Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 115


__ADS_3

Pagi menjelang, matahari tampak malu-malu menampakkan dirinya. Burung-burung kecil berkicau dari balik jendela, seakan bernyanyi menyambut sang rintik hujan.


Suara kicauan burung tersebut, tidak mampu membangunkan dua manusia yang masih betah dalam selimut tebalnya.


Bahkan Reyhan malah menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


Tok! tok!


Suara ketukan dari luar kamar, membuat Reyhan terbangun.


Melirik ke sampingnya, Nisa terlelap tidur dengan mulut yang sedikit terbuka dan ia melihat sekelilingnya, ia baru menyadari jika dirinya tidur di kamar yang berbeda.


Mendengar ketukan itu kembali, Reyhan turun dari tempat tidur, untuk membuka pintu kamar.


“Selamat pagi.”


“Selamat pagi Oma. Oma, Reyhan tidur di rumah Papa? Dimana Papa?”


Tanya Reyhan tidak melihat Erwin di dalam kamar.


“Papa ada di kamar sebelah. Bagaimana dengan Mama Reyhan? Apa sudah bangun?”


Reyhan menggelengkan kepalanya.


“Apa Oma boleh masuk?”


Reyhan mengangguk.


Maminya Erwin masuk ke dalam kamar, dan menutup kembali pintunya. Ia melihat Nisa yang masih terlelap, meletakan telapak tangannya di kening Nisa.


“Syukurlah, badannya tidak panas,” gumamnya.


“Mama, bangun Ma,” panggil Reyhan menggoyangkan badan Nisa.


“Eh sayang, biarkan Mama tidur ya. Reyhan ikut Oma, kita bikin sarapan. Reyhan mau sarapan apa sayang?”


“Mau roti bakar,” ucap polos Reyhan.


“Baiklah, tapi Reyhan harus mandi dulu.”


Reyhan mengangguk dan mengikuti wanita yang ia panggil Oma tersebut.


Namanya Anita, berusia sudah hampir kepala lima. Mempunyai seorang putra dan putri yaitu Erwin dan putri.


Bu Anita dengan telaten memandikan bocah enam tahun tersebut, sebenarnya Reyhan bisa mandi sendiri. Namun, ia tidak membiarkan Reyhan untuk mandi sendiri.


“Apa Reyhan kedinginan?”


“Tidak Oma,” sahutnya.


Ibu Anita, mengambil pakaian Erwin waktu masih kecil di dalam lemari, yang masih bagus dan tersimpan dengan rapi.


“Ini baju siapa Oma?” tanyanya.


“Ini baju Papamu, waktu masih kecil seperti mu.”


Reyhan mengangguk.


Bu Anita melirik Nisa yang masih terlelap, ia mengajak Reyhan untuk keluar kamar.


Beberapa menit kemudian, Nisa mulai mengerjapkan kedua matanya. Melihat sekelilingnya, ia baru menyadari jika dirinya menginap di rumah Erwin.

__ADS_1


“Dimana Reyhan?”


Melihat di sampingnya kosong, ia mulai cemas dan segera beranjak untuk keluar kamar. Saat membuka pintu, terdengar suara gelak tawa putranya yang sepertinya sedang bermain dengan Ayahnya Erwin, kini Nisa bernapas lega dan kembali masuk ke kamar.


Nisa masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, saat bercermin, masih sedikit terlihat luka di sudut bibirnya yang sudah mulai mengering.


Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Nisa mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan wajahnya yang masih ada sisa air.


Namun, ada satu pintu kamar kecil yang menjadi pusat perhatiannya. Ia sangat penasaran apa isi kamar tersebut, Nisa perlahan melangkah menuju pintu tersebut. Pintu tersebut yang pernah nenek Dira buka, saat Reyhan berkunjung ke rumah Erwin.


Ceklek !


Pintu terbuka, karena memang pintu tersebut tidak pernah di kunci.


Nisa membulatkan matanya, di kamar tersebut, tersusun rapi berbagai peralatan dan tempat tidur bayi, yang pernah ia kembalikan kepada Erwin.


Bahkan foto Reyhan yang baru saja lahir hingga saat ini terpajang dengan sangat rapi, kamar kecil tersebut di hias sebegitu indahnya.


Membuat Nisa merasa sangat bersalah, waktu dulu menolak semua Hadiah pemberian Erwin untuk putranya.


Tok ! Tok ! terdengar suara ketukan dari luar kamar.


Nisa segera menutup pintu tersebut, dan melangkah menuju pintu kamar.


Ceklek ! pintu terbuka dengan sempurna.


“Kau sudah bangun?” tanya Erwin yang masih dengan wajah bantalnya.


“Sudah,” sahut Nisa sambil tersenyum.


“Astaga, mimpi apa aku semalam? Pagi-pagi sudah melihat senyum bidadari,” ucap Erwin dalam hati.


“Halo...” panggil Nisa melambaikan tangannya di depan wajah Erwin yang bengong sambil menatapnya.


“Aku baik-baik saja.”


“Luka di kepalamu, bagaimana? Apa masih sakit?”


“Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil,” sahut Erwin.


“Aku ingin mengambil pakaianku di kamar. Apa aku boleh masuk?” tanya Erwin yang melihat Nisa berdiri di depan pintu kamarnya.


“Iya, silahkan.”


Nisa sedikit mundur dari depan pintu kamar.


“Apa Reyhan sudah bangun?” tanya Erwin melihat Reyhan tidak berada di tempat tidur.


“Iya. Reyhan lebih dulu Bangun,” sahut Nisa.


“Oh...” sahut singkat Erwin.


Ia mengambil pakaiannya, dari dalam lemari.


Nisa masih mematung di tempatnya berdiri sebelumnya, sebenarnya ada yang ingin ia tanyakan, akan tetapi masih ragu.


“Kau kenapa?” Tanya Erwin yang melihat Nisa.


Nisa menggelengkan kepalanya.


“Baiklah. Sekarang kau mandi dan bersiap, kita akan ke kantor polisi hari ini dan aku akan meminjam pakaian Mami untuk kau pakai,” ucap Erwin.

__ADS_1


Ia hendak melangkah pergi. Namun, tangannya di tahan oleh Nisa.


Erwin mengerutkan keningnya.


“Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?”


“Tidak. Aku tidak butuh apa pun!”


“Lalu...?” tanya Erwin lagi.


“Ak—aku hanya ingin meminta maaf,” ucap Nisa menundukkan kepalanya.


“Aku sudah banyak membuatmu terluka, bahkan saat kau memberikan hadiah untuk Reyhan, aku begitu jahat kepadamu dan mengembalikan semuanya kepadamu.” tambah Nisa lagi.


Erwin melihat pintu yang ada di kamarnya tersebut.


“Apa kau melihat semuanya?” tanya Erwin menatapnya.


“Maaf, aku sudah lancang membuka pintu itu.”


Erwin menghela napas berat.


“Sudahlah, lupakan. Sekarang kau mandi dan bersiaplah,” ucap Erwin berlalu meninggalkannya.


Nisa menatap kepergian Erwin dengan raut wajah sedih.


“Pasti dia sangat marah. Kenapa aku begitu lancang membuka pintu itu? Astaga... bodoh sekali diriku!” ucap Nisa mengutuk dirinya sendiri.


Nisa duduk di sofa, menghela napas berat.


“Apa Erwin benar-benar marah kepadaku?” lirihnya lagi.


“Huft... aku merasa paling jahat di dunia ini,” ucap Nisa mengingat masa itu, di saat ia sangat membenci Erwin saat itu.


Sudah cukup lama berperang dengan isi kepalanya, Nisa beranjak dari duduknya untuk masuk ke kamar mandi.


Menghabiskan waktu sekitar 30 menit, Nisa mandi. Setelah keluar kamar mandi, ia melihat pakaian wanita yang terlipat rapi di kasur.


“Ini pasti pakaian untukku,” gumam Nisa.


Ia mengambil pakaian tersebut dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


“Baju ini sangat pas di tubuhku,” tutur Nisa melihat dirinya di cermin.


Setalah itu, ia keluar kamar untuk menghampiri putra serta yang lainnya terlihat duduk di ruang keluarga, tak terkecuali Erwin yang duduk dengan secangkir kopi di hadapannya.


“Pagi Tante, om,” sapa Nisa.


“Pagi,” sahut mereka bersamaan.


“Bagaimana keadaanmu nak Nisa?” tanya ayahnya Erwin.


“Sudah merasa baikkan Om,” sahutnya.


Ayahnya Erwin mengangguk mengerti. Sejak kedatangan Nisa ke ruangan tamu, Erwin tampak diam, ia sibuk dengan ponsel di tangannya. Orang tuanya pun, memperhatikan dengan sikap Erwin yang berbeda dengan kemarin.


“Sebaiknya, kita sarapan dulu. Sebelum memulai aktivitas,” ajak Bu Anita.


“Reyhan. Ayo... kita sarapan,” panggilnya kepada Reyhan yang sedang sibuk bermain dengan robotnya.


“Iya Oma.” Reyhan menghampirinya Bu Anita.

__ADS_1


Bu Anita menarik pelan tangan Nisa untuk mengajaknya sarapan, begitupun dengan yang lainnya, mengekori belakang Bu Anita dan Nisa yang lebih dulu melangkah menuju meja makan.


__ADS_2