
“Nenek. Nenek disini?”
“Iya. Apa ini keluargamu?” tanya nenek menyembunyikan kegugupannya, karena sudah lancang membuka kamar tersebut.
“Iya Nek. Ini adalah kedua orang tuaku dan gadis cantik ini adalah adikku.”
“Tapi nenek tidak pernah melihat mereka?”
“Mama dan Papa menetap di luar negeri Nek. Mengurus bisnis disana, dan adikku saat ini juga masih berkuliah disana,” sahut Erwin.
“Adik perempuanmu sangat cantik, wajahnya sangat miripmu.”
“Iya Nek. Satu bibit,” tutur Erwin terkekeh.
“Iya juga sih,” sahut Nenek tertawa kecil.
“Papa. Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Reyhan yang sudah tidak sabar.
“Iya sayang. Ayo Nek,” ajak Erwin.
“Kalian bersenang-senanglah. Nenek tidak bisa ikut bersama kalian,” tolak Nenek.
“Yah, Eyang.” Membuat wajah Reyhan cemberut.
“Pergilah sayang bersama Papa. Eyang mengunjungi restoran sebentar, jika kalian sudah selesai bersenang-senang, temui Eyang di sana. Oke,” tutur Nenek.
“Iya Eyang.”
“Terima kasih sudah mengizinkan ku membawa Reyhan Nek.”
“Iya. Pergilah, nikmati waktu kalian berdua.”
Erwin mengangguk, dan segera mengajak Reyhan pergi.
Begitupun nenek Dira, keluar dari kamar tersebut. Namun, saat di ambang pintu, Nenek kembali melihat pintu kecil yang ada di kamar Erwin tadi.
“Semoga semuanya akan kembali membaik,” lirih Nenek lalu menutup pintu kamar Erwin dan melangkah menuju mobilnya.
***
Di kantor, Nisa masih sibuk memeriksa berkas-berkas penting.
Setelah mengetahui Nisa adalah Cucu kandungnya, Nenek menyerahkan semua bisnisnya membiarkan Nisa untuk mengelolanya. Di usianya saat ini, ia ingin menghabiskan waktunya di rumah dan bermain dengan cicitnya.
“Toni,” panggil Nisa tanpa melihat ke arah Toni yang juga sibuk dengan berkasnya.
“Iya, Nona. Apa ada yang perlu saya bantu?”
“Kenapa laporan keuangan bulan ini selisih banyak dengan yang bulan kemarin?” tanya Nisa.
Toni beranjak dari duduknya, melangkah mendekati meja Nisa.
“Permisi Nona. Coba saya lihat Nona.”
Toni memperhatikan dengan teliti di layar komputer tersebut, ia mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Iya Nona, selisihnya banyak. Sepertinya ada yang tidak beres,” tutur Toni.
“Aku akan mencari tahu Nona, Nona tidak perlu khawatir.”
“Sepertinya, ada yang menyalahgunakan uang perusahaan lagi!” geram Toni.
“Aku akan memeriksa CCTV terlebih dahulu.”
Nisa memerhatikan Toni yang begitu sigap, terukir senyum di bibir ranumnya.
“Iya. Aku serahkan semuanya kepadamu,” sahut Nisa lembut.
Toni yang begitu fokus memperhatikan CCTV, seperti ada yang tidak beres dengan CCTV tersebut.
“Sepertinya, CCTV ini sudah di sabotase Nona. Coba Nona perhatikan, ini rekaman yang di ulang-ulang.”
Nisa memperhatikan layar monitor tersebut.
“Iya kamu benar.”
“Ini pasti orang terdekat Nona. Hanya beberapa orang saja yang tahu letak CCTV ini, karena saya sengaja meletakkannya di area yang tersembunyi.”
“Apa kamu mencurigai seseorang?” tanya Nisa.
“Iya. Tapi belum ada bukti, jika dia benar pelakunya, saya tidak akan tinggal diam!” Geram Toni.
Nisa bergidik ngeri melihat Toni menahan amarahnya.
“Iya, jangan gegabah mengambil tindakan dan pastikan masalah ini jangan sampai nenek mengetahuinya. Aku takut akan mempengaruhi kesehatan Nenek.”
Toni kembali ke meja, karena dirinya dan Toni satu ruangan. Karena Nisa baru dalam hal bisnis, ia begitu membutuhkan Toni untuk mengajari semuanya.
“Toni,” panggil Nisa lagi.
Entah kenapa timbul di pikirannya untuk bertanya kenapa hingga saat ini Toni masih sendiri. Padahal usianya sudah cukup matang untuk menikah.
“Apa anda butuh bantuan lagi, Nona?” tanya Toni lagi.
“Tidak. Aku hanya ingin bertanya saja.”
“Tanyakan saja Nona, tidak perlu sungkan.”
“Apa kamu tidak ingin menikah?”
Mendengar pernyataan Nisa, Toni menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia melirik sekilas Nisa lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
“Toni, apa kamu tidak mendengarku? Aku bertanya kepadamu.”
“Maaf nona, untuk saat ini saya belum ingin menikah!” ujar Toni tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
Nisa mengangkat bahunya dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Toni adalah orang kepercayaan Nenek Dira. Ia merangkap semua pekerjaan, mulai dari urusan kantor dan kebutuhan Nenek Dira.
Semua itu ia lakukan dengan ketulusan hatinya, untuk membalas Budi atas kebaikan Nenek Dira terhadap keluarganya.
__ADS_1
Maka dari itu, hingga saat ini ia tidak ada keinginan untuk menikah.
***
Jam makan siang telah tiba, Nisa lebih memilih makan bekalnya di dalam ruangan. Sedangkan Toni lebih memilih makan di kantin bersama karyawan yang lain.
Begitu banyaknya pekerjaan, membuat Nisa hampir lupa menghubungi Neneknya siang ini. Biasanya ia selalu menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video call.
“Astaga. Aku hampir lupa menghubungi Nenek,” gumamnya menepuk keningnya pelan.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Nisa mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.
Ia menekan Nomor telepon Neneknya, akan tetapi tak kunjung di angkat hingga tiga kali menghubungi Neneknya, tapi tetap sama.
Nisa mulai cemas karena berulang kali menghubungi Neneknya tak kunjung di angkat.
Nisa berinisiatif menghubungi nomor telepon rumah.
Dengan satu kali panggilan, langsung terdengar suara seseorang dari dalam ponselnya.
“Halo, Bi. Apa nenek ada di rumah? Aku sudah berulang kali menghubunginya, tapi tak di jawab.”
“Nyonya sedang tidak ada di rumah Nona. Beliau keluar bersama Reyhan sejak Nona berangkat bekerja.”
Nisa mengerutkan kening, Neneknya pergi setelah ia pergi bekerja, tapi tidak memberitahu dirinya.
“Kemana?” tanya Nisa.
“Saya tidak tahu Nona. Ponsel Nyonya tertinggal di kamar.”
“Oh begitu. Baiklah Bi, terima kasih.”
Setelah mengakhiri panggilannya, tampak Nisa berpikir. Kemana Neneknya bersama putranya?.
“Ini sudah siang? Nenek dan Reyhan belum kembali, kemana mereka?” gumam Nisa.
Tanpa ia sadari jika Toni memperhatikan dirinya yang tampak cemas.
“Ada apa Nona? Apa terjadi sesuatu dengan Nyonya?”
“Toni, apa kamu tahu kemana biasanya pergi? Nenek dan Reyhan belum kembali sejak pagi tadi, dan nenek tidak membawa ponselnya.”
“Sebentar Nona.”
Tampak Toni menghubungi seseorang melalui ponselnya.
“Bagaimana, apa kamu tahu dimana mereka?” tanya Nisa melihat Toni sudah mengakhiri panggilannya.
“Anda tidak perlu khawatir Nona. Nyonya dan Tuan Reyhan berada di restoran sejak pagi tadi.”
“Huft ... syukurlah.” Nisa bernapas lega.
.
.
__ADS_1
.