
Di perjalanan.
Erwin berulang kali mengumpat, karena selalu ada yang pengendara motor di depannya dengan kecepatan rendah.
Sementara dirinya tidak bisa mengendarai mobil dengan cepat, karena terhalang motor tersebut. Berulang kali ia menekan klakson, agar motor tersebut menepi.
“Minggir, bodoh! Apa kau mau mati!” umpatnya sambil menekan klakson.
Motor tersebut akhirnya menepi, membiarkan mobil Erwin melewatinya.
“Dasar orang kaya! Mentang-mentang punya mobil mewah, seenaknya saja! Ku sumpahi kau akan menikah dengan janda!” umpatnya.
Pria tersebut terdiam sejenak, lalu terkekeh dengan ucapannya barusan. Ternyata pria tersebut, mengucapnya tanpa sadar.
“Astaga! Hehehe... kenapa aku berbicara seperti itu?” ucapnya menepuk keningnya pelan sambil terkekeh.
Sepulang dari rumah Nisa, ia begitu sangat kesal. Hari ini Nisa benar-benar membuatnya kecewa.
“Kau benar-benar menutup hatimu! Bahkan sedikit pun kau tidak mau memberikan hatimu untukku! Baiklah, mulai saat ini aku tidak akan pernah menemui mu lagi! aku menyerah, aku menyerah Nisa...” lirih Erwin dengan mata yang sedikit basah.
Erwin mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tanpa memikirkan keselamatannya lagi.
Tak butuh waktu lama, ia tiba di depan rumahnya. Karena kurang fokus menyetir, saat melewati pagar rumahnya, mobilnya menyenggol pagar dan saat itu pagar masih belum terbuka sempurna.
Bruak...!
“Astaga,” refleks satpam berteriak.
“Apa anda baik-baik saja Tuan?” tanya satpam.
“Aku baik-baik saja. Maaf aku tidak fokus, sehingga menabrak pagar. Besok tolong hubungi tukang servisnya,” ucap Erwin dingin.
Satpam rumahnya pun mengangguk, ia melihat Erwin yang tidak seperti biasanya.
“Ada apa?” Tanya Maminya yang berlari keluar rumah, karena mendengar suara yang begitu nyaring.
“Anu, itu... Tuan Erwin menabrak pagar.”
“Oh... aku pikir ada apa? Suaranya begitu nyaring hingga ke dalam rumah.”
“Ada apa?” tanya Ayahnya yang juga ikut keluar menyusul istrinya.
“Kenapa wajahmu kusut begitu?” tanya ayahnya melihat wajah Erwin yang kusut dengan rambut yang acak acakan.
Orang tuanya saling bertatapan sejenak.
“Masuk lah, mandi dan ganti pakaian!” perintah maminya.
Orang tuanya lebih dulu masuk, Erwin pun menyusul mereka.
Orang tuanya menatap heran Erwin, yang masuk tanpa menyapa orang tuanya, bahkan hanya melewati mereka dan masuk ke kamarnya.
“Sepertinya anakmu itu sedang galau!”
“Galau kenapa?” tanya istrinya.
“Mana aku tahu! Coba Mami tanya,” celetuk suaminya.
“Apa ada masalah di kantor?”
“Sepertinya tidak, aku siang tadi ke kantornya. Tapi, semua baik-baik saja,” sahut suaminya.
“Huft... anak ini, sama seperti Ayahnya!” sindir istrinya.
“Apanya?”
__ADS_1
“Kalau mengambek, pasti gak mau ngomong. Semua orang di cuekin! Ah tau... mami pusing!”
“Urus sana anakmu!” celetuk istrinya lagi meninggalkan suaminya.
“Mi, itu anakmu juga. Bukankah kamu juga seperti Erwin, kalau ngambek berdiam diri di kamar? Malah suaminya yang di tuduh!” celetuknya.
“Mami jangan pura-pura lupa deh,” godanya.
“Mami...” panggilnya.
“Apa sih?” teriak istrinya dari dapur.
“Mami ngapain sih, suaminya kok ditinggal?”
“Mau membujuk anak cowok yang manja itu, dengan susu hangat.”
“Oh...”
Bu Anita, menyeduh susu dengan air hangat. Karena cuaca juga dingin akibat hujan sore tadi, segelas susu hangat cukup untuk menghangatkan badan putranya tersebut.
Setelah selesai, ia membawanya ke kamar.
Ceklek...! Bu Anita membuka pintu. Terlihat Erwin yang baru saja berganti pakaian, karena sudah selesai mandi.
“Ada apa Mi?” tanya Erwin tanpa memperlihatkan senyum di bibirnya.
“Mami bawakan susu hangat untukmu. Ini minum lah.”
Meletakkan gelas yang berisi susu tersebut di meja, lalu Bu Anita melangkah ke arah balkon dan menutup tirainya, karena terbuka sebagian.
Melihat Erwin yang duduk di sofa, ia menghampirinya persis duduk di samping putranya tersebut.
“Ada apa Mi? Kenapa melihat ku seperti itu? Aku masih putramu, bukan orang lain yang menyamar.”
Plak...! pukulan langsung mendarat di bahunya.
“Aku hanya memastikan putra ku baik-baik saja. Kalau putraku masih merasakan pukulanku, berarti dia baik-baik saja,” ucapnya sambil tersenyum lebar.
“Huh... mami!” protes Erwin.
“Kamu kenapa sih? Mami perhatiin, sejak masuk rumah wajahnya kusut! Apa ada masalah di kantor?” tanya maminya, walaupun ia sudah tahu jika di kantor tidak ada masalah.
“Tidak ada Mi!” sahut Erwin sambil menyenderkan bahunya.
“Hei anak muda... aku yang mengandungmu selama sembilan bulan, di dalam perutku ini!” ucapnya menunjuk perutnya yang rata.
“Wajahmu itu tidak bisa membohongiku!” tambahnya lagi.
“Ck... Erwin hanya sedang malas saja Mi!”
“Kau berbohong lagi kan!”
Sambil menjewer telinga putranya itu.
“Aw, aw... sakit Mi,” protes Erwin lagi.
“Kau itu sudah tua, tidak cocok kalau kau memasang wajah cemberut.”
“Apaan sih...!” gerutu Erwin.
Bu Anita menghela napas kasar, karena Erwin tak juga bercerita tentang masalahnya.
“Huft... baiklah kalau tidak mau bercerita. Mami hanya mengingatkan mu saja, kalau mami besok akan pulang lagi ke luar negeri, kasihan adikmu sendiri di sana.”
“Kamu adalah putraku lelakiku satu-satunya, sebelum Mami pergi, Mami tidak ingin melihatmu bersedih begini. Ceritakan kepada Mami, sayang,” Tutur nya dengan lembut.
__ADS_1
Erwin menghela napas, ia merebahkan kepalanya di paha Maminya.
“Erwin lelah Mi. Sudah sejak lama, Erwin menunggunya, tapi...”
“Tapi apa sayang? Dia menolak putraku yang tampan ini,” godanya sambil mengelus rambut halus putranya.
“Iya Mi...” lirih Erwin.
“Berjuang lah lebih keras lagi sayang. Air saja mampu membuat batu itu berlubang, jika terus menerus di siram dengan air yang mengalir tanpa henti. Wajar jika dia masih menutup hatinya, mungkin Nisa mempunyai trauma di masa lalu,” ucapnya lembut.
“Aku sudah lelah berjuang, hanya Erwin yang berjuang sendiri. Erwin menyerah Mi.”
“Setelah kau menyerah begini, apa yang kau rasakan?”
Erwin terdiam.
“Sayang, mengejar cinta juga itu butuh perjuangan.”
“Entahlah Mi. Saat ini Erwin ingin menenangkan diri dulu. Setelah Erwin tenang, kita akan pikirkan ke depannya, bagaimana?”
“Baiklah, kalau itu mau mu. Mami akan mendukungmu, asal jangan putus asa.”
“Iya Mi,” sahut Erwin.
“Habiskan dulu susu hangatnya, nanti keburu dingin.”
Erwin duduk, menuruti perkataan maminya, untuk menghabiskan susu yang ada di gelas hingga tak tersisa.
“Istirahat lah sayang.”
Saat Bu Anita hendak beranjak, di tahan oleh putranya tersebut.
“Mi,” panggilnya.
“Ada apa? Apa putraku butuh sesuatu?”
“Aku akan ke luar kota, setelah Dion kembali bekerja. Ada proyek baru disana dan kemungkinan Erwin akan menetap di sana dalam beberapa bulan.”
“Terus, bagaimana dengan Dion? bukan kah Dion sudah menikah, bagaimana dengan Nadia?”
“Kemungkinan besar, Nadia akan ikut dan menyewa apartemen disana,” sahut Erwin menjelaskan.
“Oh... baiklah.”
“Kalian jaga diri baik-baik. Pesan Mami kepada Kalian, selalu bawa orang yang menjaga kalian. Mami tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian, saingan bisnis sangat banyak. Mereka bisa melakukan apa saja.”
“Iya Mi.”
“Sudah... Mami mengantuk. Jangan lupa minum obatmu, setengah jam lagi.”
Erwin mengangguk.
“Oh iya... apa lukamu masih sakit?” tanya Maminya melihat belakang kepalanya.
“Enggak Mi.”
“Lukanya sudah mengering,” ucap Bu Anita melihat luka Erwin yang sudah mengering dan lukanya juga sudah tertutup.
“Baiklah, Mami ke kamar dulu,” Pamitnya.
Erwin mengangguk.
Bu Anita beranjak dari duduknya, melangkah keluar kamar putranya tersebut dan meninggalkan Erwin yang sedang duduk masih menatap kepergian Maminya.
.
__ADS_1
.
.