
Empat hari sudah berlalu, hari ini Nisa diperbolehkan untuk pulang. Setelah selesai mengurus semua administrasinya, Bara mendorong kursi roda menuju parkiran.
Sesampainya diparkiran Bara mendapat telepon dari pihak kepolisian, jika pelaku penabrak istrinya sudah ditangkap.
Bara belum bisa bernapas lega, karena belum bertemu dengan pelaku tersebut.
“Ada apa mas?” tanya Nisa melihat suaminya begitu khawatir setelah menerima telepon.
“Pelakunya sudah tertangkap. Setelah mengantarmu, aku akan langsung ke kantor polisi,” sahut Bara lembut.
“Iya mas.”
Bara mengendarai mobil dengan pelan, tercipta keheningan di dalam mobil tersebut. Tidak ada percakapan diantara suami istri tersebut, mereka terhanyut dengan pikirannya masing-masing.
Selang beberapa menit, mereka tiba di rumah kediaman mereka. Bara dengan hati-hati mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar tamu.
“Untuk sementara, kamar kita disini ya sayang.”
Nisa mengangguk.
Setelah itu, ia kembali ke mobilnya mengambil barang bawaannya. Ia kembali ke kamar, memastikan istrinya meminum obat terlebih dahulu.
“Aku akan pergi sebentar. Istirahatlah,” ucap Bara mengelus pelan kepala istrinya.
“Kamu hati-hati di jalan mas.”
“Iya sayang.”
Bara menarik selimut, menutupi sebagian tubuh istrinya. Ia kembali mencium kedua pipi istrinya, sebelum ia benar-benar pergi.
Bara sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pelaku, ia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menembus keramaian kota.
Beberapa menit kemudian, Bara sudah tiba di kantor polisi dan langsung masuk menemui petugas kepolisian yang ia temui tempo hari.
Polisi tersebut membawanya masuk bertemu sang pelaku.
“Apapun yang terjadi, kami harap Pak Bara bisa menahan emosinya.”
“Iya Pak,” sahut Bara.
Mereka memasuki ruangan tersebut, dimana pelaku sudah lebih dulu berada di tempat tersebut.
“Apa Pak Bara mengenali pria ini?”
__ADS_1
Bara menggeleng kepalanya. “Saya tidak mengenalinya,” sahut Bara dengan nada ramah. Namun, tatapannya sangat tajam melihat pelaku tersebut.
“Apa ada yang menyuruhmu?!” tanya Bara menatapnya tajam.
“Siapa kau sebenarnya?!”
Melihat Bara menatap pelaku dengan tatapan sinis, Petugas Polisi langsung mengajak Bara untuk keluar dari ruangan tersebut.
“Apa ada yang memerintahnya Pak? Kenapa dia tega ingin membunuh istriku?!” tanya Bara.
Polisi tersebut menceritakan semua, sebenarnya pelaku adalah pembunuh bayaran yang selama ini sudah lama menjadi buronan dan terbukti pelaku menerima uang dari seseorang untuk membunuh Nisa.
“Brengsek!!” umpat Bara.
“Siapa dalang dibalik semua ini Pak?” tanya Bara geram.
Polisi tersebut memperlihatkan foto yang berada di ponselnya, pelaku sendiri menunjukkan foto yang memerintahkan dirinya.
Betapa terkejutnya Bara melihat foto tersebut, ia sangat mengenalinya.
“Kurang ajar!!” lagi-lagi Bara mengumpat.
“Kami sudah melacak dimana pria ini berada dan saat ini dia sedang berada diluar negeri. Kami sudah memberitahu petugas kepolisian dan bekerja sama untuk menangkap pelaku.”
Bara menghela napas, lalu mengangguk.
“Saya serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib,” sahut Bara.
“Baik Pak, Terimakasih atas kerjasamanya. Tapi sebelum itu, apa Pak Bara mengenali pria yang ada di foto ini?”
Bara terdiam sejenak, lalu mengangguk ragu.
“I—iya, saya mengenalinya.”
“Baik. Apa dia teman, saudara atau kerabat jauh anda?”
“I—iya, pria itu adik sepupu saya. Ia bernama Reyhan,” sahut Bara.
“Baik Pak Bara, informasi anda sangat berarti bagi kami dan mempermudah untuk penyelidikan kami. Anda harus bersedia menjadi saksi di pengadilan nanti.”
“Iya Pak,” sahut Bara singkat.
“Sekali lagi Terimakasih banyak Pak Bara,” ucap petugas polisi tersebut mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Bara menyambut hangat uluran tangan tersebut, lalu beranjak dari duduknya untuk keluar.
Bara terduduk lemas di kursi mobilnya, menyandarkan bahunya. Ia masih tidak percaya jika dalang dibalik kecelakaan istrinya adalah adik sepupunya sendiri.
Arrgghhh....!
“Brengsek!” umpat Bara memukul setir mobil.
“Apa yang kalian inginkan sebenarnya?! Apa kalian masih Tidak puas? sudah mendapatkan semuanya, brengsek!!” geram Bara di dalam mobil.
“Jika saja aku tidak berjanji kepada istriku, sudah ku habisi kalian semua!” ucap Bara dengan penuh amarah.
Flashback on.
Malam itu, Nisa tampak gelisah tidak dapat memejamkan matanya. Saat itu, Bara baru saja menyelesaikan pekerjaan di laptopnya.
“Ada apa sayang, kenapa jam segini belum tidur?” tanya Bara yang beranjak dari sofa.
“Mas, jika pelakunya sudah ditangkap nanti. Kamu harus berjanji, tidak akan melakukan apapun, serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib dan maafkan dia mas.”
Bara tidak langsung menjawab, ia hanya diam menatap istrinya.
“Mas, kenapa diam? Mas mau berjanji kan?” ucap Nisa menatapnya dengan wajah memelas.
Karena tidak tega, akhirnya Bara mengiyakan.
“Iya,” sahutnya singkat.
“Biar Allah yang membalas semuanya mas,” ucap Nisa dengan lembut.
“Iya sayang, aku berjanji.”
Mendengar tutur suaminya, Nisa tersenyum senang.
Flashback off.
Arrgghh!! “Sialan! Awas kau Reyhan!” umpat Bara.
“Aku tidak akan mengampunimu! Kau selamat sekarang karena Nisa, kau akan menerima akibatnya nanti!” ancam Bara penuh dengan kebencian di wajahnya.
.
.
__ADS_1
.