Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 154


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilan, Nadia melihat wajah Reyhan yang cemberut, ia mengerti apa yang dirasakan oleh Reyhan saat ini.


“Kok cemberut? Harusnya Reyhan senang dong, adik Reyhan sudah keluar dari perut Mama.”


“Reyhan mau bertemu adik Reyhan Aunty!”


Reyhan masih cemberut.


“Sayang. Adik Reyhan masih di rawat di rumah sakit, jika sudah sehat nanti pasti adik Reyhan di bawa pulang sama Papa,” ujar Nadia dengan lembut memberi pengertian kepada Reyhan.


“Adik Reyhan sakit?” tanyanya.


Nadia mengangguk.


“Adik Reyhan harus di rawat. Reyhan lihat adik Raka besar bukan? Nah, adik Reyhan harus di rawat karena badan adik Reyhan masih kecil, makanya harus di rawat di rumah sakit.”


“Oh, Biar gemuk seperti Raka?”


“Iya,” sahut Nadia sambil tersenyum.


“Sekarang Reyhan mandi, karena sudah sore. Setelah itu makan bersama Aunty, oke?” ujar Nadia.


Reyhan mengangguk, sebelum beranjak dari duduknya Reyhan mencium Raka terlebih dahulu.


Reyhan memang sangat menyukai anak kecil, terlihat caranya menyayangi Raka putra Dion dan Nadia. Bahkan seharian betah menunggu bayi tersebut, sambil mengoceh tidak jelas kepada bayi tersebut.


***


Beberapa Minggu sudah berlalu, akhirnya putri kembar Erwin sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke rumah.


Karena bayi kembar tersebut kesehatannya sudah stabil, serta berat badannya pun berangsur naik.

__ADS_1


Reyhan yang mendengar adiknya dalam perjalanan menuju ke rumah, senangnya bukan main. Ia bahkan tidak masuk sekolah karena ia ingin yang pertama melihat adiknya tersebut.


Mobil sudah memasuki halaman rumah, Reyhan sejak tadi menunggu di teras bersama nenek Dira dan juga baby Raka yang di gendong oleh nenek Dira.


Terlihat Erwin membuka pintu mobil untuk Maminya yang membawa putri kecilnya dan ada satu suster yang akan merawat bayi kembar di rumah.


Nenek menatap nanar Erwin, yang semakin hari semakin kurus. Bahkan bulu-bulu halus tumbuh di dagunya, dibiarkan begitu saja tanpa berniat mencukurnya.


Sebulan lebih sudah Erwin tidak menginjakkan kakinya di kantor, ia harus bolak balik rumah sakit untuk menemui istrinya yang masih terbaring di bangsal rumah sakit.


Sementara Dion yang mengambil alih pekerjaannya, bahkan sang ayah juga ikut membantu bisnis Erwin yang sedang naik daun, bahkan ayahnya harus meninggalkan bisnisnya di luar negeri dan menyerahkan kepada orang kepercayaannya.


Setelah keluar dari mobil, Reyhan menghampiri Omanya yang menggendong adiknya.


“Oma, adik Reyhan cantik ya,” ujarnya.


“Iya, sayang. Ayo... kita masuk,” ajak Omanya.


Deg!


Langkah Erwin terhenti, sudah lima Minggu lamanya Reyhan tidak bertemu Nisa. Memang Erwin belum menceritakan kepada putranya tersebut jika sang ibu masih terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma.


“Sore kita akan bertemu Mama. Papa akan mengajak Reyhan,” ujar Erwin menggendong putranya tersebut.


“Iya, Pa.”


Reyhan mengangguk senang.


Kedua putri Erwin di bawa masuk ke kamar mereka yang sudah di sediakan sebelumnya oleh Oma dan nenek Dira, bahkan dihias layaknya kamar perempuan.


Saat di kamar, putrinya menangis sangat nyaring, hingga terdengar ke ruang tamu.

__ADS_1


Nadia masuk ke dalam kamar tersebut, ia meminta izin kepada Erwin untuk menyusui bayi tersebut, karena asinya pun berlimpah.


Erwin menyetujuinya, karena kedua putri kembar nya belum pernah merasakan asi ibunya.


Sore hari, Erwin menepati janjinya untuk membawa Reyhan bertemu dengan Nisa. Sebelumnya ia memang melarang Reyhan untuk ke rumah sakit, karena tidak ingin putranya tersebut tertular kuman yang bertebaran di rumah sakit.


Ceklek!


Pintu ruang rawat inap itu terbuka, terlihat Sifa yang selalu setia menunggu kakak iparnya tersebut.


“Pa. Itu Mama?” tanya Reyhan melihat ibunya terbaring.


“Iya sayang,” lirih Erwin.


“Mama sakit Pa?” tanya Reyhan lagi.


Erwin mengangguk, menatap putranya tersebut. Ia membawa Reyhan duduk di samping bangsal tersebut, Reyhan memegang lengan ibunya.


“Sayang, lihatlah. Aku membawa putra kita kemari, apa kau tidak merindukannya?” ujar Erwin menatap wajah istrinya.


Sama seperti sebelumnya, tidak ada sama sekali respon dari Nisa.


“Pa, Mama kok gak bangun? Mama tidur ya,” tanya Reyhan dengan polosnya.


Erwin mengangguk sambil tersenyum paksa menatap putranya tersebut.


Mendengar keponakannya bicara seperti itu, Sifa tidak kuat menahan tangisnya lagi. Ia setengah berlari masuk ke kamar mandi, agar Reyhan tidak melihatnya menangis.


Di dalam kamar mandi, Sifa masih terisak bahkan meminta bantuan kalian untuk memberi dukungan Like dan komennya. 😊😊


.

__ADS_1


.


__ADS_2