
Pagi yang cerah, secerah wajah Bara yang menuruni tangga sambil bersiul.
Ia tampak bahagia, bagaimana tidak. Setelah istrinya selesai Shalat subuh, ia kembali mengajak istrinya bergelut dan mengacak-acak tubuh istrinya diatas tempat tidur. Nisa pun dengan senang hati melayani suaminya.
“Masak apa sayang?” Tanya Bara memeluk istrinya dari belakang.
“Masak seadanya saja, waktunya tidak cukup!” protes Nisa membuat Bara terkekeh, melepaskan pelukannya.
“Ini sarapanmu, cepat sarapan!”
Nisa meletakkan roti bakar di meja makan.
Bara dengan patuh memakan sarapannya, melihat jam yang melingkar di tangannya membuatnya hanya memakan setengah roti bakar tersebut.
“Sayang, aku sudah hampir terlambat,” ucap Bara menyapu mulutnya dengan tisu.
Nisa menyerahkan tas kecil yang berisi bekal makan siang untuk suaminya.
“Jangan telat makan mas,” ucap Nisa.
“Iya sayang,” sahut Bara singkat.
Bara berjalan keluar rumah, diikuti oleh istrinya.
“Aku sudah hampir terlambat,” gerutu Bara.
“Semua itu karena dirimu!” ucap Bara menunjuk istrinya.
“Apanya?” tanya Nisa heran.
“Kau mengajakku olahraga pagi ini, olahraga yang menyenangkan,” sahutnya tersenyum memainkan kedua alisnya.
Nisa mencubit lengan suaminya, membuat Bara mengelus lengan karena merasa sedikit sakit.
“Cepat berangkatlah!” ujar Nisa tersenyum.
“Baiklah. Kunci pintunya jika aku tidak ada dirumah,” ucapnya mencium kening istrinya, dan mengulurkan tangannya.
Nisa terdiam sejenak, ia masih belum terbiasa dengan sikap Bara saat ini.
“Kenapa diam? Kau pikir aku minta uang jajan lagi!”
“Tidak,” sahut Nisa menggelengkan kepalanya.
Nisa menyambut tangan suaminya dan menciumnya.
“Hati-hati mas,” ucap Nisa.
Nisa kembali masuk ke dalam rumah, setelah melihat mobil suaminya menghilang dari pandangannya. Tidak lupa ia mengunci pintu terlebih dahulu.
Ketika hendak duduk di kursi, bel rumah berbunyi.
Ting, tong.
“Kenapa mas Bara kembali? Apa ada yang ketinggalan,” gumamnya.
__ADS_1
Nisa mempercepat langkahnya untuk membuka pintu.
“Mas, apa ada ya---,” ucapan Nisa terhenti.
“Nenek,” panggilnya dengan tersenyum.
Nisa tanpa ragu memeluk wanita paruh baya tersebut.
“Nenek apa kabar?” tanya Nisa melepaskan pelukannya.
“Nenek Baik, seperti yang kamu lihat sekarang.”
Nisa mengajak nenek Dira masuk ke dalam rumah.
“Maaf, nenek mengganggumu sepagi ini. Kebetulan nenek melewati daerah sini, maka dari itu nenek mampir untuk menemui mu sebentar.”
“Tidak apa-apa nek. Kalau mas Bara berangkat bekerja, aku sendirian di rumah nek,” ujar Nisa mempersilahkan nenek Dira untuk duduk.
“Nisa, nenek sangat haus. Apa boleh aku meminta segelas air putih?”
“Tentu saja boleh nek. Tunggu sebentar nek,” sahut Nisa.
Nisa beranjak dari duduknya, pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan beberapa potong bolu yang ia buat kemarin.
Sementara nenek di ruang tamu, celingukan mencari rambut Nisa di sofa. Akan tetapi, tidak menemukan sama sekali.
“Tidak ada rambut yang jatuh, bagaimana caranya aku mendapatkannya?” gumam Nenek Dira.
“Nenek sedang mencari apa?” tanya Nisa membawa nampan dari arah dapur.
Melihat Nenek Dira seperti sedang mencari sesuatu.
“Nek. Aku belajar membuat bolu,” ucap Nisa menyerahkan piring kecil yang berisi bolu.
“Wah, kelihatannya sangat enak.”
Tanpa ragu Nenek mengambil bolu tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Bolunya sangat enak,” puji Nenek.
“Tapi sayang sekali. Nenek tidak boleh terlalu banyak makan yang manis, alasan kesehatan,” ucap Nenek terlihat sedih.
“Iya nek. Nenek tidak boleh terlalu banyak memakannya, tidak bagus untuk kesehatan nenek,” ucap Nisa tersenyum simpul.
“Kamu sangat cantik jika tersenyum,” ucap Nenek Dira, melihat kecantikan Nisa yang sangat alami tanpa polesan makeup.
“Nenek bisa saja. Nenek juga sangat cantik.”
“Nak Nisa.”
“Iya nek,” sahutnya.
“Nenek membawakan sesuatu untuk kalian berdua,” Ujar nenek mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya.
“Ini,” Ucap nenek menyerahkan sebuah kotak tersebut.
__ADS_1
“Apa ini nek?” tanya Nisa belum mengambil dari tangan nenek Dira.
“Ini untuk kalian berdua, hadiah dari nenek.”
“Hadiah? Tapi nek...”
“Kamu ini! Nenek tidak mempunyai niat jahat, anggap saja ini hadiah pernikahan kalian dari nenek,” ucapnya tersenyum meletakkan paksa di tangan Nisa.
“Tolong diterima,” tambahnya lagi.
“Terima kasih banyak nek,” sahut Nisa.
Saat Nisa asyik berbincang, mata Nenek Dira sungguh jeli melihat rambut Nisa yang jatuh dibahu Nisa.
Ingin rasanya ia segera mengambilnya, namun Nenek Dira ragu. Sejenak berpikir sejenak.
“Nisa,” panggil nenek.
“Maaf, sepertinya nenek harus pergi sekarang,” Pamit Nenek Dira.
“Kenapa terburu-buru nek?”
“Nenek melupakan sesuatu. Hari ini nenek akan ada pertemuan,” ucap Nenek Dira berbohong.
“Baiklah nek.”
Sebelum beranjak dari duduknya, Nenek Dira meminum air putih terlebih dahulu yang sebelumnya ia meminta kepada Nisa.
Mereka jalan beriringan menuju teras rumah, nenek Dira memeluknya erat seakan tak ingin berpisah.
Kesempatan bagus Nenek Dira untuk mengambil rambut rontok Nisa yang menempel dibajunya, nenek Dira menggenggamnya sangat erat.
Mereka melepaskan pelukannya, lalu nenek Dira melambaikan tangannya ketika sudah masuk ke dalam mobil.
“Hati-hati nek,” ucap Nisa membalas lambaian tangan nenek Dira.
Di dalam mobil, Nenek Dira menyerah sampel rambut Nisa kepada Toni.
“Toni, kamu urus semuanya!” perintahnya.
“Baik nyonya,” sahut Toni menyimpan sampel tersebut ke dalam tas kecil miliknya.
“Semoga saja dia memang benar cucuku,” Batin Nenek.
“Toni, bagaimana dengan karyawan baru kita? Bagaimana dengan kinerjanya?”
“Untuk saat ini aman nyonya. Ada Andi yang memantaunya saat ini,” sahut Toni sambil menyetir.
“Ingat ya Toni! Ini berlaku untuk semua karyawan lama ataupun yang baru. Saya tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.”
“Iya nyonya. Saya sudah memberi informasi ini ke pak Zaky nyonya.”
“Bagus,” ucap nyonya Dira menyenderkan bahunya.
.
__ADS_1
.
.