Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 53


__ADS_3

“Jadi kau mencintaiku?” tatap Bara serius menunggu jawaban istrinya.


“Sebentar lagi magrib mas,” ucap Nisa mengalihkan pembicaraannya.


Ada raut kecewa terlihat di wajah Bara, ia menghidupkan kembali mobilnya.


“Sebenarnya, aku juga mempunyai perasaan terhadapmu. Entah mulai kapan perasaan itu mulai muncul, saat ini aku masih malu untuk mengungkapkannya,” ucap Nisa dalam hati sambil melirik suaminya yang fokus menyetir.


“Kenapa melirikku seperti itu,” tanya Bara.


Walaupun ia tak melihatnya secara langsung, akan tetapi ia tahu bahwa istrinya sedang meliriknya.


“Tidak ada,” ucap Nisa memalingkan wajahnya, menahan malu.


“Kita akan belanja setelah pulang dari rumah paman.”


“Iya,” sahut Nisa.


Sebelum magrib, mereka sudah tiba di Apartemen pamannya. Pamannya menyambut mereka dengan senang.


“Akhirnya kau datang juga, paman sudah menunggumu sejak tadi.”


“Kau membawa Nisa ternyata,” ucap paman tersenyum paksa. Ia sedikit terkejut melihat Nisa ikut bersama suaminya, ia berharap Bara datang sendirian.


“Maaf paman, kami mampir sebentar ke makam,” sahut Bara mengulurkan tangannya.


Bara dan Nisa bergantian mencium punggung tangan paman Ridwan.


Ridwan cukup terkejut melihat perubahan sikap Bara.


“Bara, kau sudah berubah dan semakin dewasa sekarang,” puji pamannya.


“Ini semua berkat istriku,” ucap Bara melirik istrinya.


“Silahkan duduk, aku akan meminta Bibi membuatkan kalian minum,” ucap paman.


Paman Ridwan pergi sejenak ke dapur, untuk meminta asisten rumah tangganya membuatkan minum.


“Sayang,” bisik Bara di daun telinga istrinya.


“Apa?” tanya Nisa sedikit menjauh karena terkejut melihat Bara yang tiba-tiba berbisik.


“Tidak ada, hanya memanggil saja,” ucap Bara cengengesan.


“Gila,” gumam Nisa kesal.


“Awas kau di rumah nanti, berani sekali kau mengatakan aku gila!” ancam Bara.


Namun, tidak membuat Nisa takut, ia malah mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda suaminya.


“Pintar sekali kau sekarang yah!” ucap Bara yang hendak mencium istrinya.


Terlihat ada bayangan pamannya datang, hingga niatnya yang ingin mencium istrinya tertunda.


“Nisa, apa kau tidak keberatan? Jika aku meminjam Bara sebentar. Ada hal penting yang ingin bicarakan,” ujar pamannya.


Sejenak suami istri saling berpandangan, lalu Nisa mengangguk.


“Iya paman, aku akan menunggu disini,” ucap Nisa tersenyum.


“Ayo, Bara. Kita bicara di balkon,” ajak paman Ridwan.


“Sebentar ya sayang,” ucap Bara berpamitan dengan istrinya dan mengikuti pamannya dari arah belakang.


Tidak lama, datang Art membawakan jus orange beserta camilannya.


“Terima kasih mba,” ucap Nisa.

__ADS_1


“Iya, sama-sama nona. Saya permisi,” pamit Art tersebut.


Nisa mengambil gelas yang berisi jus tersebut, hingga meminumnya setengah. Karena dirinya memang sangat haus.


Hampir empat puluh menit, Nisa menunggu di ruang tamu. Akan tetapi tiada tanda-tanda suaminya datang.


Nisa melirik jam yang ada dilayar ponselnya, menunjukkan sudah masuk untuk Shalat magrib.


Nisa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, dan beranjak dari duduknya menuju ke dapur untuk mencari Art.


“Mba,” panggil Nisa melihat Art nya sedang memasak.


“Iya nona. Apa nona butuh sesuatu?” tanya Art tersebut.


“Apa boleh saya meminjam mukena, saya mau Shalat. Saya tidak membawa mukena,” ucap Nisa kepada Art yang berhijab tersebut.


“Ada nona, tunggu sebentar saya ambilkan di kamar saya,” sahutnya.


“Ini nona,” ucapnya menyerahkan mukenanya dan menunjukkan ruangan tempat beribadah.


Nisa melakukan Shalat dengan khusyuk, di iringi doa-doa yang di panjatkannya. Selesai melakukan Shalat, Nisa kembali duduk di ruangan tamu seperti sedia kala.


“Mereka belum selesai bicara? Sepertinya sangat serius,” batin Nisa.


Nisa mengambil ponselnya, membuka tutup layar ponsel membuatnya merasa bosan.


Nisa melihat ke arah dapur, ada lorong yang terhubung dengan balkon.


“Aku sangat bosan!” gumamnya.


Nisa beranjak dari duduknya, berjalan ke arah balkon yang terlihat dari ruang tamu.


“Indah sekali,” ucap Nisa melihat lampu kota, di tambah lagi malam itu sangat cerah banyak sekali bintang-bintang bertaburan seakan mengelilingi bulan yang bersinar terang.


Samar-samar Nisa mendengar perdebatan antara Bara dan pamanya.


“Bara, Bara. Dengarkan dulu paman bicara, Bara!” panggil Ridwan dengan berteriak hingga terdengar sangat jelas oleh Nisa.


Melihat situasi tersebut, Nisa kembali masuk ke ruang tamu, takut ketahuan oleh paman dan suaminya.


Nisa kembali duduk seperti sedia kala, tampak Bara keluar dengan sedikit menahan amarah.


“Mas, kam---,” ucapan Nisa terpotong ketika Bara langsung menarik tangannya.


“Ayo kita pulang!” ucap Bara dengan sedikit membentak.


“Hah, kenapa pulang? Mas minum du--,”


“Apa kamu tuli? Hah!” bentak Bara.


Nisa terdiam menatap suaminya.


“Apa yang kau lihat? Kau mau tetap disini!”


“Tidak. Aku ikut denganmu,” sahut Nisa lalu mengambil tasnya.


Bara mendahului istrinya dan menunggu di depan pintu keluar.


“Mas, apa sebaiknya kita berpamitan dengan paman dulu?”


“Kau ini banyak bicara!” bentak Bara lagi.


Mendengar bentakan dari suaminya, nyali Nisa menciut. Nisa berjalan Mendahului suaminya tanpa peduli Bara yang sejak tadi menatapnya dengan amarah.


“Apa salahku?” Batin Nisa sesekali menyeka air matanya yang lolos begitu saja.


Ketika di dalam lift, Nisa dan suaminya sama-sama terdiam tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.

__ADS_1


Nisa dengan posisi bersandar sambil melipat kedua tangannya. Sesekali Bara melirik istrinya yang tampak terdiam.


Mereka keluar lift, menuju dimana mobil mereka terparkir. Nisa berjalan mendahului nya, menuju mobil mereka.


Nisa terlebih dahulu masuk, disusul oleh suaminya. Bara melihat istrinya menatap kearah depan, ada rasa bersalah karena sudah membentak istrinya.


“Sayang, kau marah?” Tanya Bara.


Nisa masih terdiam.


“Apa kau sedang datang bulan?”


Nisa mengerutkan keningnya, ia heran kemana arah pembicaraan suaminya.


“Kalau wanita sedang datang bulan, biasanya mudah emosi,” ucap Bara lagi.


“Kamu yang datang bulan mas!” ketus Nisa.


Membuat Bara terkekeh.


“Apa dia tidak sadar? Bukan kah dia sendiri yang marah-marah!” ucap Nisa dalam hati.


Bara melepaskan seat belt yang sempat ia pasang, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.


“Maaf sayang, maaf aku sudah membentakmu tadi.”


Bara berulang kali mencium wajah istrinya, lalu memeluknya erat.


“Maaf, aku tadi di penuhi emosi.”


Nisa mengangguk, ingin rasanya ia bertanya ada masalah apa hingga membuat dirinya begitu emosi. Namun, diurungkan nya, melihat situasinya benar-benar tidak tepat. Apalagi ia samar-samar mendengar perdebatan antara suami dan pamannya, walaupun ia belum tahu masalahnya.


Nisa mengangguk dan membalas pelukan suaminya.


“Ayo, kita berangkat. Bukankah kita ingin belanja,” ucap Nisa mengelus bahu suaminya.


“Oh iya, aku hampir lupa.”


Bara melepaskan pelukannya, lagi-lagi mencium pipi istrinya sebelum benar-benar duduk di kursinya.


“Ini minum dulu,” ucap Nisa memberikan air mineral mini.


“Kau membeli minum dimana?” tanya Bara tangan masih memakaikan seat belt nya.


“Aku membawa dari rumah paman tadi,” ujar Nisa cengengesan.


“Kau ini! ada-ada saja,” sahut Bara menggelengkan kepalanya.


“Tolong bukakan,” perintah Bara sambil menghidupkan mesin mobilnya.


“Manja sekali,” gumam Nisa namun terdengar oleh suaminya.


“Kau bicara apa?”


“Tidak ada! Ini minumlah, nanti kamu pingsan karena kehausan! Akibat marah-marah tidak jelas," sindir Nisa.


Mendengar ucapan istrinya, bukannya marah, ia malah terkekeh.


“Kau ini!” ucap Bara mengambil botol di tangan istrinya dan meminumnya hingga habis.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2