Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 133


__ADS_3

Selesai menandatangani berkas tersebut, dengan langkah yang terburu-buru Erwin masuk ke dalam kamar.


Melihat istrinya sudah tidak ada di tempat tidur, ia mendengar gemercik air dari kamar mandi.


“Istriku sudah bangun, ternyata.”


Erwin melangkah menuju lemarinya, lalu mengambil kopernya dan mulai memasukkan pakaiannya.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka.


Ia keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.


“Erwin, apa ada pakaian lagi untukku?” tanyanya.


Ia melihat Erwin yang sedikit tergesa-gesa memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


“Mau kemana?” tanya Nisa heran.


“Kita akan pulang seka.....”


Perkataannya terhenti, ketika melihat sang istri hanya memakai handuk sebagai penutup tubuhnya. Apalagi ia melihat rambut Nisa yang tergerai dengan sedikit basah, membuatnya menelan salivanya.


Jika ia tidak ingat dengan Reyhan yang masuk rumah sakit, mungkin ia akan membawa Nisa kembali ke kasur dan mengacak acak tubuh istrinya di atas sana.


“Ini pakaianmu. Cepat pakai lah, kita akan pulang sekarang,” ucap Erwin memberikan paper bag, yang sebelum Dion sudah memesan pakaian untuk Nisa melalui istrinya.


“Kita pulang sekarang? Kau juga ikut bersamaku?” tanya Nisa.


“Iya.”


Nisa mengangguk, lalu pergi ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


Nisa sedikit heran, melihat Erwin yang seperti tergesa-gesa. Karena Erwin belum memberitahunya, jika putranya masuk rumah sakit.


“Apa kita sarapan dulu? Aku akan membuatkan mu sarapan,” tanya Nisa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.


“Tidak perlu, kita akan sarapan di pesawat saja.”


“Apa kau punya perkerjaan penting? Sepertinya dirimu begitu terburu-buru!”


Erwin menghela napasnya, lalu mendekati istrinya dan memegang kedua bahunya.


“Sayang. Kita harus pulang sekarang, Reyhan masuk rumah sakit,” ucap Erwin berbicara dengan penuh hati-hati.


“Apa? Putra ku, kenapa masuk rumah sakit? Reyhan sakit apa?”


“Sstt... tenang ya. Reyhan sudah ditangani Dokter sekarang, sebentar lagi kita akan berangkat. Tunggu aku mandi dulu,” ucap Erwin.


Nisa mengangguk.


“Apa aku boleh meminjam ponselmu? Aku akan menghubungi Nenek.”


“Pakai lah, itu ponselku,” sahutnya menunjuk ponselnya yang tergeletak di nakas.


Erwin melangkah menuju kamar mandi. Begitupun Nisa, mengambil ponsel milik Erwin.


Ia menggeser layar tersebut, karena ponsel milik Erwin tidak di kunci.


Ia tersenyum, sangat jelas wallpaper ponsel milik Erwin ternyata foto dirinya dan putranya.


Nisa menekan nomor nenek Dira, tak lama terdengar suara nenek dari dalam ponsel tersebut.


“Halo, nek.”


“Iya, Nisa. Apa kalian akan pulang hari ini?”


“Iya Nek. Kami akan berangkat sebentar lagi. Bagaimana dengan Reyhan nek?”


“Reyhan baik-baik saja. Dokter sudah memeriksanya dan kata dokter, ini hanya demam biasa dan besok sudah boleh pulang.”

__ADS_1


“Huh... syukurlah. Apa aku boleh berbicara dengannya?”


“Sekarang Reyhan sedang tidur. Mungkin karena pengaruh obat dari Dokter,” sahut Nenek.


“Baiklah Nek. Nenek hati-hati disana, aku dan Erwin sedang bersiap-siap.”


“Kalian juga berhati-hati.”


Nisa mengakhiri panggilannya bersamaan dengan Erwin yang baru pulang dari kamar mandi.


“Bagaimana? Apa kata Dokter?” tanya Erwin sambil mengenakan pakaiannya.


“Dokter mengatakan jika Reyhan hanya demam biasa, besok sudah boleh pulang.”


“Oh syukurlah. Aku begitu sangat khawatir, saat Dion memberitahuku.”


Nisa mendekati pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut, lalu membantunya mengancingkan pakaian suaminya tersebut.


Erwin tersenyum dan membiarkan Nisa melakukannya.


“Sudah,” ucap Nisa setelah selesai.


“Terimakasih sayang,” sahut Erwin seraya memberi ciuman di pipinya.


Membuatnya merah merona, ia langsung memalingkan tubuhnya agar Erwin tidak melihat wajahnya yang memerah.


Nisa melangkah ke meja rias dan mulai menyisir rambutnya.


“Keringkan dulu rambutmu, setelah itu baru di sisir.”


Erwin memberikan pengering rambut ke tangan Nisa.


“Terimakasih,” ucapnya.


Selesai bersiap, mereka keluar kamar Erwin menggeret kopernya keluar kamar. Saat Erwin membuka pintu, bersama dengan Dion juga hendak menekan bel pintu.


“Waktu kalian tinggal dua jam. Cepatlah,” ucap Dion.


Dion dengan senang hati membawanya koper milik Erwin, sambil menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam lift.


Sesampainya di parkiran, Dion menyetir mobil di temani istrinya di kursi depan.


Sedangkan Erwin dan Nisa duduk di kursi belakang.


Tidak ada percakapan di mobil tersebut, Nadia tidur dengan pulas. Begitupun dengan suami istri yang ada di kursi belakang, mereka memang tidak tidur. Namun, mereka terhanyut dengan pikirannya masing-masing.


Melihat istrinya hanya diam melihat ke luar jendela, Erwin menarik istrinya masuk ke dalam pelukannya.


Setibanya di bandara, Dion hanya bisa mengantar mereka hingga parkiran saja.


Pasalnya, banyak pekerjaan yang menunggu nya di kantor.


“Kalian hati-hati! Jangan ngebut bawa mobilnya, utamakan keselamatan.”


Erwin memperingatkan Dion dan istrinya penuh dengan perhatian.


“Kalian juga. Jangan lupa beri kabar, jika sudah tiba di sana.”


Erwin mengangguk.


Nisa dan Nadia saling memeluk satu sama lain, sebelum mereka benar-benar masuk.


Dion kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobil untuk kembali ke kantor.


Cukup membuat Nisa cemas, karena pesawat belum juga mendarat. Namun, kecemasannya itu langsung sirna ketika pesawat sudah mendarat dengan sempurna.


“Kita langsung ke rumah sakit saja, sayang.”


“Iya,” sahut Nisa.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam mobil, mobil tersebut yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


***


Di rumah sakit.


Erwin menggandeng tangan istrinya, menyusuri koridor rumah sakit.


Mencari letak ruang rawat inap Reyhan.


Saat tiba di depan pintu ruangan tersebut, Erwin meminta Nisa lebih dulu masuk.


Nisa mengangguk dan menuruti apa yang di ucapkan oleh suaminya tersebut.


“Sayang,” Panggil Nisa.


Ia melihat putranya tersebut, sedang makan di suapi oleh eyang putrinya.


“Mama...” sahut Nisa antusias.


Nisa langsung duduk di samping putranya dan mereka saling berpelukan. Nisa berulang kali mencium wajah putranya tersebut, lalu melihat tangannya yang terpasang selang infus.


Nenek yang melihatnya pun, tersenyum bahagia sambil mengusap belakang cucunya dan tanpa sengaja nenek menangkap tanda merah di leher belakang cucunya.


“Apa ini sangat sakit?” tanya Nisa khawatir.


“Sakit Ma. Tapi, sekarang tidak sakit lagi,” sahutnya.


Reyhan melihat sekelilingnya, mencari seseorang yang sangat ia rindukan.


“Cari siapa sayang?” tanya Nisa.


Reyhan menggeleng kepalanya, wajahnya yang semula ceria sekarang menjadi cemberut.


“Apa Reyhan menunggu seseorang?” tanya nenek Dira.


Ia sengaja bertanya, karena ia sudah melihat dari kaca pintu ruangan. Jika Erwin sedang berada di depan pintu tersebut.


“Papa, Eyang!” lirih Reyhan.


“Papa disini sayang,” ucap Erwin yang membuka pintu.


Semua orang menatap ke arah pintu, lalu Nisa melihat wajah putranya yang langsung ceria.


“Papa,” panggil Reyhan antusias.


Erwin langsung mendekati bangsal rumah sakit dan langsung memeluk bocah tersebut.


“Pa-p-a... hu-hu-hu...”


Reyhan menangis dalam pelukan Erwin.


“Ya tuhan, Reyhan begitu menyayangi Erwin. Maafkan aku yang pernah ingin memisahkan mereka,” batin Nisa.


Ia terharu melihat putranya, yang tersedu-sedu menangis dalam pelukan Erwin.


“Cup, cup. Anak Papa kok nangis? Papa sudah disini, sayang!” ucapnya mengusap wajah Reyhan karena di basahi dengan air mata.


“Papa kemana? Papa jangan pergi lagi.”


Reyhan kembali memeluk Erwin.


“Maafkan Papa sayang. Kemarin Papa harus ke luar kota, Papa bekerja sayang.”


“Reyhan sangat merindukan Papa?”


Reyhan mengangguk. Erwin mengangkat tubuh Reyhan agar duduk di pangkuannya, lalu berulang kali mencium wajah putranya tersebut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2