Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 96


__ADS_3

“Sungguh miris, aku mengasihani diriku sendiri!” kesal Erwin melihat wajahnya di cermin.


Erwin membasuh wajahnya, di wastafel yang berada di kamar mandi.


“Papa ...” suara panggilan itu selalu terngiang ngiang di kepala Erwin.


Dirinya memang belum pernah mempunyai seorang anak sebelumnya. Namun, jiwa seorang ayah muncul ketika pertama kali melihat Reyhan lahir. Bahkan saat itu Erwin lah yang azan di telinga Reyhan.


“Maafkan Papa Rey, untuk saat ini kita tidak bisa bertemu. Tapi Papa janji, akan membawamu serta ibumu untuk masuk ke dalam hidupku. Papa janji,” gumam Erwin dengan tekad kuat.


“Aku akan berusaha, sampai titik darah penghabisan,” gumamnya penuh dengan semangat.


Erwin berbicara sendiri melihat wajahnya di cermin, ia bertekad untuk mendapatkan kembali hati Nisa.


***


Di ruangan, Dion masih fokus dengan layar monitornya. Membuat calon istrinya berdecap kesal.


“Kak, masih lama? Ini sudah sore, kenapa Kaka masih kerja?” kesalnya melihat Dion masih menetap layar yang datar tersebut.


“Iya, sebentar lagi selesai.”


“Apa ayahmu ikut bersamamu?” tanya Dion mulai merapikan berkasnya.


“Tidak. Ayah akan datang saat mendekati hari pernikahan kita saja. Jangan tanya kenapa! Ayah begitu banyak perkerjaan, yang harus di selesaikan sebelum tanggal pernikahan kita.”


Dion tersenyum.


“Iya, aku mengerti.”


“Sudah selesai?” tanyanya melihat Dion sudah merapikan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.


“Iya sayangku Nadia Putri Wijaya Kusuma,” ucap Dion menyebut nama lengkap calon istrinya.


“Hm,” deham Nadia.


Dia adalah wanita yang Dion tunggu sejak dulu, proses panjang yang mereka lalui, begitu banyak rintangan yang mereka hadapi, hingga akhirnya Ayahnya menyerah dan merestui hubungan mereka.

__ADS_1


Flashback on


Setelah kepergian Shamila untuk selamanya, Dion sempat terpuruk. Karena di hari pernikahannya, bukannya kebahagiaan yang ia dapatkan justru harus kehilangan wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut.


Ia memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap Shamila. Namun, ia mengagumi kebaikan seorang Shamila. Yang justru Shamila lah yang mencintai dirinya.


Erwin tak tega melihat kehancuran sahabatnya tersebut, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertindak.


Tanpa sepengetahuan Dion, Erwin pergi menemui Pamannya yaitu Ayah Nadia. Sesampainya di Singapura, Erwin masuk ke dalam rumah Pamannya tampak sepi.


Beberapa kali Erwin menghubungi nomor ponsel Pamannya, tapi tidak di angkat begitupun dengan Nadia.


Erwin bertanya kepada asisten rumah tangga.


“Bi kemana semua orang?”


“Tuan dan Nyonya pergi ke pernikahan dan nona Nadia masih di kamar, belum keluar sejak pagi tadi,” sahut Pembantu tersebut.


“Baiklah, aku akan ke kamarnya. Terimakasih Bi,” ucap Erwin.


“Nadia, jam segini belum keluar kamar? Apa yang dia lakukan?” gumam Erwin merasa curiga.


Ia berlari kecil menuju kamar sepupunya tersebut, beruntung pintu tersebut tidak terkunci.


Alangkah terkejutnya, melihat Nadia sudah tergeletak di lantai dengan mulut yang berbusa.


“Nadia !” teriak Erwin.


Melihat sepupunya tersebut masih kejang-kejang, Erwin langsung menggendongnya untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Nadia langsung di tangani oleh Dokternya langsung, beruntung nyawanya masih bisa tertolong.


Erwin mencoba menghubungi Pamannya lagi, setelah sekian lama menghubungi, pamannya mengangkat panggilannya.


“Halo, Paman. Apakah Paman bisa ke rumah sakit? Nadia sedang di tangani Dokter, Nadia melakukan percobaan bunuh diri,” ucap Erwin.


“Apa ...! iya aku akan kesana,” sahut Pamannya dengan suara panik.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Ayah Nadia tiba di rumah sakit. Dokter menjelaskan kepada mereka jika Nadia sudah melewati masa kritisnya.


“Lihatlah, apa yang Paman lakukan? Paman hampir membunuh putri Paman sendiri! Aku tidak habis pikir, karena keegoisan Paman nyawa Nadia hampir melayang.”


Pamannya hanya terduduk diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Karena apa yang Erwin katakan adalah benar adanya.


“Maafkan Paman. Paman sungguh menyesal.”


“Jangan meminta maaf padaku Paman. Minta maaflah kepada kedua orang yang saling mencintai, tetapi tak bisa bersatu karena keegoisan Paman.”


“Paman, restuilah mereka. Tidak ada yang paling bahagia, selain melihat keluarga kita saling menerima satu sama lain.”


“Iya, Paman sungguh menyesal. Terimakasih sudah mengingatkan Paman, ayahmu pasti bangga mempunyai putra sepertimu. Maafkan Paman,” tutur Pamannya dengan penuh rasa penyesalan.


“Paman berjanji, setelah Nadia pulih. Paman akan bicara dengan Dion dan Nadia.”


“Aku pegang janji Paman!”


Pamannya mengangguk.


“Aku permisi Paman. Aku harus kembali ke Jakarta, ada pekerjaan penting yang harus ku selesaikan.” pamit Erwin.


“Hati-hati dijalan Nak,” ucap Lamanya memeluk Erwin.


“Iya Paman, jaga putri Paman. Jangan sampai ia mengulang perbuatannya lagi.”


“Pasti,” Sahut Pamannya.


Beberapa Minggu sudah berlalu, Pamanya benar-benar membuktikan ucapannya. Ayahnya Nadia merestui hubungan mereka dan bahkan menetapkan tanggal pernikahan untuk , yang akan di gelar di Jakarta.


Flashback off.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2