
Pagi menjelang, suara kicau burung masuk melalu celah-celah jendela.
Suara bel pintu sangat mengganggu tidur Nisa, yang baru saja terlelap dini hari.
“Siapa yang datang bertamu sepagi ini?” dengan malas berjalan membuka pintu kamar nya.
Ia berjalan pelan menuruni tangga, dan segera membuka pintu.
“Pagi cantik.” Erwin memasang wajahnya seimut mungkin.
“Hufft..., untuk apa kau datang sepagi ini ke rumah ku?”
“Hanya untuk menyapa mu dan mengucap selamat pagi, dan aku membawakan sarapan untuk mu.”
“Kenapa repot-repot mengantar ku makanan, aku bisa masak sendiri!” ketus Nisa.
“Jangan galak neng, nanti cantik nya hilang,” goda Erwin.
“Ini,” menyodorkan kotak makanan.
“Terima kasih,” ucap nya sambil menerima makanan di tangan Erwin. Ketika Nisa hendak menutup kembali pintu, Erwin menahan nya dengan kaki.
“Ada apa lagi?”
“Apa suami mu sudah pulang?” tanya Erwin serius.
Terlihat Nisa menarik nafas berat.
“Tidak,” sahut Nisa singkat.
“Baiklah, aku pamit,” ujar Erwin.
“Ada perlu apa kamu menanyakan suami ku?” tanya Nisa, Erwin seketika menghentikan langkah nya.
“Mungkin dalam waktu dekat kamu akan mengetahui nya,” sahut nya dan berlalu pergi. Nisa memandang kepergian Erwin, lalu ia kembali masuk dan menutup pintu.
Baru saja Erwin memasuki mobil nya, terlihat mobil cukup cepat dan memasuki halaman rumah.
Erwin menggelengkan kepala nya.
“Apa dia sudah bosan hidup?” ejek Erwin tersenyum sinis.
__ADS_1
Bara keluar mobil dengan membanting pintu mobil nya, lalu memencet bel rumah dengan tidak sabar.
Nisa yang baru saja meletakkan bungkus makanan, mendengar bel berbunyi yang seperti menekan nya dengan tidak sabar.
“Ada apa lagi sih, mengganggu saja,” gerutu Nisa.
Ia berjalan dengan langkah cepat, membuka pintu.
“Erwin Kam....,” ucapan Nisa terpotong, melihat siapa yang datang.
“Tuan Bara,” lirih nya.
“Lama sekali! Minggir kau...!” bentak Bara mendorong tubuh Nisa, hingga sedikit terpental ke dinding.
Bara masuk ke kamar nya dan menutup pintu kamar dengan keras.
“Ada apa lagi dengan nya? Kenapa ia datang dengan semarah itu.”
Prang... suara benda dari arah kamar Bara hingga terdengar sampai keluar rumah.
Erwin yang mendengar keributan, dengan cepat ia keluar mobil menuju rumah Nisa.
Nisa membuka pelan pintunya, dan melihat Bara berdiri membelakangi nya dengan nafas naik turun menahan emosi.
“Ada apa kau kemari? Apa kau mau cari mati?” bentak Bara.
“A-apa Tuan baik-baik saja?” tanya Nisa dengan gugup.
“Berani sekali dirimu! Masuk tanpa ijin ke kamar ku!” bentak Bara menarik paksa tangan Nisa, lalu mencekik nya.
“Semua ini karena dirimu, perempuan tidak berguna! Karena kau tidak Mau menandatangani surat cerai itu, sekarang aku kehilangan semuanya.”
Tampak Nisa tersengal, mencoba melepaskan tangan Bara dari leher nya.
“le-lepaskan, to-long,” ucap Nisa terbata sambil memukul tangan Bara, saat ini ia sudah tidak bertenaga lagi untuk melawan.
“Sebaiknya kau mati saja!” bentak Bara lagi.
“Lepaskan dia,” teriak Erwin yang tiba saja muncul di depan pintu kamar.
“Kau...!” Bara melepas tangan nya dengan kasar, dan mendorong tubuh Nisa. Dengan cepat Erwin menangkap nya agar tak terjatuh. Nisa terbatuk-batuk, sambil memegang leher nya terasa sakit.
__ADS_1
“kau tidak pantas di sebut manusia!” bentak Erwin dengan wajah memerah menahan amarah.
“Wow, pahlawan sudah datang! Rupa nya kalian sudah bertemu lagi!” ujar Bara tersenyum sinis.
“Ini urusan rumah tangga ku! Kau tidak perlu ikut campur!” bentak Bara menunjuk wajah Erwin.
“Ini menjadi urusan ku, jika kau bersikap kasar kepada wanita,” ujar Erwin menatap nya tajam.
“Ckck..., sok jagoan! Lebih baik kau keluar dari rumah ku sekarang!” bentak Bara.
“Keluar...!!”
“Erwin, tolong keluar lah. Aku bisa menjaga diri ku,” ucap Nisa dengan wajah memohon.
“Ta-tapi...,”
“Please...!” ujar Nisa menangkup kedua tangan nya.
Erwin tidak tega melihat Nisa memohon.
“Baiklah, kamu jaga diri baik-baik.”
“Dan kau, jika terjadi sesuatu pada Nisa. Aku tidak akan membiarkan kau selamat!” Ancam Erwin.
Bara hanya tersenyum sinis, menandakan ia tidak takut dengan ancaman Erwin.
Sebelum keluar kamar, seakan enggan meninggalkan Nisa sendiri. Namun, tak tega melihat Nisa memohon, Erwin melihat Nisa lalu ia benar-benar keluar.
“Rupa nya kau diam-diam bertemu dengan nya?” ujar Bara menatap sinis Nisa. Ia berjalan perlahan menuju ke arah Nisa berdiri.
“Ak-aku tidak sengaja bertemu dengan nya.” Nisa tampak gugup.
Bara mencengkeram kuat bahu Nisa, hingga membuat Nisa sedikit meringis.
“Apa kau tidak paham apa yang ku katakan? Hah!” bentak Bara.
“Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja.”
“Keluar kau dari kamar ku sekarang! Sebelum ku habisi kau!” bentak Bara mendorong tubuh Nisa.
Bersambung...
__ADS_1