
Selesai makan malam, Bara membantu istri membersihkan bekas mereka makan.
“Istirahat lah, ini sudah malam! Aku tidak mau kau kelelahan,” perintah Bara.
Nisa mengangguk patuh.
Bara Kembali ke kamarnya setelah memastikan Nisa benar-benar masuk ke kamar nya.
Bara melanjutkan dengan sisa pekerjaannya. Namun, tidak dengan Nisa, setelah masuk ke kamar. Ia duduk di balkon yang terhubung dengan kamarnya.
Sudah hampir tengah malam, Nisa masih betah duduk selonjoran di sofa balkon. Sambil memandang indahnya lampu rumah penduduk kota dengan bertaburan bintang di langit menambah keindahan kota itu.
Sama halnya dengan Bara, setelah selesai ia keluar menuju balkon yang terhubung dengan kamarnya sendiri.
Ia berdiri di pagar balkon, dengan memegang segelas kopi sebelah kanannya.
Ponsel Nisa berdering tanda ada panggilan masuk, melihat nama yang tertera di layar ponsel ia tak langsung mengangkatnya.
Suara dering ponsel Nisa begitu nyaring hingga terdengar oleh Bara.
“Dia belum tidur?” gumam Bara.
Bara mendekat ke dinding akan tetapi ia tak mendengar suara Nisa berbicara.
“Siapa yang menghubunginya tengah malam begini?” Gumam Bara menaruh curiga.
Ia meletakkan gelas kopinya di meja, lalu masuk ke kamarnya menuju pintu keluar kamar.
Bara memutar kenop pintu kamar Nisa, yang ternyata tidak di kunci.
“Tidak di kunci?” gumam Bara dalam hati.
Ia masuk menuju ke arah balkon, melihat Nisa sedang berbicara di telepon, tanpa Nisa sadari Bara berdiri di ambang pintu balkon.
“Er, Aku tidak tinggal di situ lagi, aku sudah kembali....” ucapan Nisa terpotong.
Bara mendengar Nisa menyebut nama Erwin, darah Bara seakan mendidih. Bara langsung mengambil ponsel dari tangan istrinya yang masih menempel di daun telinga istrinya.
“Berhenti menghubungi istriku, aku kan sudah bilang! Sekeras apapun kau menyembunyikan istriku, aku akan pasti menemukannya,” bentak Bara langsung mematikan ponsel tersebut dan melemparnya ke atas kasur.
“Bara kamu salah paham! Itu bukan....” ucapan Nisa langsung di sela oleh suaminya.
“Salah paham bagaimana? Jelas-jelas aku mendengar kau menyebut nama Erwin tadi!” bentak Bara.
“Dengarkan dulu aku bicara!” ucap Nisa mulai meninggi.
“Tidak ada yang perlu ku dengar! Jelas-jelas kau menyebut namanya. Kau yang mendengarkan aku, mulai sekarang berhenti berhubungan dengan nya walau sebatas teman ataupun sekedar menyebut namanya dirumah ini.”
Nisa menatap kesal suaminya.
“Terserah!” ucap Nisa kesal.
Ia masuk ke dalam, langsung tidur di kasur menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
“Hei, kenapa kau jadi marah? Aku sedang bicara!”
Bara menarik selimut dengan kasar, terlihat Nisa sedang meringkuk di kasur, dengan cepat Nisa mengusap air matanya yang mengalir membasahi kelopak mata bawahnya.
“Kau menangis?”
Saat Nisa hendak menarik kembali selimutnya, dengan cepat Bara menahannya.
“Maafkan aku, aku tidak bisa menahan amarah ku saat kau menyebut nama Erwin,” ucap Bara merasa bersalah.
__ADS_1
“Maafkan aku,” ucap Bara lagi.
Ia duduk di pinggiran kasur, sambil memegang tangan Nisa.
“Apa perkataan ku tadi sangat kasar? Maafkan aku, aku khilaf.”
Nisa hanya diam, tanpa berniat menjawab pertanyaan suaminya.
“Sayang, kenapa kau diam saja? Bicara lah, kau boleh memukulku.”
Ingin rasanya Nisa memukul nya dengan keras, namun hanya dalam hatinya saja ia tidak benar-benar melakukannya.
Nisa menggelengkan kepalanya, lalu duduk dan bersandar.
Nisa mengambil ponselnya dan memperlihatkan kepada suaminya nama yang tertera di ponselnya yang menghubunginya barusan.
“Erma, Siapa dia? Apa dia...”
“Iya, dia yang menghubungi ku barusan! Dia teman kerjaku, dia mencari ku di kontrakan.”
Ingin rasanya Nisa melempar ponsel tersebut ke wajah menyebalkan suaminya. Namun tidak mungkin ia melakukannya.
Bara terdiam sejenak.
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau yang menghubungimu itu teman mu,” ucap Bara merasa bersalah.
“Apa kamu memaafkan ku?”
“Ingin rasanya aku berkata tidak,” gumam Nisa dalam hati merasa sangat kesal dengan suaminya.
Nisa menarik nafas pelan, lalu membuangnya.
“Iya, aku memaafkan mu,” ucap Nisa tersenyum paksa.
“Kamu tidur disini?”
“Iya, apa aku tidak boleh tidur bersama istriku? Aku tidak melakukan apapun, hanya tidur di samping mu saja,” ucap Bara sambil menarik selimut.
Nisa berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Hm,” deham Nisa merebahkan tubuhnya.
“Apa aku boleh memelukmu?” tanya Bara meminta ijin.
“Hanya memeluk saja?” tanya Nisa gugup.
Bara tersenyum lalu.
“Iya,” sahut Nisa singkat.
Atas persetujuan istrinya, Bara mendekatkan tubuhnya lalu memeluk istrinya yang membelakanginya.
“Aku tidak berani melakukan hal lebih, kalau tidak ada persetujuan darimu.”
Melihat Nisa sedikit menghindar.
“Aku benar-benar minta maaf untuk kesalahanku tadi, aku benar-benar sangat membenci Erwin,” geram Bara.
Nisa hanya diam mendengar ucapan suaminya.
“Apa kau tahu?”
Nisa menggeleng cepat.
__ADS_1
“Erwin menyembunyikan keberadaan mu, aku hampir gila mencari mu selama seminggu ini! Bahkan ia memukul ku tanpa ampun!” Geram Bara.
Nisa mendengar ucapan suaminya tersebut, langsung berbalik badan untuk menghadapnya.
“Memukulmu?”
“Iya!” kesal Bara mengingat kejadian itu.
Nisa baru mengingat bahwa dirinya pernah bercerita kepada Erwin, karena ia benar-benar menganggap Erwin sahabatnya. Namun, ternyata salah.
“Kenapa kau diam? Kau mendengarkan aku bercerita atau tidak!”
“Iya, aku mendengarmu,” sahut Nisa.
“Sudah lah, aku malas membicarakan dia lagi.”
“Iya,” sahut Nisa. Membalikkan tubuh nya menjadi terlentang. Dengan tangan Bara masih melingkar di perutnya, ia sebenarnya risih namun ia mencoba membiasakannya.
“Apa kau tahu?”
Nisa menoleh ke arah suaminya yang masih menatapnya.
“Apa?”
“Aku besok ada interview di salah satu perusahaan, lamaran kerja ku di terima.”
“Oh ya, selamat ya,” ucap Nisa tersenyum.
“Aku ingin memulainya dari awal hidup bersamamu, tolong ingatkan aku jika aku mulai melakukan kesalahan lagi,” ucap Bara mengelus pipi mulus istrinya.
“Mengingatkan katanya, tadi saja tidak mau mendengarkan penjelasanku,” kesal Nisa dalam hati.
“Aku juga membutuhkan semangat dan dukungan dari istriku.”
“Aku selalu mendukungmu, apapun pekerjaanmu asal kan halal,” ucap Nisa lembut sambil tersenyum simpul.
“Terima kasih sayang,” ucap Bara tersenyum sambil mencium kening istrinya.
Dalam dua hari ini, Bara menjadi candu untuk mencium istrinya.
Sepertinya Nisa harus terbiasa dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah, apalagi terdapat serangan ciuman mendadak.
“Cepat tidur lah,” perintah Bara.
Nisa mengangguk, mulai memejamkan matanya.
“Bangunkan aku besok pagi ya dan doakan aku besok interview nya lancar.”
“Iya,” ucap Nisa dengan mata yang terpejam, karena sudah tidak tahan menahan kantuknya.
Bara memandang penuh wajah istrinya saat tertidur, lalu tersenyum.
Perlahan mata Bara juga ikut terpejam, menyusul istrinya ke dalam mimpi.
Mereka tertidur sangat pulas, hingga terdengar alarm Nisa berbunyi menandakan sudah masuk subuh.
Akan tetapi, suara alarm tersebut tidak membangun suami istri ini. Bara masih memeluk erat dari arah belakang istrinya, karena posisi Nisa membelakangi suaminya.
.
.
.
__ADS_1