
Di sore hari, Bara baru saja keluar kantor bersama karyawan lain karena sudah habisnya jam kerja.
“Hai pak Bara,” sapa wanita cantik dengan postur tubuh bagaikan gitar Spanyol.
Wanita tersebut berdiri di depan pintu mobil milik Bara.
“Iya, hai,” balas Bara dingin.
“Kau karyawan baru ya?” tanya wanita tersebut.
“Iya,” sahut Bara sibuk mencari kunci mobilnya dari dalam tasnya, tanpa menghiraukan wanita tersebut.
“Maaf nona, saya sedang buru-buru.”
“Apa aku boleh menumpang di mobilmu? Roda mobilku kempes,” ucapnya menunjukkan roda mobilnya yang terparkir persis di samping mobil Bara.
Bara melirik mobil yang di tunjuk perempuan tersebut, memang benar rodanya kempes.
“Maaf, bukannya meno---,” ucapan Bara terhenti ketika ada yang memanggil.
“Mira, ayo naik! Kenapa kau berdiri disitu,” panggil seseorang dari dalam mobil.
Bara menatap perempuan itu heran sambil mengerutkan kening.
“Mira, apa yang kau pikirkan? Ayo cepat!” panggil seorang perempuan tersebut, melainkan teman Mira sendiri.
“Ish, gagal deh!” geram Mira dalam hati.
“Nona, teman anda memanggil,” ucap Bara.
Bara heran, Mira seperti mengabaikan panggilan teman perempuannya dari dalam mobil.
“Iya, iya! Tunggu sebentar,” ucapnya kesal dan berlalu pergi meninggalkan Bara.
“Oh, namanya Mira,” Gumam Bara mengangkat kedua bahunya tanda tidak peduli.
Ia bergegas masuk ke dalam mobil, karena sudah berjanji akan ke apartemen pamannya dan juga akan pergi bersama istri ke makam orang tua mereka.
Beberapa menit kemudian, Bara sudah di kediamannya. Sebelum keluar mobil, bara melirik rumah Erwin yang tertutup rapat.
“Kemana si cunguk ini? Beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Huft, kenapa aku jadi memikirkan dia,” gumamnya lalu keluar mobil.
Belum sempat menekan bel, pintu sudah terbuka. Tampak Nisa sudah rapi, dan memakai hijab.
“Sayang, kau kah itu?” tanya Bara tampak pangling melihat penampilan istrinya yang memakai hijab.
“Bukan! Kembarannya kuntilanak,” ucap Nisa sambil terkekeh.
“Kau ini,” ucap Bara gemas mencubit pipi istrinya pelan.
“Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaian ku terlebih dahulu,” ucap Bara menggandeng tangan istrinya masuk ke rumah.
“Iya,” sahut Nisa lembut.
Bara meninggalkan ciuman di kepala istrinya, sebelum pergi ke kamarnya.
Melihat suaminya naik ke lantai atas, Nisa pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya.
“Ayo,” ajak Bara melihat istrinya duduk di sofa.
“Diminum dulu teh nya mas, dan aku hari belajar membuat bolu. Coba cicipi dulu,” ucap Nisa.
Bara melirik ke meja depan sofa, Bara tersenyum lalu ikut duduk di samping istrinya.
“Enak sayang bolunya,” puji Bara menghabiskan setengah.
“Masa?”
Bara mengangguk, lalu Bara mengambil tehnya dan meminumnya setengah.
__ADS_1
“Ayo sayang. Sudah sore,” ajak Bara.
“Ayo,” Sahut Nisa.
Mereka beriringan keluar rumah, tidak lupa Nisa mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
Di perjalanan menuju ke pemakaman, Nisa tampak diam memandang keluar kaca. Melihat istrinya tampak diam, Bara mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya.
Merasa ada yang menyentuh tangan, Nisa menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum.
“Kau kenapa? Sejak tadi hanya diam, apa yang kau pikirkan,” tanya Bara lembut.
“Tidak ada. Aku hanya mengantuk, aku hampir tertidur menunggumu di sofa,” ucap Nisa.
Berulang kali Nisa menutup mulut karena menguap.
“Kenapa kau tidak tidur saja? Aku bisa membangunkan mu,” ucap Bara.
“Mana bisa!”
“Kenapa tidak bisa?” tanya Bara masih fokus menyetir.
“Tidak baik untuk tubuh, jika tidur menjelang sore,” ucap Nisa.
“Oh...”
“Bagaimana hari pertama kerja?” tanya Nisa membenarkan duduknya untuk menghadap suaminya.
“Cukup baik,” ujar Bara.
Ingin rasanya Bara menceritakan kejadian hari ini di kantor, namun di urungnya karena tidak ingin membuat istrinya kepikiran.
“Apa kau tahu? Saat pulang dari kantor, aku bertemu cewek cantik di parkiran,” ucap Bara terkekeh.
Nisa menatapnya tajam.
“Oh, jadi sebab itu pulang terlambat,” ketus Nisa.
“Sayang,” panggil Bara menahan senyumnya.
Tidak ada sahutan dari sang istri.
“Sayang, kau marah?” ujar Bara menghentikan mobilnya, karena mereka sudah tiba di parkiran dekat pemakaman.
Saat hendak membuka pintu, tangan Nisa di tahan oleh Bara.
“Kau marah? Tadi aku hanya bercanda,” ucapnya tersenyum.
Nisa hanya melihatnya, tanpa ingin berbicara.
“Kenapa melihatku seperti itu? Sayang, tadi aku hanya bercanda,” ucap Bara lagi memperlihatkan dua jarinya.
Niatnya ingin mengerjai istrinya, di urungnya melihat suasana hati istrinya yang seperti kurang baik.
“Maaf sayang,” ucap Bara lagi.
“Huft, iya. Sudah lupakan!” ucap Nisa.
“Ayo, sayang.” Ajak Bara.
Nisa mengangguk, lalu mereka turun dan memasuki area pemakaman.
Langkah Bara terhenti, ketika melihat tertera nama ayahnya di nisan. Merasa tidak ada suara langkah yang mengikuti, Nisa berbalik melihat suaminya yang mematung memandang gundukan tanah tersebut.
Nisa menghampiri suaminya tersebut, lalu menggandeng tangannya.
“Mas, ayo. Ayah pasti sangat senang, kita mengunjungi mereka,” ucap Nisa.
Bara mengikuti langkah istrinya, dan berjongkok ketika sudah di depan makam ayahnya.
__ADS_1
Nisa menyatukan tangannya, dan sambil berdoa di dalam hati. Begitupun Bara berdoa sambil memejamkan mata.
Rasa sesal yang amat sangat tampak di wajah Bara, terlihat ada buliran air mengalir di pipinya.
“Ayah, maafkan aku. Aku ini anak yang durhaka, aku benar-benar menyesal ayah,” batin Bara yang masih memejamkan matanya.
Melihat suaminya yang masih khusyuk berdoa, Nisa menaburkan bunga yang sebelumnya mereka beli di dekat parkiran mobilnya.
“Ayah, aku berjanji akan berubah.” Ucap Bara dalam hati.
Setelah selesai membaca doa-doa dalam hati, Bara menyapu tangannya ke wajahnya. Sekaligus menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Ia ikut menabur bunga di pemakaman ayahnya.
Kemudian mereka beralih ke makam orang tua Nisa, yaitu mertua dari Bara.
Seperti sebelumnya, mereka juga berdoa. Setelah selesai, mereka juga menaburkan bunga ke makam kedua orang tuanya.
“Mama, pah. Ini adalah suaminya Nisa mah, kami berkunjung mah. Mama dan papa tenang yah disana,” ucap Nisa dalam hati.
“Pak, ibu. Maafkan aku dulu pernah menyiksa putri kalian, aku sungguh menyesal. Di depan makam kalian, aku berjanji akan menjaga dan membahagiakannya,” ucap Bara dalam hati.
“Sudah?” tanya Bara melihat Nisa mulai berdiri.
Nisa mengangguk.
Bara menggandeng tangan istrinya, menuju tempat mobil mereka terparkir.
“Sayang, kau tidak apa-apa?” tanya Bara melihat istrinya, sejak keluar pemakaman terlihat diam.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya.
Sebelum masuk mobil, mereka mencuci tangan dan kakinya yang sudah di sediakan oleh penjaga pemakaman.
“Kau lapar?” tanya Bara.
“Enggak mas.”
“Baiklah, kita langsung ke tempat paman sekarang,” ucap Bara memasang seatbelt nya.
“Apa kamu lapar?”
Bara menggelengkan kepalanya.
“Oh iya aku hampir lupa.”
Bara mengambil amplop coklat dari dalam dashboard mobilnya dan menyerahkan kepada istrinya.
“Apa ini?” tanya Nisa bingung.
“Ini surat yang kau berikan padaku waktu itu, perusahaan atas namamu yang di berikan paman kepadamu, bukan?”
Nisa membukanya, lalu mengangguk.
“Aku ingin mengembalikannya. Apa kamu tidak keberatan?”
“Tidak perlu bertanya mas, bukan kah sudah ku serahkan semua kepadamu waktu itu. Aku tidak ingin perusahaan ini, aku tidak mengerti sama sekali tentang perusahaan apalagi untuk mengelolanya!” ucap Nisa lembut.
Ia kembali melipat kertas putih tersebut dan memasukkan kembali lalu menyerahkannya kepada suaminya.
“Sayang, aku akan berusaha memberimu lebih dari ini, dengan hasil jerih payahku sendiri,” ucap Bara menatap istrinya.
“Terima kasih sayang. Kamu sudah berubah seperti yang ayah inginkan itu saja sudah cukup bagiku,” ucap Nisa mengelus lembut pipi suaminya.
“Jadi, kau mencintaiku karena ayah saja. Kau tidak mencintaiku dari hatimu,” ucap Bara berpura-pura sedih.
“Tidak, bukan begitu maksudku. Kapan aku bilang tidak mencintaimu?”
“Jadi kau mencintaiku?” tatap Bara serius menunggu jawaban istrinya.
.
__ADS_1
.
.