Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 137


__ADS_3

Cukup lama mereka berbincang di balkon tersebut, hingga Reyhan pun tertidur di sofa tersebut dengan paha Nisa menjadi bantalan putranya tersebut.


“Reyhan ternyata sudah tidur,” ujar nenek melihat Reyhan tidur pulas.


“Aku akan mengantarnya ke kamar,” usul Erwin.


Ia beranjak dari duduknya, menggendong tubuh Reyhan. Ia sedikit kesusahan, karena tubuh Reyhan yang cukup berat.


“Bisa gak?” tanya Nisa melihat Erwin yang sedikit kesusahan.


“Bisa,” sahutnya.


“Erwin, antarkan ke kamar Nenek saja. Biarkan Reyhan tidur bersamaku malam ini,” ujar nenek mengikuti langkah Erwin dari belakang.


“Apa Nenek tidak keberatan?” tanya Erwin membalikkan badannya menatap nenek Dira.


“Tidak. Nenek sudah terbiasa, memangnya kemarin-kemarin Reyhan tidur dengan siapa? Bukannya kalian belum kembali ke rumah.”


“Oh iya ya,” sahut Erwin.


Erwin melangkah menuju kamar nenek Dira, dengan Reyhan yang masih tertidur pulas di gendongannya.


Setibanya di kamar nenek, Erwin meletakkannya perlahan agar tidak membangunkan tidur bocah tersebut.


“Nenek yakin?” tanya Erwin lagi melihat nenek masuk ke kamar.


“Iya. Biarkan dia tidur bersamaku, kamu cukup berikan aku cicit lagi yang banyak. Hahaha...!” nenek tertawa lepas.


“Ah itu masalah gampang nek,” sahut Erwin ikut tertawa.


Untuk pertama kalinya, ia melihat nenek Dira tertawa nyaring.


“Baiklah Nek, aku tinggal dulu.”


Nenek Dira mengangguk, ia tersenyum bahagia melihat kepergian Erwin.


“Melihat kalian bersatu saja, aku sudah sangat bahagia,” gumam nenek.


Setelah keluar dari kamar nenek, Erwin kembali menemui istrinya yang duduk sendirian di balkon. Langkahnya terhenti, ia memicingkan kelopak matanya melihat Nisa yang melihat layar ponselnya sambil tersenyum.


“Sedang apa? Kenapa melihat ponselmu segitu bahagianya? Aku curiga,” ujar Erwin sengaja menggoda istrinya.


“Apaan sih! Nih...” Nisa memperlihatkan layar ponsel, jika ia sedang menonton film komedi.


“Oh. Awas saja berani macam-macam di belakangku,” ancam Erwin.


“Terserah,” ketus Nisa.


Niatnya hanya menggoda istrinya, berharap istrinya merayunya. Akan tetapi ia kebingungan sendiri, melihat Nisa yang cuek.


“Salah alamat sepertinya!” gumam Erwin dalam hati.


Erwin menutup laptopnya dan menggeser tubuhnya mendekati istrinya.


“Sayang, kok main ponsel terus sih! Aku disini loh!” protes Erwin.


Nisa meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap suaminya.


“Ada apa Hubby?” tanya Nisa lembut.


“Apa, apa? Coba katakan sekali lagi, aku mau dengar,” perintah Erwin.


“Iya Hubby,” ujar Nisa yang masih malu-malu.


“Sayang.”


Erwin menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Cup! Cup! Cup!


Ia mencium beberapa titik di wajah istrinya.


“Sudah, sudah. Kita masih di luar,” tolak Nisa sedikit menjauhkan tubuhnya.


Namun, Erwin malah menarik tubuh istrinya kembali.

__ADS_1


“Biarkan saja, apa salahnya jika aku mencium istriku sendiri.”


“Iya, tapi...”


“Sssttt... diam lah.”


Erwin meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya.


“Aku hanya ingin memelukmu, melepas rinduku yang selama bertahun-tahun menunggumu. Apa kau masih ingat, dimana pertama kali pertemuan kita?”


Nisa mengangguk sambil tersenyum.


“Dulu aku kalah Star sama mendiang Bara, mungkin jika aku lebih dulu saat itu aku yang menjadi suamimu.”


Mendengar nama Bara, Nisa melepaskan dekapan Erwin.


“Ada apa? Maaf, jika aku menyinggung perasaanmu.”


Erwin sedikit merasa bersalah, karena menyebut nama mantan suaminya.


“Tidak, bukan begitu. Aku belum ke makamnya,” ucap Nisa.


“Besok kita akan ke sana, oke.”


Nisa kembali mengangguk.


“Ayo kita masuk, udaranya sangat dingin.”


“Iya, ayo.”


Erwin membawa laptopnya dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya menggandeng tangan istrinya.


Saat tiba di kamar, Erwin langsung mengunci pintunya. Lalu meletakkan laptop miliknya di meja, lalu masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Nisa, ia merapikan tempat tidur terlebih dahulu, karena sedikit berantakan oleh putranya.


Erwin keluar kamar mandi masih bertelanjang dada, ia mencari pakaiannya di koper miliknya.


“Maaf, aku belum sempat menyimpan pakaianmu di lemari,” ujar Nisa merasa bersalah.


Setelah memakai pakaian tidurnya, Erwin menaiki tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya.


Sedangkan Nisa, masih menutup tirai yang sedikit terbuka, lalu menekan saklar lampu. Hanya lampu tidur yang menyala, yang terletak di nakas samping ranjang mereka.


Nisa menyusul suaminya yang lebih dulu naik ke atas tempat tidur dan bergabung disana lalu menyelimuti tubuh mereka.


“Kemari sayang.”


Erwin menarik pelan lengan Nisa, agar mendekat kepadanya.


“Ada yang ingin ku bicarakan kepadamu.”


Menatap istrinya dengan serius.


“Bicara saja,” sahut Nisa membenarkan badannya, lalu memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Erwin.


“Apa pun yang terjadi nanti, kau harus selalu percaya kepadaku.”


Mendengar perkataan Erwin, Nisa mendongakkan kepalanya menatap Erwin.


“Ada apa?” tanyanya serius.


Sebelum mengatakannya, Erwin menarik napas terlebih dahulu.


“Saat aku mengatakan ini, terserah kau percaya atau tidak.”


“Apa sih?” tanya Nisa penasaran.


“Apa kau tahu Miranda?” tanya Erwin.


Nisa mengernyit keningnya, lalu mengangguk.


“Bukan kah, wanita itu mantan kekasihnya mendiang mas Bara? Tapi aku belum pernah bertemu dengannya, hanya mendengar namanya saja.”


“Iya kau benar. Sebelum bersama Bara, dia juga bersamaku. Tapi aku berani bersumpah tidak pernah menyentuhnya sekalipun.”

__ADS_1


“Hah?”


Nisa tampak sedikit terkejut, lalu sedikit menjauhkan tubuhnya. Namun, Erwin dengan sigap menariknya kembali.


“Biarkan aku menjelaskannya.”


Erwin menjelaskan pertama kali bertemu dengan Miranda, dan bagaimana Miranda mencampakkannya begitu saja.


Miranda, lebih memilih pria yang kaya raya dan meninggalkan Erwin tanpa sebab. Tanpa Miranda ketahui, jika Erwin juga mempunyai aset kekayaan yang fantastis.


“Apa kau percaya kepadaku?”


“Iya, Hubby. Aku percaya,” sahut Nisa kembali memeluk suaminya.


“Ada satu lagi,” ucap Erwin.


“Apa?” tanya Nisa mendongakkan kepalanya lagi.


“Sebentar, aku mau menunjukkan kau sesuatu.”


Erwin melepaskan pelukannya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas.


“Kemari, lihat ini.”


Nisa mendekat, Erwin memutar sebuah rekaman video dari ponsel Erwin.


“Itu siapa? Kenapa dia sangat mirip dengan mendiang mas Bara?”


“Itu mas Bara? Tapi, tidak mungkin itu mas Bara! Aku melihat sendiri, mas Bara makamkan.”


“Kamu tenang sayang. Dia hanya mirip dengan Bara, tapi dia bukan Bara!” ujar Erwin menjelaskan jika pria tersebut memang bukan Bara.


“Terus, siapa dia?”


“Entah siapa? Mungkin dia kekasih baru Miranda.”


Nisa memicingkan matanya, menatap suaminya.


“Sayang, aku bersumpah. Aku tidak pernah berhubungan dengan Miranda sudah beberapa tahun,” pungkas Erwin.


“Ah, Toni pasti tahu hal ini,” tebak Nisa.


“Iya, aku juga baru saja mendapat informasi dari Toni. Jika pria tersebut selalu bersama Miranda. Bahkan ia seharian ini menunggu Reyhan di depan sekolahnya.”


“Menunggu Reyhan? Apa mereka memiliki rencana jahat? Jangan sampai terjadi sesuatu kepada Reyhan,” tutur Nisa.


“Aku tidak tahu. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Aku dan Toni sudah mempunyai rencana.”


“Rencana apa?”


“Aku akan menceritakannya nanti. Yang terpenting sekarang, istriku sudah mengetahui ini dan jangan mudah percaya kepada orang yang tidak kita kenal.”


“Iya,” sahut Nisa.


“Ayo kita tidur, aku sangat lelah,” ajak Nisa.


“Hmm... enak saja kau mau tidur. Aku cape menjelaskan ini!”


“Lalu, kau mau apa? Begadang hingga pagi?” tanya Nisa.


“Aku ingin mengabulkan permintaan Reyhan.”


“Reyhan jangan terlalu di manja. Memangnya Reyhan minta apa?”


“Reyhan meminta adik ,” bisik Erwin di telinga istrinya.


Nisa tersenyum, ia menarik selimut dan menyembunyikan wajahnya karena malu.


Erwin menarik selimut tersebut dan membuangnya ke sembarang arah.


Entah siapa yang memulai, hingga mereka melewati indahnya malam berdua.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2