Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 108


__ADS_3

Selesai mandi, Nisa memakai pakaian tidur. Memberi sedikit body lotion di beberapa bagian tubuh yang di butuh kan.


Nisa keluar dari kamarnya, hendak menuju ke dapur. namun, diurungkannya. Karena sudah berjanji untuk menemui putranya setelah selesai mandi.


“Mama...” sapa Reyhan melihat Nisa masuk.


Erwin yang sibuk menonton di layar ponselnya, teralihkan dengan kedatangan Nisa yang baru masuk. Membuatnya tidak berkedip melihat Nisa, walau hanya memakai pakaian yang sederhana. Akan tetapi, malah menambah kecantikannya.


“Kenapa dia semakin hari semakin cantik? Astaga, dia bidadari dari mana?” gumam Erwin dalam hati.


“Hai sayang. Apa yang kalian lakukan?” tanya Nisa masuk langsung bergabung dengan mereka.


“Sedang menonton Ma, lihat deh seru filmnya,” antusias Reyhan.


“Pa...” panggil Reyhan


Erwin yang kala itu masih memandang Nisa, langsung teralihkan oleh panggilan Reyhan. Beruntung Nisa tidak menyadari akan hal itu.


“Iya sayang. Ada apa?”


“Mama mau ikut menonton Pa,” ucap Reyhan menatap Erwin.


Erwin langsung menyerahkan ponsel tersebut kepada Reyhan, karena Reyhan yang berada di tengah-tengah mereka.


Mereka yang tertawa bersama.


Nenek yang baru saja tiba di depan kamar Reyhan, di urungkan masuk karena melihat keakraban mereka. Niat awal Nenek, memanggil mereka untuk makan malam.


Melihat kebersamaan mereka, nenek bernapas lega.


“Semoga kalian begini terus,” gumam Nenek Dira.


Lalu kembali turun menuju dapur, karena tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.


***


Kembali ke kamar, Erwin melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.


“Sudah hampir malam ternyata,” gumam Erwin.


“Ada apa?” tanya Nisa mendengar Erwin bergumam.


“Aku harus pulang. Ada beberapa pekerjaan yang belum ku selesaikan dan Dion juga pasti sibuk. Karena tinggal menghitung hari, acara pernikahannya.”


“Kalian semua harus datang,” ucap Erwin.


Nisa mengangguk.


“Akan ku usahakan.”


Erwin mengusap rambut Reyhan, mencium beberapa kali pipi gembul Reyhan.


“Papa pulang dulu ya sayang, besok lagi kita bermain,” pamit Erwin.


Wajah Reyhan yang semula senang, langsung berubah menjadi cemberut.


“Yah... Papa. Gak seru ah...” protes Reyhan.


“Papa baru saja datang. Kenapa pergi lagi sih?”


Dengan wajah cemberutnya menyerahkan ponsel milik Erwin.


“Sayang. Papa janji, besok akan menemui mu lagi, oke...”


Reyhan mengangguk paksa.


“Gitu dong... anak Papa yang paling ganteng,” puji Erwin memeluk bocah tersebut.


“Papa janji, besok ke rumah Reyhan lagi. Kita menonton bareng lagi,” ucap Reyhan memperlihatkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


Erwin terkekeh, melihat wajah cemberut Reyhan yang begitu lucu. Erwin memperlihatkan kelingkingnya dan mengaitkan dengan kelingking bocah enam tahun tersebut.


“Papa pergi dulu ya sayang,” pamit Erwin membenarkan pakaiannya yang sedikit kusut.


Melihat Erwin beranjak dari duduknya, begitupun Nisa yang mengikuti belakang Erwin.


“Hati-hati dijalan. Terima kasih juga atas waktunya,” ucap Nisa tanpa sadar.


“Iya,” sahut singkat Erwin.


Erwin menyunggingkan senyum, karena mendapatkan sedikit perhatian dari Nisa.


“Apa kau tidak makan malam dulu?” tanya Nisa ketika sudah memulai menuruni tangga.


Erwin menimang tawaran Nisa. Kebetulan perutnya juga lapar, karena ia juga belum makan dari siang tadi.


Saat di restoran tadi sore, ia ingin makan setelah selesai menyuapi Reyhan. Namun, seleranya langsung hilang ketika melihat Nisa juga ada di restoran tersebut.


Apalagi saat itu, dirinya membawa Reyhan, tanpa sepengetahuannya.


“Boleh,” sahut Erwin.


Terlihat Reyhan juga menyusul mereka menuruni anak tangga.


“Reyhan mau kemana?” tanya Nisa melihat Reyhan yang terlihat terburu-buru menuruni anak tangga.


“Mau menemui Eyang,” sahutnya.


“Pelan-pelan sayang.”


Erwin memperingati agar Reyhan melangkah dengan hati-hati.


“Iya Pa. Papa gendong...” ucap Reyhan berhenti di tengah-tengah anak tangga, sambil merentangkan kedua tangannya.


“Reyhan. Papa cape sayang, Reyhan jalan saja. Kemari Mama gandeng tangannya.”


“Gak mau...” ketus Reyhan.


“Reyhan nya jangan terlalu di manja. Nanti kebiasaan deh...” protes Nisa.


“Kalau sesekali kan gak apa-apa.”


Mendengar sahutan Erwin, Nisa mendengus kesal. Lalu mendahului mereka melangkah.


“Eyang putri...” teriak Reyhan memanggil Nenek Dira yang sedang duduk di dapur sambil menikmati teh hijaunya.


“Iya sayang,” sahut nenek Dira tersenyum.


Nisa lebih dulu duduk di samping neneknya, sedangkan Reyhan duduk bersama Erwin di seberang meja dan beberapa orang pekerja rumah termasuk Toni juga baru datang untuk makan bersama.


Tidak ada batasan di antara mereka, bagi nenek semua sama. Apalagi makan bersama membuat nafsu makan bertambah.


Nisa mengambil piring kosong untuk nenek dan mengambil beberapa lauk pauk beserta nasinya.


Begitupun untuk Erwin dan putranya Reyhan, Nisa menyiapkan nya dengan telaten.


“Terima kasih,” ucap Erwin.


Nisa mengangguk pelan.


Mereka makan bersama, diiringi gelak tawa melihat tingkah Reyhan yang selalu mengoceh.


Selesai makan bersama, kini Erwin berpamitan untuk pulang.


Meski sudah berulang kali Erwin membujuk Reyhan, namun tetap saja ia menangis dengan kepergian Erwin.


“Kenapa Papa pulang? Ini kan rumah Papa juga,” ucapnya masih menahan tangisnya.


“Sayang... papa kerja. Papakan sudah janji, besok akan menemui Reyhan lagi. Papa akan marah, jika Reyhan tidak mendengarkan apa yang Papa ucapkan,” tutur Erwin dengan sangat lembut.

__ADS_1


“Iya Pa maaf. Tapi...” Reyhan menggantungkan ucapannya.


“Tapi apa?” tanya Erwin.


“Tapi, Papa harus membuat adik untukku.”


Mendengar ucapan Reyhan, nenek menahan senyumnya.


“Adik?”


“Iya Pa. Kata teman Reyhan di sekolah, dia mempunyai adik yang sangat cantik sekarang. Mama dan Papanya yang membuatnya, dengan adonan tepung. Gitu pah...” ucap Reyhan polosnya.


“Papa dan Mama juga buatkan adikku untukku yang cantik ya.”


Erwin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjelaskan kepada bocah tersebut.


“Reyhan,” panggil Nisa yang baru keluar untuk menemui putra di teras.


“Mama... benarkan?” ucap Reyhan menghampiri Nisa.


“Benar apa sayang?” tanya Nisa yang masih bingung dengan pertanyaan putranya tersebut.


Nisa melirik Neneknya yang menahan tawanya sambil menutup mulutnya.


“Kata teman Reyhan di sekolah, dia punya adik. Mama dan papanya yang membuatnya pakai tepung.”


Membuat Nisa langsung tersedak.


Uhukk...! uhukk.


Nisa tidak menyangka, jika ucapan temannya yang tempo hari ia tanyakan pada Erwin saat ini. Waktu itu Reyhan juga pernah menanyakan hal itu kepadanya. Namun, ia mengabaikannya.


“I—iya sayang...” ucap Nisa tampak ragu.


Nisa Manahan malunya dengan pertanyaan Reyhan tersebut, di depan nenek dan juga Erwin.


Reyhan Meloncat kegirangan, begitupun Erwin tersenyum melihat Nisa yang tampak canggung.


Dengan Nisa mengiyakan ucapan Reyhan, akhirnya Reyhan mengizinkan Erwin untuk pergi.


Setelah melihat kepergian Erwin, mereka masuk ke dalam rumah. Nisa berpamitan lebih dulu untuk masuk ke ruang kerja bersama Toni.


Begitupun nenek Dira, ia masuk ke dalam kamar dengan senyum yang mengambang di bibirnya.


***


Sudah hampir pukul 11 malam, Nisa dan Toni baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya.


Sebenarnya tidak ada pekerjaan kantor yang mereka lakukan, melainkan membahas tentang seseorang yang kembali menyalah gunakan uang perusahaan.


Toni sudah menemukan siapa dalang yang sudah menyabotase CCTV di kantor.


Toni akan menyerahkan semua kepada pihak yang berwajib besok dengan semua bukti yang ada.


“Anak Mama sudah tidur ternyata,” ucap Nisa saat tiba di kamarnya.


Melihat Reyhan dengan posisi tidur yang tidak beraturan.


“Maafkan Mama nak, mama tidak bisa memberimu adik,” ucap Nisa terkekeh.


Ia sangat malu, dengan ucapan Reyhan yang menginginkan adik di depan Nenek dan juga Erwin.


Dengan polosnya mengiyakan ucapan Reyhan tersebut.


“Ini sangat memalukan!” gumam Nisa yang ikut berbaring di samping putranya.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih banyak dukungan kalian semuanya🙏🙏


__ADS_2