah dapur.
“Kenapa pintu nya tidak bisa terbuka Bi?” tanya Nisa heran.
“Oh itu, pintu nya rusak. Saya sudah menghubungi tukang Service nya, mungkin sebentar lagi datang,” ucap nya.
“Oh gitu, tidak ada jalan keluar selain pintu ini?”
“Tidak ada Nona,” sahut nya.
“Saya permisi dulu Nona,” pamit nya. Nisa mengangguk.
“Huft, aku harus menunggu lagi,” gumam Nisa dalam hati kembali duduk di sofa.
Di dapur, Bi Susi sedang menerima telepon dari bos nya.
“Bagaimana Bi, apa dia tetap ingin pergi?”
“Tidak Tuan, kunci nya sudah saya tukar dan Nona sekarang kembali duduk di sofa.”
“Terima kasih Bi, saya sebentar lagi akan kesana. Hari ini ada meeting penting, jadi pagi tadi langsung ke kantor, tolong awasi saja Bi.”
“Iya Tuan.”
Bi Susi kembali menyimpan ponsel nya. Bi Susi adalah, Art Erwin yang mengurus apartemen nya walaupun ia jarang tidur di apartemen tersebut.
***
__ADS_1
Di kantor, Erwin tersenyum setelah selesai menghubungi Asisten rumah tangga nya. Namun, ia tak menyadari kalau Dion sahabat nya sekaligus asisten nya menatap nya heran.
“Apa kau sudah gila?” tanya Dion mengerutkan kening nya melihat sahabat nya tersenyum sendiri.
“Astaga, sejak kapan kau datang?” terkejut melihat Dion di hadapannya.
“Sejak tadi, sejak kau tersenyum sendiri seperti orang tidak waras!” ejek Dion.
“Aku masih waras!” protes Erwin.
“Ya terus, kenapa kau tersenyum sendiri?”
“Kepo deh anda.” Erwin beranjak dari duduk nya dan merapikan baju nya yang sedikit berantakan.
“Apa sudah selesai? Aku ingin pulang.”
“Sudah, kamu tinggal tanda tangan.” Dion menyerahkan berkas kepada Erwin.
“Mau Kemana terburu-buru sekali? Tak seperti biasa nya,” tanya Dion penasaran. Ia mengambil kembali berkas yang sudah Erwin tanda tangani.
“Mau bertemu dengan calon kekasih ku,” ucap Erwin.
“Ingat, Nisa itu masih berstatus istri orang. Apa kau mau di sebut pebinor?”
“Pebinor, apa itu?” tanya Erwin penasaran.
“Perebut istri orang,” ucap Dion terkekeh.
“Sialan kau,” umpat Erwin sambil meninju pelan bahu Dion.
“Oke, kalau sudah selesai aku pulang.”
“Iya pulang lah, kau kan bos nya!”
Erwin keluar ruangan nya, di ikuti oleh sahabat nya dari belakang.
“Erwin,” panggil Dion.
Erwin menghentikan langkah nya dan berbalik badan.
“Ada apa lagi?”
__ADS_1
“Bara ada di dekat kantor ini, ia mengawasi sejak tadi.”
“Huft, apa mau nya dia?” gumam nya.
“Tunggu sebentar, aku ikut dengan mu. Aku akan menyimpan berkas ini terlebih dahulu.”
“Iya,” sahut singkat Erwin.
Dion bergegas masuk ke ruangan nya, setalah menyimpan berkas nya, ia mengambil ponsel nya yang tergeletak di meja.
“Lama sekali,” gerutu Erwin.
“Tidak lama, hanya kau saja yang tidak sabar,” protes Dion.
Mereka jalan beriringan menuju lift, dan menekan tombol lift. Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah tiba di parkiran.
“Aku saja yang menyetir,” ujar Erwin.
“Kamu yakin?”
“Iya,” sahut Erwin santai.
“Kamu kenapa ikut bersama ku? Bukan kah ini belum jam pulang.”
“Aku hanya memastikan kejadian kemarin tidak terulang lagi! Mau taruh dimana wajah mu, kalau semua orang tahu.”
“Aku tidak takut, selama jalan aku benar!” protes Erwin.
“Sebenar benar nya kamu, tetap kamu yang salah! Karena sudah menyembunyikan istri orang!” geram Dion dengan sahabat nya.
“Aku tidak menyembunyikan nya, aku hanya melindungi nya.”
“Iya, memang benar melindungi nya, tapi cara kamu salah! Aku jadi penasaran seperti apa perempuan itu, hingga membuat kamu jadi seperti ini.”
“Diam kau!” bentak Erwin, membuat Dion terkekeh.
Erwin melajukan mobil nya, dengan kecepatan tinggi. Saat keluar kantor, Erwin sudah melihat dari kejauhan mobil Bara.
“Santai dong bawa mobil! Nyawa mu sepertinya punya sepuluh, aku belum mau mati sekarang!” teriak Dion berpegangan kuat.
Bersambung...
__ADS_1