Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 78


__ADS_3

Di singapura.


Di malam hari, Erwin dan Dion baru saja menyelesaikan meetingnya. Mereka keluar hotel beriringan, karena merasa ada getaran di sakunya, Dion mengambil ponselnya dan membiarkan Erwin jalan lebih dulu.


“Ck..! kenapa dia selalu menghubungiku?!” ucap Dion berdecap kesal, melihat nama Shamila yang tertera di layar ponselnya.


Ia mengabaikan panggilan tersebut, dan menyusul sahabatnya yang lebih dulu. Langkahnya terhenti ketika melihat gadis yang begitu ia kenal, berada di resepsionis.


“Nadia!” gumamnya dalam hati.


“Sedang apa dia disini?”


Tanpa sengaja Nadia juga melihat kearah Dion, sejenak mereka saling beradu pandang. Dion langsung membuang muka dan memilih mengabaikannya dan pergi menuju mobilnya terparkir, tanpa mempedulikan Nadia menatapnya dengan wajah sedih.


Sudah hampir enam bulan, Dion menghindari Nadia. Saat Nadia berkunjung ke apartemen Erwin, Dion memilih mengurung diri dikamarnya dengan alasan banyak pekerjaan yang ia selesaikan.


“Woi...! lama sekali! Aku sangat gerah, ingin segera mandi!” teriak Erwin dari dalam mobil, melihat Dion yang baru memasuki mobil.


“Kenapa kau tidak mandi saja di kamar mandi umum?! Ribet banget hidupmu!” kesal Dion.


“Ck...! kau ini, apa kau tega menyuruhku bos mu mandi di kamar mandi umum.”


“Ya harus tega!” ketus Dion.


Dion menjalankan mobilnya, menuju apartemen mereka, tanpa mempedulikan Erwin yang kesal sejak tadi.


“Kau kemana tadi? Lama sekali!” gerutu Erwin.


Hening sejenak, Dion tak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Erwin, membuat Erwin berdecap kesal.


“Aku melihat seseorang yang kamu kenal di hotel tadi. Ini yang kedua kalinya, aku melihat dia di hotel yang sama,” ucap Dion dengan nada serius.


“Siapa?” tanya Erwin penasaran memutar lehernya melihat Dion.


“Aku tidak ingin berprasangka buruk terhadapnya. Tapi, aku harus memberitahu ini kepadamu! Karena kau adalah seorang kakak.”


“Iya siapa?!” tanya Erwin dengan sedikit membentak.

__ADS_1


“Nadia!” ucap Dion singkat.


Membuat Erwin terdiam sejenak, mencerna ucapan Dion.


“Nadia? Kenapa kau membiarkannya, kalau terjadi sesuatu dengannya, bagaimana?!” Seru Erwin.


“Putar balik!” bentak Erwin.


Dion menghela napas, lalu menuruti Erwin putar balik menuju hotel tersebut.


“Kau ini kenapa sih?! Hanya karena Orangtuanya tidak menyukaimu, bukan berarti kau mengabaikannya dan terus menghindar. Apa hanya segitu perjuanganmu,” ucap Erwin.


“Jika terjadi sesuatu dengan Nadia, aku tidak akan mengampuni mu!”


“Kau tidak pernah mengerti! Karena kau tidak di posisiku!” ketus Dion.


“Cih...! kenapa aku harus mengerti, kau saja tidak mengerti perasaan Nadia!”


“Nadia selalu menangis jika berbicara denganku, karena kau selalu menghindarinya!” tambah Erwin lagi.


Setelah perdebatan kecil mereka di mobil, mereka tiba di hotel yang sebelumnya. Erwin berlari kecil menuju ruang resepsionis, di ikuti oleh Dion.


“Permisi Nona. Apa ada tamu yang menyewa hotel atas Nadia Putri Kusuma?” tanya Erwin.


“Sebentar Pak, saya periksa dulu.”


Petugas resepsionis memeriksanya dengan teliti.


“Ada Pak. Kamar 101,” ucap petugas hotel tersebut.


“Terima kasih ,” sahut Erwin dan langsung pergi menuju kamar yang disebutkan oleh petugas hotel tersebut.


“Kenapa kau mengikutiku?! Bukankah kau tidak peduli dengannya lagi! Pergi kau, pergi dengan keegoisanmu itu!” bentak Erwin namun tidak menghentikan langkahnya.


“Maafkan aku,” lirih Dion masih mengimbangi langkah sahabatnya itu.


Membuat Erwin tersenyum kecut.

__ADS_1


Tak butuh lama, mereka tiba di kamar 101. Karena Erwin sering menginap di hotel ini, ia tak terlalu sulit mencari nomor kamar tersebut.


Berulang kali Erwin dan Dion mengetuk pintu kamar secara bergantian. Namun, tak kunjung di buka. Erwin mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Nadia, akan tetapi panggilan tersebut ditolak.


Erwin merasa ada yang tidak beres, untuk pertama kalinya Nadia mengabaikan panggilan teleponnya.


“Apa kita dobrak saja?” usul Dion karena ia merasa sangat khawatir.


“Jangan gila! Kau mau kita di tuduh mencuri! disini banyak CCTV, bodoh!” bentak Erwin.


“Kau pergi ke resepsionis dan minta kunci cadangan. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan Nadia,” perintah Erwin.


Dion langsung berlari, ia juga tak kalah khawatirnya sama seperti Erwin. Setelah mendapatkan kunci tersebut, tentunya tidak mudah mendapatkan kunci tersebut.


“Ini,” ucap Dion menyerahkan kunci yang berbentuk kartu tersebut.


Klik..! ceklek ! suara pintu terbuka.


Melihat pakaian Nadia yang sudah setengah terbuka, membuat Erwin dan Dion membulatkan matanya.


Dengan cepat Dion menendang pria yang berada di samping Nadia, yang hampir saja melecehkannya. Hingga pria tersebut tersungkur ke lantai.


“Hei, siapa kalian?! Berani sekali mengganggu kesenangan ku!” bentak pria tersebut.


“Kau yang siapa? Berani sekali kau menyentuh adikku! Dalam keadaan tidak sadar,”


“A-adikk?” gumam pria tersebut mulai gemetar.


Dion menutupi tubuh bagian atas Nadia, dengan jaketnya. Lalu menggendong Nadia untuk membawanya keluar dari kamar tersebut.


“Kalian semua akan menanggung akibatnya! Jika terjadi sesuatu dengan adikku!” ancam Erwin menunjuk satu persatu orang yang ada di dalam kamar tersebut.


Ada tiga orang di dalam kamar tersebut, merupakan tiga pria dan tiga wanita termasuk adik sepupunya. Hanya Nadia yang seperti tidak sadarkan diri, terbaring lemas di kasur.


“Brengsek...!” umpat pria tersebut menendang udara.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2