Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 84


__ADS_3

Di singapura, Nadia baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama kedua orangtuanya.


Setelah selesai membantu ibunya di dapur, Nadia berniat ingin masuk ke kamarnya. Namun, ia melihat pintu ruangan kerja Ayahnya sedikit terbuka. Tak sengaja mendengar percakapan Ayahnya yang ingin ke Jakarta, dalam waktu dekat.


Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, sekilas Ayahnya melihat seseorang berdiri di ambang pintu.


“Nadia,” panggil Ayahnya.


Membuat sang pemilik nama melonjak kaget, dan langsung menoleh.


“I—iya Ayah,” sahut Nadia gugup.


“Apa yang kau lakukan disitu? Masuk lah,” ucap Ayahnya.


Nadia mengangguk, perlahan membuka pintu yang hanya sebagian yang tertutup.


“Apa kamu butuh sesuatu?”


Nadia diam.


“Apa yang kau pikirkan? Ayah bertanya padamu.”


“Apa Ayah akan ke Jakarta? Maaf aku tidak sengaja mendengar Ayah berbicara di telepon.”


“Iya, besok Ayah ke Jakarta. Ada apa?”


“Hm, tidak.”


“Sekarang kembali ke kamarmu, istirahat lah.”


Nadia masih berdiri di tempatnya.


“Nadia,” panggil Ayahnya lagi.


“Iya Ayah.” Berbalik badan membelakangi ayahnya.


“Ayah,” panggil Nadia kembali menghadap Ayahnya.


“Ada apa?” tanya sang Ayah sambil fokus dengan layar monitor yang ada di hadapannya.


“Apa aku boleh ikut bersama Ayah ke Jakarta? Aku ingin bertemu kak Erwin, kemarin aku belum sempat bertemu dengannya.”


“Ada hal penting apa ingin bertemu dengannya?” dengan suara yang mencekam.


“A—aku hanya merindukan kakak saja.”


“Jangan berbohong! Pasti kamu ingin bertemu dengan pembantunya itu kan? Jawab?” bentak Ayahnya.

__ADS_1


“Sudah berapa kali Ayah bilang! Jangan dekat dengannya!” bentaknya lagi.


“Kenapa Ayah? Apa salah dengan kak Dion?! Dia orang baik,” tanya Nadia tak mau kalah.


“Baik kamu bilang. Cih...! kamu hampir saja celaka karena dia!” geram Ayahnya.


“Itu bukan kesalahan kak Dion! Justru kak Dion menolongku waktu itu. kalau tidak, aku tidak tahu nasibku sekarang.”


“Berhenti membelanya! Sekali Ayah bilang tidak, tetap tidak!”


“Kenapa aku harus selalu menuruti Ayah, aku juga ingin bahagia dengan pilihanku sendiri,” Ucap Nadia dengan nada suara yang mulai serak menahan tangis.


“Kenapa kamu bilang?! Aku ini Ayahmu, aku tahu mana yang terbaik untukmu. Semenjak kenal dengannya, kamu berani melawan dengan Ayahmu sendiri!”


“Ada apa ini?” tanya Ibunya yang ada di depan pintu.


Niatnya ingin beristirahat ke kamar. Namun, mendengar keributan ruangan kerja suaminya, ia bergegas ke ruangan tersebut.


“Kau tanya pada anakmu yang manja ini!”


“Ada apa sayang?” tanya Ibunya lembut.


Nadia langsung memeluk Ibunya dan menangis dalam pelukannya.


“Kau terlalu mengekang anakmu. Ingat dia anak perempuan kita satu-satunya, kau selalu saja membuatnya tertekan atas ambisimu itu!” ucap Ibunya masih memeluk Nadia.


“Lempar saja! Kau selalu mengancam akan melemparkan ku. Tapi, sekarang tidak lagi, aku yang akan pergi sendiri dari rumah ini!” ancam istrinya kembali.


“Berani sekali kau!”


Melangkah hendak menampar istrinya. Namun, tangannya di tahan oleh Nadia.


“Cukup Ayah!” pekik Nadia.


“Sudah cukup! Mama selalu jadi tempat kemarahan Ayah,” ucap Nadia dengan mata yang merah menahan amarahnya.


“Kali ini aku tidak akan tinggal diam. Ayah ingin aku bahagia, bukan?!”


Nadia melangkah mengambil pisau buah yang terletak di meja tersebut dan meletakkannya pergelangan tangannya.


“Ini kebahagiaanku!” ancam Nadia.


“Nadia!!” teriak Ibu dan Ayahnya secara bersamaan.


“Nak, jauhkan pisau itu nak! Itu bahaya,” ucap Ibunya dengan suara bergetar.


“Nadia, maaf sayang. Ayah minta maaf, Ayah yang salah. Kita bicarakan ini dengan Baik-baik ya,” ucap Ayahnya dengan suara lembut.

__ADS_1


“Ayah berbohong! Apa aku tidak boleh mengejar cintaku, Ayah? Aku sudah menuruti keinginan Ayah, tapi tidak dengan cintaku, ayah. Hiks ... hiks..!”


“Sayang, maafkan Ayah sudah egois. Maafkan Ayah sayang,” ucapnya dengan perlahan melangkah.


Dan hap, Ayahnya langsung memeluknya. Pisau tersebut berhasil di ambil dari tangannya dan di lempar ke sembarang arah. Ayahnya memeluknya dengan erat, berulang kali ia mencium pucuk kepala anaknya.


“Maafkan Ayah sayang, jangan lakukan seperti ini lagi ya,” Ucapnya dengan suara bergetar.


Melihat mereka berpelukan, ibunya ikut terharu. Walaupun bukan ibu kandung, kasih sayang Ibunya begitu tulus pada Nadia.


Ibu kandung Nadia sudah meninggal dunia saat melahirkan dirinya. Setelah Nadia berusia lima bulan, Ayahnya menikah lagi dengan Ibunya sekarang. Mereka bertemu saat Ayah Nadia memberikan bantuan korban banjir, disaat itu juga Ibunya sebagai relawan kebanjiran, Karena parasnya begitu cantik membuat Ayah Nadia jatuh cinta lagi, dan menikah kembali.


“Sayang. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Ibunya yang begitu khawatir, memeriksa pergelangan tangannya.


“Maaf Nadia mah, sudah membuat Mama khawatir,” ucap Nadia memeluk Ibunya.


“Sudah sayang. Jangan seperti ini lagi ya,” ucap Mamanya mengelus rambut Nadia dengan penuh kasih sayang.


Melihat mereka berpelukan, Ayahnya juga ikut memeluk mereka berdua.


“Mah, maafkan Ayah. Aku tidak bisa menahan amarahku tadi,” bisiknya di telinga istrinya.


Istrinya diam tanpa membalas ucapannya tersebut. Mereka saling melepaskan pelukannya.


“Sekarang siapkan pakaianmu, besok kita akan berangkat,” ucap Ayahnya lembut.


Nadia tersenyum, lalu mengangguk.


“Makasih Ayah,” sahut Nadia.


Kini tinggal Ayah dan Ibunya yang berada di ruangan tersebut.


“Apa kau masih marah padaku?” tanya suaminya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat istrinya menatapnya.


“Kenapa menatapku seperti itu?”


“Kau ingin membuangku kan! Kenapa tidak kau lakukan sekarang?” menatapnya suaminya dengan tajam.


“Sayang, maafkan aku. Tadi aku sungguh di luar kendaliku, aku...”


Belum selesai berbicara, istrinya melangkah keluar meninggalkannya. Membuatnya menghela napas kasar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2