Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 125


__ADS_3

Di rumah kediaman Erwin.


Erwin baru saja menyelesaikan joging pagi di sekitar kompleks rumahnya, ia kembali masuk ke kamarnya dan mandi.


Setelah selesai mandi, ia kembali turun untuk sarapan.


“Pagi Mi,” sapa Erwin yang duduk di kursi samping Maminya.


“Pagi sayang.”


Erwin menuangkan teh hangat ke dalam gelas yang ada di depannya.


“Dimana Ayah?” tanya Erwin.


“Sshhh... Kuping Mami panas, kalau kau memanggil Papi mu itu Ayah. Kenapa tidak manggil Papi saja seperti adikmu? Lagian, sedikit gak nyambung!” protes Maminya.


“Ah Mami, begitu saja marah. Erwin sudah kebiasaan manggil Ayah, bagaimana dong?”


“Huh... terserah!” gerutu Maminya.


“Pagi semua,” sapa Ayahnya yang baru saja ikut bergabung dengan mereka.


“Pagi,” sahut Erwin dan Maminya bersamaan.


Bu Anita menuangkan teh hangat untuk suaminya, menyiapkan sarapan untuk putranya dan suaminya.


“Jam berapa kalian ke bandara?” tanya Erwin di sela sarapannya.


“Jam sepuluh,” sahut maminya.


Erwin mengangguk mengerti.


“Apa kau tidak ikut kami? Adikmu juga merindukanmu,” tanya Ayahnya.


Erwin diam berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan.


“Nanti saja, setelah selesai proyek. Erwin dan Dion akan liburan ke sana,” sahutnya.


“Hanya Dion?” tanya Maminya.


“Iya, memang siapa lagi?”


“Nadia istrinya, kau melupakan dia.”


“Astaga! Aku hampir lupa, jika Dion Sudah menikah,” ucapnya menepuk keningnya pelan.


“Astaga, kau melupakan adik sepupumu sendiri.”


Maminya menggelengkan kepalanya, ayahnya terkekeh mendengar ocehan istrinya.


“Namanya juga manusia Mi,” celetuk Erwin.


“Yang bilang kau robot, siapa?” protes Maminya.


“Sudah! Sudah! Kalian ini, selalu saja ribut,” ucap Ayahnya sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya.


Setelah perdebatan kecil antara ibu dan anak saat sarapan pagi, kini mereka semua sudah menyelesaikan sarapannya.


“Mi, kenapa Mami gak tinggal disini sih sama Erwin?”


“Terus, anak dan suamiku bagaimana? Kamu dong yang pindah ke sana.”


“Aku juga anak Mami,” protes Erwin.


“Iya, disana juga anak Mami. Kamu kan sudah dewasa, adikmu masih kuliah juga. Jangan manja!”


“Kalau kangen kan, Erwin bisa terbang menemui Mami.”


“Iya Mi. Erwin hanya bercanda, siapa yang mengurus bisnis disini, jika Erwin pindah ke sana,” ucap Erwin.


“Nah, pintar anak Mami yang ganteng, uki uki...” ucapnya mencubit pelan kedua pipi putranya, sambil menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.


“Apaan sih Mi,” sahut Erwin terkekeh melihat kelakuan Maminya.

__ADS_1


“Ah Mami jadi pengen punya anak bayi lagi,” serunya.


Uhuk...! uhuk...! suaminya tersedak saat minum teh.


“Pelan-pelan Pi minumnya, kok bisa tersedak sih?” tanya istrinya sambil menepuk belakang suaminya pelan.


Erwin terkekeh, karena ia menyadari ucapan Maminya hingga membuat Ayahnya tersedak.


“Orang tua batuk kok malah tertawa!” protes Maminya melihat Erwin tertawa kecil.


“Maaf mi,” sahut Erwin menahan tawanya.


Setelah selesai dengan drama tadi, orang tuanya kembali ke kamar, untuk bersiap siap.


Sedangkan Erwin masih betah berdiam di tempatnya, sambil membuka ponsel miliknya.


Karena ia memiliki dua ponsel, Ia baru menyadari, jika ponsel yang biasa ia pakai saat menghubungi Reyhan, belum ia aktifkan. Karena semalam ia nonaktifkan, agar bisa melupakan Nisa pikirnya.


“Tuan,” panggil Artnya.


“Iya,” sahut Erwin menoleh ke arah suara.


“Semalam ada yang mencari Tuan.”


Erwin mengernyitkan kening heran, siapa yang mencarinya malam-malam.


“Siapa?” tanya Erwin penasaran.


“Ibunya Reyhan, Nona Nisa, Tuan. Tapi, semua orang sudah tidur. Jadi saya baru menyampaikannya sekarang,” ucapnya.


“Oh Nisa,” lirihnya.


“Iya. Terima kasih.”


“Kenapa dia menghubungiku? Apa terjadi sesuatu dengan mereka?” Erwin sedikit cemas.


“Mba,” panggil Erwin kepada Art nya yang masih muda.


“Dia bicara apa?”


“Nona hanya menanyakan anda Tuan,” sahutnya.


“Selain itu?”


“Tidak ada lagi Tuan hanya itu.”


“Oh begitu. Aku ada tugas untukmu, kemari mendekatlah,” ucap Erwin.


Ia sedikit bersemangat, karena untuk pertama kalinya Nisa menanyakan dirinya.


“Iya, Tuan.”


“Kau hubungi Nomor ini dan tanyakan ada apa dia mencariku. Tapi, jangan bilang jika aku ada di sampingmu,” perintah Erwin.


“Iya,” sahut Art tersebut.


Erwin memberikan nomor ponsel Nisa, lalu menyuruh Artnya tersebut untuk menghubungi nomornya dengan menggunakan telepon rumah.


Tut ! Tut ! panggilan terhubung.


“Halo,” sahut Nisa.


Erwin meminta Art nya untuk mengaktifkan sepikernya.


“Halo,” sahut Art tersebut.


“Iya, ini dengan siapa?” tanya suara Nisa dari dalam ponsel tersebut.


“Saya Art tuan Erwin. Kemarin malam, Nona menghubungi, bukan?”


“Iya, benar.”


“Tuan Erwin sudah berangkat. Saya di suruh untuk menanyakan ini kepada Nona, saat beliau pulang nanti saya akan menyampaikannya,” ucapnya.

__ADS_1


Terdengar helaan napas Nisa dari telepon tersebut.


Erwin masih setia duduk, mendengar Nisa untuk berbicara.


“Maaf, tadi malam saya cuma mau tanya, dimana Erwin meletakkan robot mainan Reyhan. Karena Reyhan mencarinya. Tapi, sudah ketemu jadi tolong jangan sampaikan hal ini, ya mba!” ucap Nisa berbohong.


Erwin semula terlihat senang, kini kembali murung.


Tak lama, Art tersebut juga mengakhiri panggilannya.


“Ini untukmu,” ucap Erwin memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.


“Banyak sekali Tuan?”


“Ambil saja,” sahut Erwin.


“Terima kasih Tuan, saya permisi.”


Erwin mengangguk, ia memijit kepalanya yang sedikit pusing.


“Dia benar-benar tidak mempunyai sedikit perasaannya terhadapku, bahkan sekedar bertanya apa sudah tiba di rumah saja? Tidak ada sama sekali!” lirih Erwin.


“Apa hatimu sudah mati sekarang? Bahkan sedikit saja kau tidak melihatku yang berjuang mendekatimu,” ucap Erwin dalam hati.


Arrgghh...!


“Kau membuatku hampir gila Nisa,” kesalnya mengacak rambutnya dengan kasar.


Ia menyandar bahunya ke sofa yang empuk dan berpikir sejenak langkah apa yang harus ia lakukan sekarang.


“Huh... Mungkin aku akan pergi ke luar kota, ini lebih baik.” Erwin meyakinkan dirinya.


Erwin kembali menghela napas berat, melihat foto yang ia jadikan wallpaper di ponselnya.


“Maafkan Papa sayang. Ini yang terbaik untuk kita semua,” lirihnya mengusap layar ponsel miliknya.


Erwin mencari nomor Dion asistennya, lalu menghubunginya.


Tut! Tut! Suara panggilan terhubung. Namun, tak kunjung di angkat.


“Shit! Dimatikan! Awas kau nanti,” umpatnya.


Ia sangat kesal karena panggilannya di tolak oleh Dion.


“Ada apa Nak? Kau sepertinya terlihat kesal,” tanya Ayahnya yang turun membawa kopernya.


“Dion membuatku kesal! Panggilanku di tolak, padahal aku menghubunginya ada hal penting yang ingin ku sampaikan.”


“Bukannya Dion sedang di Bali, untuk bulan madu? Ya jelas di tolak, kau menghubunginya di jam yang salah. Saat ini Dion sedang masih berada dalam mimpinya, ini terlalu pagi kau menghubunginya.”


“Ayah tahu dari mana?” tanya Erwin.


“Ayah pernah muda. Apa yang di lakukan Dion saat ini, pernah Ayah lakukan bersama Mamimu,” Tuturnya sambil tersenyum lebar.


“Nanti, kau akan merasakannya juga. Jika kau sudah menikah nanti, jadi sekarang mohon di mengerti ya.”


“Astaga, aku sepertinya salah orang untuk bicara hal ini,” ucap Erwin dalam hati.


“Kenapa diam? Aku benarkan,” tanyanya melihat putranya diam.


“Iya Ayah benar,” sahut Erwin dengan senyum dipaksa.


Perbincangan mereka terhenti, ketika terdengar suara sang istri memanggilnya.


“Ayah ke kamar dulu,” pamitnya.


Erwin mengangguk, ia melihat ayahnya yang sedikit berlari menuju kamarnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2