Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 153


__ADS_3

Kini Erwin berada di ruangan kedua putrinya, mereka di tempatkan ruangan yang berbeda dengan Nisa.


Terlihat bayi mungil yang ada di dalam inkubator tersebut, masih dengan mata yang tertutup. Ada beberapa alat yang terpasang di tubuh kecil mereka.


“Anak Papa sangat kuat ya,” ujar Erwin melihat kedua putrinya.


“Mama juga hebat sudah melahirkan kalian sayang, kita akan berdoa bersama ya sayang untuk kesembuhan Mama agar kita bisa berkumpul kembali,” lirih Erwin masih menatap kedua putrinya secara bergantian, karena bayi tersebut di tempatkan di inkubator yang berbeda.


***


Di rumah.


Reyhan tampak masih bermain dengan putra Dion, apalagi bayi tersebut sudah membuka matanya. Bayi tersebut menatap Reyhan yang mengajaknya berbicara, ada senyum di bibir bayi tersebut seakan mengerti apa yang Reyhan bicarakan.


“Aunty, Adek Raka senyum loh lihat Reyhan berbicara,” ujarnya melihat Nadia yang baru masuk ke dalam kamar.


“Oh ya? Berarti adik Raka sudah bisa lihat Reyhan dong,” sahut Nadia sambil tersenyum.


Reyhan kembali mengoceh kepada bayi tersebut.


“Aunty. Nanti adik Reyhan seperti adik Raka juga, Aunty?”


“Iya, dong sayang.”


Reyhan mengangguk mengerti.


“Aunty. Bentar ya, Reyhan mau cari Papa dulu!” ujar Reyhan beranjak dari tempat tidur.


Karena sebelumnya ia berbaring di samping Baby Raka.


Seketika itu, Nadia tersadar jika Erwin saat ini sedang berada dirumah sakit.


Saat ini Reyhan tidak mengetahui jika Nisa saat ini di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


“Reyhan, tunggu! Papa lagi kerja sayang,” Ujar Nadia berbohong.


“Oh. Coba hubungi Papa Aunty, Reyhan mau tanya Papa.”


Nadia mengangguk kepalanya yang tidak gatal.


“Aunty,” panggil Reyhan lagi.


“Hah iya,” sahut Nadia yang terpaksa menghubungi suaminya. Karena Erwin tidak membawa ponselnya.


Tut! Tut!


Suara panggilan video tersambung.


“Hallo,” ujar Dion memperlihat wajahnya di dalam ponsel tersebut.


“Sayang. Reyhan mencari kak Erwin,” ujar Nadia sedikit berbisik.


“Sebentar,” Ujar Dion menyerahkan ponselnya kepada Erwin.


Terdengar jelas oleh Nadia dari dalam ponsel.


“Reyhan,” sahut Dion.


“Hallo, Reyhan.”


“Reyhan. Ini Papa,” ujar Nadia menyerahkan ponselnya kepada Reyhan.


“Halo Papa,” Ujar Reyhan melambaikan tangannya tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.


“Iya sayang. Reyhan sedang apa?” tanya Erwin.


Ia berusaha tidak memperlihatkan wajah sedihnya.

__ADS_1


“Lagi temani Raka. Pa, nanti Reyhan juga punya adik seperti Raka?” tanya Reyhan.


Membuat hati Erwin terenyuh, Reyhan belum mengetahui jika adik kembarnya sudah lahir.


“Iya, sayang. Reyhan bersama adik Raka ya dirumah,” ujar Erwin dengan suara bergetar.


Saat berbicara dengan Papanya, Reyhan tidak sengaja menangkap Sifa yang duduk di samping papanya.


“Papa dimana? Kok ada Aunty Sifa, Reyhan tidak di ajak!” seru Reyhan memasang wajah cemberut.


“Papa di rumah sakit, sayang. Adik Reyhan sudah lahir,” ujar Erwin.


“Papa, Reyhan mau ikut. Jemput Reyhan Pa, Reyhan mau melihat adik Reyhan,” rengek Reyhan.


“Adik Reyhan masih di rawat sayang, anak kecil tidak boleh masuk ke rumah sakit. Reyhan tunggu di rumah saja ya,” bujuk Erwin.


“Tapi, Pah. Reyhan mau melihat adik Reyhan sekarang,” ujar Reyhan.


“Sayang, Reyhan anak pintar. Jadi, kalau Papa bicara tidak boleh, berarti...” Erwin menggantungkan ucapannya.


“Tidak boleh,” lirih Reyhan.


“Anak pintar,” Ujar Erwin.


“Sekarang Reyhan mandi, karena sudah sore. Oma dan Aunty Sifa juga sebentar lagi akan pulang,” tutur Erwin masih menatap putranya dari ponsel.


“Iya Pah. Tapi, Papa nanti bawa pulang adik Reyhan ya, Pa.”


Erwin mengangguk.


Erwin mengakhiri panggilan video tersebut, tampak Reyhan masih duduk memasang wajah cemberut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2