Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 38


__ADS_3

“Bara,” lirih nya.


“Akhir nya aku menemukan mu Nis,” ucap Bara tersenyum.


“Menemukan ku?” tanya Nisa bingung.


“Ya, aku sudah mencari mu kemana- mana Nis. Ayo kita pulang, kita bicara kan di rumah,” ajak Bara menarik tangan nya.


Namun, Nisa menarik kembali tangan nya.


“Tidak! Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, besok sidang perceraian kita kan? Kita akan bertemu besok,” ucap Nisa hendak berlalu pergi.


“Nis, Nisa tolong beri aku kesempatan untuk menjelas kan nya.”


“Tidak!” tolak Nisa.


“Tapi aku memaksa!” ujar Bara menatap nya.


Nisa hendak berlari, namun Bara terlebih dulu menangkap nya dan menggendong nya masuk ke dalam mobil.


“Lepaskan!” teriak Nisa.


“Diam lah! Orang-orang pasti akan berpikir aku menculik mu!” bentak Bara.


“Memang kau sedang menculik ku!” teriak Nisa tak mau kalah, sambil memukul bahu Bara dengan kuat. Namun, tidak membuat nya sakit.


“Iya, aku sedang menculik istri ku yang ingin kabur!” ujar Bara tersenyum setelah berhasil membawa Nisa masuk ke dalam mobil.


“Diam di situ, jangan berani keluar! Kau tahu sendiri akibat nya, jika kau berani keluar!” ancam Bara agar Nisa tidak keluar.


Bara menutup mobil, dan ia berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobil.


“Apa mau mu?” tanya Nisa menatap nya sinis. Melihat Bara sudah duduk di kemudi, dan bersiap siap menjalan kan mobil nya.


“Apa mau ku, kamu yakin ingin tahu?” tutur Bara memainkan kedua alis nya.


“Turun kan aku!”


“Tidak!” tolak Bara menambah kecepatan mobil nya.


“Aku akan loncat jika kamu tidak mau menghentikan mobil nya!” ancam Nisa.


“Loncat saja! di jamin kau tidak akan mati, tapi hanya tulang-tulang mu yang akan patah. Setelah kau tidak berdaya, aku akan melempar mu ke laut, untuk menjadikan mu santapan ikan hiu,” ujar Bara tersenyum.


“Dasar gila,” umpat Nisa dalam hati.


“Kenapa diam? Tidak jadi loncat?” tanya nya Bara, lagi-lagi menambah kecepatan mobil nya.

__ADS_1


“Aku akan loncat! Tapi, hentikan dulu mobil nya.”


“Bilang saja kau tidak berani,” ejek Bara.


“Aku berani,” sahut Nisa.


Ia melihat ke arah keluar jendela, ia bergidik ngeri jika dirinya benar-benar loncat, apa lagi Bara dengan sengaja menambah kecepatan mobil nya.


“Ada apa? Sudah siap mau loncat, sebelum itu aku akan menghubungi ambulance terlebih dahulu.”


“Dasar tidak waras,” umat Nisa pelan.


Nisa menyandar kan bahu nya, karena sudah pasrah apa yang akan di lakukan oleh Bara ketika di rumah nanti.


Bara tersenyum, karena sudah mengerjai istri nya tersebut.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka tiba di kediaman Mereka.


Bara melihat Nisa hanya duduk diam, tanpa berniat keluar dari mobil.


“Ayo masuk, apa kau ingin tidur di mobil? Ini sudah malam,” ajak Bara.


Nisa hanya diam, tidak ada keinginan untuk keluar mobil atau membalas ucapan suaminya.


Bara keluar terlebih dahulu, ia membuka kan pintu untuk Nisa berniat ingin menggendong nya.


“Ingin menggendong mu,” sahut nya.


“Aku bisa jalan sendiri!” ketus Nisa. Bara memundur kan sedikit badan nya, melihat Nisa hendak keluar.


“Aku kira kau ingin ku gendong,” ucap Bara terkekeh melihat Nisa cemberut. Bara mengikuti Nisa dari belakang memasuki rumah.


Sesampai nya di dalam rumah, Bara langsung mengunci pintu lalu mencabut kunci nya berjaga-jaga jika istri nya pergi tanpa sepengetahuan nya.


Ia melihat Nisa berjalan menuju kamar nya, dengan cepat ia menarik tangan istri langsung memeluk nya dengan erat.


“Jangan pergi lagi ya,” lirih nya sambil memeluk istri nya dengan erat, hingga membuat Nisa kesulitan bernafas.


“Ba-Bara, kamu ingin membunuh ku?” ucap Nisa tersengal karena kesulitan bernafas sambil memukul bahu Bara.


“Hah, maaf-maaf, aku tidak sengaja,” ucap nya melepas pelukan nya.


Bara kembali memeluk istri nya, sesekali mencium bahu Nisa. Nisa di buat heran dengan sikap suaminya, ia sempat berpikir Bara akan menyiksa nya ketika sampai di rumah.


“Aku merindukan mu Nisa,” ucap Bara pelan.


Nisa hanya diam tanpa membalas pelukan suami nya. Bara melepaskan pelukan nya, lalu mencium kening istrinya.

__ADS_1


“Mandi lah, kau sangat bau,” ejek Bara tersenyum sambil mengusap pipi istrinya.


“Apa yang ingin bicarakan? Bicara lah, aku akan pulang malam ini.”


“Pulang, Pulang kemana? Ini rumah mu? Kau tidak boleh kemana-mana.”


“Bara, kamu tidak berhak melarang ku! Sebentar lagi kita bukan suami istri.”


“Aku sudah membatalkan perceraian itu, bahkan aku sudah menghubungi pengacara ku sebelum kau menyerahkan surat itu kepada ku.”


Nisa melongo mendengar ucapan Bara.


“Jadi, kau masih istri sah ku. Tidak ada perceraian di antara kita!” ucap Bara penuh penekanan.


“Kau keterlaluan! Kamu sudah mempermain kan ku, kenapa tidak kamu bunuh saja aku sekarang!”


“Nis, aku benar-benar ingin berubah. Beri aku satu kesempatan Nisa.” Mengambil kedua tangan istri nya.


Tanpa sadari, bulir air mengalir di pipi istrinya Lalu melepaskan tangan Bara, hendak berlalu pergi ke kamar nya.


Brukk..., Bara terjatuh hingga tak sadar kan diri ke lantai.


Nisa panik melihat suami nya terbaring di lantai, ia menghampiri nya mencoba membangunkan nya dengan menepuk kedua pipinya.


“Bara, Bara bangun, Bara,” panggil Nisa panik, ia Menggoyang kan Bahu suami nya dengan kuat, namun tidak ada reaksi sama sekali.


“Ya ampun, badan nya panas sekali,” gumam Nisa.


Nisa mengambil bantal sofa, untuk menjadi bantalan kepala Bara.


Ia berlari kecil ke dapur untuk mengambil air hangat, Nisa mengambil sapu tangan nya di tas kecil nya. Ia mencelup kan sapu tangan tersebut di baskom yang berisi air hangat, lalu meletakkan nya di dahi suaminya.


Kemudian mengambil minyak telon lalu meneteskan sedikit di jari tangan nya dan meletakkan jari tangan nya di hidung suaminya.


Bara mulai membuka pelan mata nya, yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik istri nya sangat jelas di depan matanya.


“Kamu sudah sadar?” tanya Nisa melihat Bara membuka matanya.


“Oh syukur lah, aku kira kamu mati! Jika beneran mati, mungkin aku sudah jadi tersangka karena dituduh membunuh mu,” ucap Nisa tanpa dosa.


“Kau ini bicara apa sih,” ujar Bara gemas.


Bara perlahan duduk dan Bersandar di sofa. Ia merasakan kepala nya terasa sangat pusing.


“Apa kamu baik- baik saja?” tanya Nisa melihat Bara kembali memejam kan matanya seperti sedang menahan sesuatu yang sakit.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2